Selasa, 28 Februari 2012

Petisi : Metro TV Khianati Restorasi dan Reformasi

Press Release:

AJI Jakarta Tolak Pembebastugasan (Pe-nonjob-an) Luviana

Tindakan sewenang-wenang perusahaan terhadap karyawannya kembali terjadi.
Untuk kesekian kali setelah kasus Bambang Wisudo yang di ?singkirkan?  dari
perusahaannya, kini Luviana, jurnalis perempuan yang bekerja di stasiun
televisi Metro TV milik PT Media Televisi Indonesia (MTI) juga mengalami
perlakuan yang sama.

Luviana yang sudah sembilan tahun lebih  bekerja di Metro TV dibebastugaskan
(di-nonjob-kan) tanpa alasan yang jelas dari pihak manajemen perusahaan
tempat dia bekerja.  Tak hanya dibebastugaskan, Luviana bersama Matheus Dwi
Hartanto dan Edi Wahyudi juga didesak untuk mengundurkan diri tanpa
keterangan apa pun. Dua rekannya ini telah mengundurkan diri dari Metro TV
sehari setelah desakan disampaikan.

Luviana, anggota Aliansi Jurnalis Independen Jakarta, ini dibebastugaskan
setelah menuntut adanya perbaikan  kesejahteraan karyawan kepada atasannya.
Juga karena Luviana merencanakan pembentukan  serikat pekerja serta meminta
atasannya melakukan pembenahan sistem keredaksian di internal Metro TV di
antaranya  diberlakukannya sistem penilaiaan kerja yang obyektif, dan
perbaikan program siaran yang sensitive gender dan HAM. Bukan menerima
usulan  yang disampaikan Luvi, manajemen Metro TV justru meminta Luvi untuk
mengundurkan diri.

Terhadap tindakan sewenang-wenang yang dilakukan Manajemen Metro TV, AJI
Jakarta mengecam dan mendesak:
1.    Manajemen Metro TV mencabut keputusan pembebastugasan terhadap Luviana
dan mempekerjakannya kembali ke desk semula.
2.    Manajemen Metro TV  menyelesaikan persoalan ketenagakerjaan sesuai
ketentuan perundang-undangan.
3.    Manajemen Metro TV tidak menghalang-halangi karyawannya untuk
membentuk serikat pekerja.

Demikian release yang kami sampaikan. Atas perhatiannya kami ucapkan terima
kasih. Kami sampaikan juga kronologis pembebastugasan Luviana beserta
dukungan dari individu dan lembaga swadaya masyarakat. Kami, AJI Jakarta
mengajak sahabat dan simpatisan semua untuk memberikan dukungan kepada
Luviana untuk melawan tindakan kesewenang-wenangan yang dilakukan Manajemen
Metro TV terhadap Luviana melalui AJI Jakarta di alamat email
ajijak@cbn.net.id dan telpon di 7984105.

Salam
Jakarta, 26 Desember 2012

Ketua AJI Jakarta                    Koordinator Divisi Serikat Pekerja
Umar Idris                                 Kustiah

Kronologi Pembebastugasan (pe-non job-an) Luviana dari Redaksi Metro TV:

Nama saya Luviana.  Saya adalah jurnalis Metro TV dan juga anggota Aliansi
Jurnalis Independen (AJI) Jakarta. Saya mulai bekerja di Metro TV sejak
tanggal 1 Oktober 2002. Saat ini posisi saya sebagai assisten produser.
Sejak diangkat sebagai assisten produser di tahun 2007 hingga kini, saya dan
sejumlah karyawan Metro TV menemukan beberapa hal krusial yang kami anggap
sebagai sumber persoalan di manajemen redaksi Metro TV :

1. Macetnya saluran komunikasi antara manajemen redaksi dengan para
jurnalis, terutama dengan para  produser/ assisten produser.

2. Ketiadaan penilaian terhadap kinerja karyawan yang dilakukan oleh
manajemen redaksi. Kondisi ini berakibat, tidak ada indikator yang secara
obyektif  bisa digunakan untuk mengevaluasi kinerja seorang karyawan.
Penilaian lebih didasarkan pada rasa suka atau tidak suka. Hal inilah yang
kemudian menjadi salah satu alasan terhambatnya jenjang karir dan
penyesuaian gaji karyawan.

