Jumat, 18 Januari 2013

Mengapa Menjadi Teroris?




Jangan kaget jika, suatu saat anak anda ditanya cita-citanya jika besar nanti, jawabnya “ingin, menjadi teroris.”

Saya teringat,sekitar dua puluh tahun lalu, dua anak perempuan rekan sekerja saat ditanya cita-citanya, “ ingin menjadi penjahat.” Saya tak tahu ide dari mana jawaban kedua anak itu. Bahkan orang tuanya pun tidak tahu. Saat itu yang terpikir, “ah, itu kan cuma pikiran anak-anak.”
Saat masih remaja dan aktif dalam organisasi pelajar berciri keagamaan, saya dijejali pikiran dengan moto “hidup mulia atau mati syahid.”  Moto tersebut sampai sekarang masih saya jumpai di tempat saya dibesarkan. Bahkan di pangkalan ojek depan kampung saya tertulis besar-besar moto itu lengkap dengan Bahasa Arabnya “hayatunkariman aw mautan syahidan.”

Ide dalam moto itu terdapat dua pilihan “terpaksa”. Saya sempat menduga motivasi seseorang menjadi teroris itu “terpaksa” karena miskin atau hidup susah. Artinya jika hidup mulia, kaya bisa bantu banyak orang, berkedudukan tinggi tapi tidak korupsi dan berbuat bagi masyarakat, tidak perlu “berjuang” mengangkat senjata di medan perang atau syahid. Sedangkan, jika hidup susah, lebih baik “berjuang di jalan Allah” (fisabilillah). Karena dalam konsep  zakat, fisabilillah termasuk yang mendapat hak bagian (mustahiq).

Bahkan Presiden Amerika Serikat George W.Bush dalam pidatonya di Monterey, Mexico, 22 Maret 2002, mengatakan, “kami berjuang melawan kemiskinan, sebab itu harapan untuk menjawab terorisme.” Komentar serupa juga datang dari Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, dalam pernyataannya pada 12 November 2001, mengatakan,”…negara gagal, kemiskinan dan pemutusan hubungan kerja (PHK) menyumbang adanya terorisme.” Sejumlah nama terkenal seperti Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan, Raja Yordania Abdullah, bahkan ahli dari Kennedy School, Jessica Stern yakin kemiskinan sebagai penyebab terorisme.

Namun, pemikiran itu ternyata terbantahkan. Menurut Alan B.Krueger dalam bukunya What a Makes Terrorist, sejumlah orang dalam penelitiannya menjawab menjadi teroris adalah pilihan hidup, cita-cita atau karir, seperti menjadi dokter, pengacara, insinyur, pilot dan jenis pekerjaan lain.
Istilah terorisme mengemuka kembali setelah penyerangan gedung kembar di New York, 11 September 2001. Seharusnya Bush bisa berkaca bahwa para pelaku penyerangan itu bukanlah orang-orang miskin. Mereka bersekolah penerbangan di Amerika Serikat, yang tentu biayanyan tidak murah dan hidup senang-senang di negeri itu. Bahkan arsitek di balik itu jika benar tuduhanya, Usamah bin Ladin, adalah anak orang kaya dari Saudi Arabia, yang mewarisi bisnis Kelompok Bin Ladin sebesar 300 juta US dolar. Juga punya sejumlah bisnis di manca negara.

Selain Usamah bin Ladin, ada juga dua ilmuwan dari Malaysia Noordin M.Top dan Dr.Azhari yang beroperasi menyebar teror di Indonesia, bukanlah orang miskin dan juga bukan orang bodoh. Walaupun dalam prakteknya, mereka mempekerjakan orang-orang tidak mampu, tapi kemiskinan bukanlah satu-satunya motivasi orang menjadi teroris.

Keluarga bisa menjadi tempat subur tumbuhnya teroris. Jika di dalam keluarga itu memang diajarkan atau orang tuanya membenarkan tindakan teror sebagai jalan kehidupan. Contoh kongkrit tiga kakak beradik,  Amrozi, Ali Imron dan Ali Ghifron. Jika para pelaku teror itu dijadikan teladan bagi keluarga, anak-anak mereka dari berbagai isteri bukan tidak mungkin ada yang menjadi teroris.
Lingkungan, juga bisa membentuk dan menumbuhkan bibit teroris. Para teroris yang dianggap pahlawan di suatu daerah tertentu akan membuat “iri” orang di sekitarnya untuk melakukan hal yang sama.