Kondisi diatas terjadi bertahun-tahun lamanya, tanpa ada perbaikan dari
tingkat manajemen redaksi. Fakta yang kami temukan yang juga menjadi
pengalaman pribadi saya antara lain, ada karyawan yang mulai bekerja di
tahun yang sama, namun kemudian mendapatkan posisi dan gaji berbeda. Saya
menerima perbedaan dalam contoh kasus tersebut. Jika memang didasarkan pada
kemampuan dan kinerja karyawan, saya akan terima.  Namun sayangnya,
manajemen redaksi tidak bisa menyampaikan alasan pembeda mengapa ada seorang
karyawan mendapatkan posisi yang baik dengan gaji yang meningkat dan ada
yang tidak. Sekali lagi, manajemen mengambil sebuah keputusan terhadap nasib
kehidupan seorang karyawan berdasarkan sistem suka atau tidak suka, bukan
pada sebuah sistem penilaian yang terukur.

Berdasar pada situasi inilah, saya dan beberapa teman kemudian melakukan
upaya bersama untuk membuat sebuah perubahan di Metro TV:

1.Kami mempertanyakan soal sistem penilaian terhadap para assisten produser
dan beberapa jurnalis lainnya kepada manajemen redaksi. Namun pertanyaan
kami tidak pernah mendapatkan jawaban. Selanjutnya, bersama 14 orang
assisten produser lainnya, pada Agustus 2011 kami mengajukan surat  untuk
mempertanyakan persoalan ini kepada pihak manajemen redaksi.

2.Surat yang kami tujukan kepada manajemen redaksi, dijawab dengan
pernyataan secara lisan oleh Dadi Sumaatmadja (Kepala Produksi berita saat
itu): bahwasanya kami diminta untuk melakukan introspeksi diri kenapa tidak
diangkat menjadi produser hingga sekarang.  Pihak manajemen pun sekali lagi
tidak dapat menunjukkan hasil penilaian yang terukur terhadap kinerja dan
kemampuan kami.

3.Lebih kurang sebulan lamanya kami tidak mendapatkan jawaban dari manajemen
redaksi soal draft penilaian untuk para produser/ assisten produser ini.

4. Kami kemudian berupaya menemui Direktur utama (Dirut) Metro TV yang baru,
Adrianto Machribie. Kami menyatakan bahwa ingin mengadakan pertemuan untuk
membahas soal buruknya manajemen redaksi yang berakibat pada terhambatnya
penjenjangan karir dan gaji karyawan ini. Dirut Metro TV kemudian mengundang
semua produser dan assisten produser untuk bertemu. Pada pertemuan tersebut,
semua produser/ assisten produser yang hadir menyatakan kekecewaannya pada
manajemen redaksi yang kami nilai menjalankan manajemen dengan buruk (tidak
ada penilaian yang terukur, kebijakan yang subyektif  hingga macetnya
komunikasi di antara kami). Dirut  Metro TV berjanji akan memperbaiki
manajemen redaksi dan membentuk tim untuk memperbaikinya.

5. Dari berbagai kasus ini, maka saya dan beberapa teman kemudian membentuk
organisasi karyawan untuk menyelesaikan beberapa persoalan di redaksi Metro
TV, karena masalah ini tak hanya menimpa asissten produser dan produser,
namun juga menimpa teman-teman kami yang lain yang punya persoalan dengan
gaji, jenjang karir dan status mereka. Organisasi karyawan yang kami bentuk
ini sebagai wujud keprihatinan kami terhadap buruknya manajemen redaksi
Metro. Kami berharap dengan adanya organisasi ini, ke depannya bisa
menjembatani komunikasi yang sehat antara manajemen dan karyawan seperti
halnya yang ada dalam organisasi Serikat Pekerja.

6. Pada 22 Desember 2011, Dadi Sumaatmadja meminta saya untuk pindah ke
program acara Metro Malam. Di saat yang sama, saya juga memberikan evaluasi
pada program Metro Malam yang banyak melakukan pelanggaran HAM dan tidak
sensitif gender, misal: menayangkan wajah tersangka secara terbuka,
menayangkan wajah  Pekerja Seks Komersial (PSK) yang sedang dikejar-kejar
petugas keamanan secara terbuka dan menayangkan tayangan-tayangan kekerasan
secara vulgar. Saya ungkapkan bahwa tayangan seperti ini melanggar Keputusan
Komisi Penyiaran Indonesia tentang Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar
Program Siaran serta melanggar Kode Etik Jurnalistik . Namun justru manager
HRD menyatakan bahwa oleh manajemen redaksi, saya dinilai membangkang dan
terlalu banyak mengkritik. Padahal kritikan ini didasari untuk perbaikan
program siaran agar punya perspektif yang baik yang akan disajikan kepada
pemirsa Metro TV.

7. Perlakukan manajemen redaksi yang subyektif dan tidak juga memberikan
solusi ini akhirnya membuat puluhan produser dan assisten produser kecewa.
Kurang lebih 30 orang produser dan assisten produser Metro TV kemudian
memutuskan untuk keluar. Mereka sudah tidak tahan atas perlakukan dan
penilaian secara subyektif dari manajemen redaksi Metro TV.

8. Pada Tanggal 26 Desember 2011, saya mulai bertugas di program siaran
Metro Malam.  Sementara beberapa pembenahan kemudian mulai dilakukan oleh
Direktur Utama Metro TV, Adrianto Machribie, mulai dari pembenahan
kedudukan/ organisasional manajemen redaksi, pemberian assesment pada semua
karyawan hingga pembenahan ruangan di Metro TV yang kini lebih terbuka.

9. Pada Awal Januari 2012, manajemen redaksi memberikan kenaikan gaji kepada
beberapa karyawan. Kenaikan gaji yang dilakukan hanya untuk beberapa
assisten produser ini dilakukan secara tertutup dan dengan menggunakan surat
khusus dari manajemen redaksi. Kami menyambut baik kenaikan gaji ini, namun
amat kami sayangkan, kenaikan gaji ini tidak dilakukan secara transparan dan
hanya terjadi pada beberapa orang saja. Sekali lagi, penilaian dilakukan
atas dasar suka dan tidak suka. Hal ini terbukti ketika soal kenaikan gaji
tersebut saya tanyakan pada pihak HRD Metro TV. Pihak HRD metro TV
menyatakan bahwa memang ada surat khusus dari manajemen redaksi untuk
menaikkan gaji pada beberapa orang assisten produser saja.
10. Selanjutnya, pada hari Jumat, 27 januari 2012 manajemen redaksi
membagikan bonus dari perusahaan. Namun, pembagian bonus ini kami nilai
diskriminatif. Hal ini dikarenakan, ada karyawan yang tidak mendapatkan
bonus. Ada juga karyawan yang hanya mendapatkan bonus 0,25 kali gajinya,
namun ada karyawan yg mendapatkan bonus hingga 5 kali gaji. Kami sangat
menyayangkan hal ini. Di saat Direktur Utama  Metro TV melakukan beberapa
pembenahan, justru manajemen redaksi memberikan keputusan yang sangat
subyektif dan selalu didasarkan dari rasa suka dan tidak suka.

11. Berangkat dari situasi yang tidak fair ini, saya dan beberapa teman
kemudian mempertanyakan soal surat khusus kenaikan gaji beberapa orang
assisten produser dan soal pemberian bonus ini kepada kepala produksi berita
Dadi Sumaatmadja. Saya juga meminta diadakan pertemuan untuk menjelaskan
penilaian bonus ini, karena hampir semua awak redaksi mempertanyakan soal
ini. Namun Dadi menolak bertemu di pertemuan besar. Dadi Sumaatmadja hanya
mau ditemui secara personal.

12. Kami bertiga (Edi Wahyudi dan Matheus Dwi Hartanto) dan beberapa teman
lain selanjutnya juga mempertanyakan hal ini kepada Wayan Eka Putra (kepala
produksi berita yg baru) soal pemberian surat khusus pada beberapa assisten
produser dan penilaian pada pemberian bonus yang diskriminatif, namun kami
tidak mendapatkan jawaban.Selanjutnya kami meminta untuk diadakan pertemuan
dengan pihak manajemen HRD Metro TV dan Wayan Eka Putra pada hari Selasa, 31
Januari 2012.