Ideologi atau seolah-olah ideologi juga menjadi pabrik tumbuhnya teroris. Dalam beberapa kejadian di Indonesia, Pakistan dan Afghanistan, sekolah-sekolah atau perkumpulan-perkumpulan menjadi tempat mencuci otak anak didiknya dengan dogma untuk melakukan terror sebagai jalan perjuangannya. Padahal dogma yang diajarkan itu bisa saja salah tafsir dari ajaran “asli” itu sendiri.
Kejahatan Amerika Serikat dan Barat jugamenyumbang suburnya terorisme. Bagi banyak orang Islam bahkan dari berbagai sekte menuding kelakukan negara-negara besar mempertahankan Israel dan mengenyampingkan Negara Palestina merdeka, penyebab tumbuhnya terorisme.

Terorisme sebenarnya bukan hanya milik orang Islam, seperti yang terbentuk selama ini. Kelompok Tentara Revolusi Irlandia (IRA) di  Irlandia Utara, Inggris, Basque di Spanyol, para mafia/kartel narkoba di Amerika Latin dan banyak kelompok lain yang tak berkaitan dengan Islam menggunakan teror sebagai bentuk perjuangannya. Bahkan cara-cara  Amerika Serikat di Irak, Afghanistan dan kini di Suriah serta kebencian orang-orang “barat” terhadap Islam juga dituding sebagai  terorisme yang dilakukan negara adikuasa dan besar.

Media Pusat Teroris

Peran media menyuburkan keberadaan teroris dan dapat menumbuhkan cita-cita seseorang bahkan anak-anak yang mengkonsumsi media tersebut secara terus menerus ingin seperti itu. Menjadi teroris, bisa seterkenal artis, selebritas, pengusaha atau pejabat. Bahkan bisa lebih, kadang-kadang penggrebekannya diliput secara langsung di televisi. Sebuah penelitian terhadap jurnalis di Jakafta beberapa bulan lalu menemukan lebih dari 60 persen jurnalis Indonesia berpihak kepada kelompok garis keras. Tepatnya ruang redaksi telah disusupi jurnalis-jurnalis radikal yang anti keberagaman dan pro kekerasan.

Lalu bagaimana membunuh cita-cita seseorang menjadi teroris? Tentunya bisa dimulai dari mempelajari akar terjadinya terorisme pada suatu tempat. Tidak ada cara tunggal untuk memberantasnya.

Antara lain, mempersempit ujaran kebencian (hate crimes). Karena ujaran kebencian, menurut Krueger adalah sepupu dari terorisme.Kegiatan itu menyumbang sekelompok orang untuk melakukan kekerasan atas nama agama, ras dan etnik . Negara harus bertindak tegas terhadap pelaku pengujar kebencian. Keterlibatan aparat negara, melindungi  dan mendiami perbuatan sekelompok orang pengujar kebencian, tentu nantinya negara itu bakal memanen teror di masa mendatang.
Istri Presiden Bush, Laura, pada 2002  menyatakan,”untuk menang melawan terorisme, tergantung pendidikan anak-anak di dunia. Sebab anak-anak terdidik memudahkan untuk mengalahkan terorisme.”

Memang, pendidikan pada anak untuk mengenalkan kepada mereka keberagaman, nantinya bakal menuai generasi yang lebih cerdas dan berpikir luas. Agar berhasil pendidikan anak harus diikuti juga dengan lingkungan yang mendukung pluralisme.

Nah, di ruang redaksi media harus steril dari orang-orang radikal yang anti keberagaman dan pro kepada tindakan kekerasan kelompok tertentu. Jika media massa sudah disusupi orang-orang yang pro kelompok pelaku kekerasan, tentu bukan tidak mungkin anak-anak yang mengkonsumsi media tersebut terus menerus akan menganggap pelaku kejahatan atau teroris sebagai sebuah pilihan cita-cita. Seperti cita-cita anak rekan saya dulu. Nauzubillahi min dzalik.

Bandung,  18 Januari 2013

Ahmad Taufik

Penulis adalah mahasiswa magister program pendidikan hubungan internasional FISIP Universitas Padjadjaran, Bandung

---tulisan ini dimuat juga di Islam Times.org---

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...