13. Pada proses selanjutnya, saya dan beberapa teman membuat notulensi soal
perkembangan dan rencana pertemuan dengan manajemen redaksi. Notulensi
tersebut saya kirimkan kepada dua orang teman melaui sms. Namun sms ini
disebarluaskan oleh beberapa teman kepada banyak karyawan di Metro TV.
Bahkan ada yang mengunggahnya ke situs jejaring sosial twitter/ facebook.

13. Pada tanggal 31 januari 2012 pertemuan batal dilakukan. Saya justru
dipanggil Manager HRD, Avi Pranantha dan diminta mundur karena manajemen
redaksi akan me-nonaktifkan kami (saya, Edi Wahyudi dan Matheus Dwi
Hartanto). Kami akan diberikan pesangon sesuai UU ketenaga Kerjaan No 13/
2003. Saat itu saya menyatakan menolak dan akan melaporkan kasus ini kepada
AJI Jakarta.

14. Pada tanggal 1 Februari 2012 : Matheus Dwi Hartanto dan Edi Wahyudi
menandatangani surat pesangon. Sedangkan saya mengambil surat pesangon dan
belum menandatangani apapun karena belum ada kejelasan soal alasan mengapa
saya disuruh mundur. Pada saat yang sama Wayan Eka Putra memberitahu kepada
tim produser lain, bahwa sejak tanggal 1 Februari 2012 saya sudah dinyatakan
mundur dari Metro TV.  Sejak itulah saya sudah  tidak diberikan tugas apapun
di redaksi.

15. Pada tanggal 3 Februari 2012  saya berinisiatif untuk mengajak Wayan Eka
Putra untuk bertemu. Wayan Eka Putra akhirnya bersedia menemui saya. Selama
ini manajemen redaksi tidak pernah mau bertemu dan menjelaskan mengapa saya
diminta untuk mundur. Wayan menjelaskan bahwa saat ini saya tidak dipecat
sebagai karyawan Metro TV, namun menurutnya: saya tidak lagi bekerja di
bagian redaksi Metro TV. Dan mulai saat ini, saya menjadi tanggung jawab
manajemen HRD Metro TV. Ketika saya tanyakan apa kesalahan saya, Wayan
menyatakan tidak tahu. Yang jelas, setelah beredarnya SMS di jejaring sosial
twitter/facebook tentang rencana pertemuan para karyawan  Metro TV,
manajemen redaksi menyerahkan nasib saya ke manajemen HRD. Dalam pertemuan
dengan Wayan, saya juga menyatakan  bahwa saya tidak menyebarluaskan sms
serta tidak mengunggah notulensi hasil rapat ke twitter/facebook. Karena
saya memang tidak memiliki akun di kedua jejaring sosial tersebut.

16. 3 Februari 2012  saya bertemu Manajer HRD Avi Pranantha. Avi juga
menyatakan bahwa ia tidak tahu kesalahan saya. Menurut keterangan Avi
Pranantha, saya masih menjadi karyawan Metro TV, namun dengan status di
non-job-kan.

17. Pada 6 Februari 2012 : AJI Jakarta berinisiatif menghubungi Metro TV
untuk melakukan pertemuan atas kasus yang menimpa saya. Pertemuan tersebut
dihadiri oleh manajemen Metro TV yang diwakili Manager HRD (Avi Pranantha),
Kepala Kompartemen redaksi Metro TV (Swasti Astra), saya, AJI Jakarta dan
perwakilan LBH Pers. Dalam pertemuan ini  tim AJI Jakarta dan LBH Pers
meminta agar saya dipekerjakan kembali . Apalagi manajemen redaksi tidak
menemukan kesalahan terhadap diri saya. Manajemen Metro TV ketika itu
menyatakan akan mendiskusikan dan mengupayakan permintaan ini.

18. Pada tanggal 17 februari 2012 , saya bersama Winuranto, Aditya dan
Kustiah (AJI Jakarta) kembali bertemu Avi Pranantha. Namun Avi Pranantha
menyatakan bahwa: ia belum menemukan posisi bagi saya di bagian redaksi. Ia
masih akan berusaha menanyakan kembali kepada manajemen redaksi Metro TV
agar saya bisa kembali bekerja di bagian redaksi. Kemudian pada kesempatan
tersebut saya juga menanyakan kembali tentang kesalahan yang saya lakukan
sehingga saya kemudian di-nonjobkan. Avi Pranantha kembali menyatakan bahwa
: saya tidak melakukan kesalahan, namun manajemen redaksi memang tidak mau
menerima saya kembali dengan tanpa alasan.

19. Pada tanggal 24 Februari 2012, kami melakukan pertemuan terakhir. Saya,
Winuranto dan Kustiah (AJI Jakarta) dan manajemen Metro TV. Namun Avi
Pranantha kembali menyatakan bahwa pihak redaksi Metro TV tidak mau menerima
saya kembali dengan tanpa alasan. Ketika saya kembali menanyakan apa
kesalahan saya, pihak manajemen HRD kembali menyatakan bahwa dari sisi tugas
jurnalistik maupun dari sisi administratif, saya tidak melakukan kesalahan
apapun.

Demikian kronologi ini saya buat. Saya telah bekerja kurang lebih 10 tahun
di Metro TV dan terbukti manajemen telah menyatakan tidak pernah menemukan
kesalahan saya dari sisi tugas jurnalistik maupun secara administratif.
Dengan tidak adanya kesalahan pada diri saya, maka saya menginginkan untuk
dipekerjakan kembali di redaksi Metro TV.

Terimakasih untuk perhatian dan solidaritasnya. Salam.

Jakarta, 26 Februari 2012

Luviana

Seribu (1000) Dukungan untuk Luviana:

1. PBHI Jakarta
2. LBH Jakarta
3. Kontras
4. Jakarta Street Lawyer
5. IKA (Indonesia untuk Kemanusiaan)
6. Forum Keadilan Perempuan
7. Ririn sefsani
8. SPBI-SB PT Inco
9. Rachmadi (Serikat Pekerja Indosiar)
10. Somasi Universitas Nasional
11. Forum Masyarakat Kota Jakarta (FMKJ)
12. Inspirasi Indonesia
13. Eddy A effendy (jurnalis)
14. SBPKU-FSBKU Tangerang
15. Piece Women
16. Serikat Pekerja KBR 68H
17. Kapal Perempuan
18. Usman hamid (Kontras)
19. Abdul Hamid (Bekasi)
20. Bob Randilane (SKAK-FRI)
21. DPN Repdem
22. Tunggal Pawestri (Hivos)
23. Firliana (Hivos)
24. Samuel (Serikat buruh yayasan Tifa dan Pekerja UI)
25. Gea (Jurnalis Ambon)
26. OPSI (Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia)
27. SPBI
28. Federasi SPSI Reformasi
29. Albert Kuhon (Jurnalis)
30. Konfederasi Serikat Nasional (KSN)
31. Komite Solidaritas Nasional
32. Dedy (Mahasiswa IPB)
33. SBNIP
34. Perkumpulan Hijau Jambi
35. Koalisi Perempuan Indonesia
36. Jurnal Perempuan
37. Foker LSM Papua
38. Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP)
39. Sawit watch
40. Paguyuban Pekerja UI
41. Agra Jambi
42. Yohana Sudarsono (Guru/ Korban)
43. Khalisah Khalid (Aktivis lingkungan)
44. SPBI PT Universitas Indonesia
45. Barisan Perempuan Indonesia
46. Gadis Arivia (Jurnal Perempuan)
47. Jambi Watch
48. Dicky Irawan (individual)
49. Muchtar Pakpahan (KSBSI)
49. Konfederasi KASBI
50. Safira (Aktivis Perempuan)
51. Andy Yentriani (Komnas Perempuan)
52. Masrucqah (Komnas Perempuan)
53. Perkumpulan Solidaritas Makassar
54. Ostaf Al Mustafa (Individual)
55. Nia Sjarifuddin (Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika/ ANBTI)
56. Rei (SPKM)
57. Shaka (individual)
58. PT. ARIANG TECH, Makassar
59. Shaleh (Wartawan/ Aceh)
60. Aida (C'est/ aktivis perempuan)
61. Manganju Luhut (Individual)
62. Agus Sugandhi (Garut)
63. Siswa (Individual)
64. Day (wartawan/ Banjarmasin)
65. Sodri (Wartawan)
66. Mika Prasta (Anggota Perhimpunan Solidaritas Buruh)
67. Tomas (Individu/ Wonosobo)
68. M Zulfi (Jurnalis)
69. Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem)
70. Dadang Kusnandar (Cirebon)
71. Tommy Bhail (Individu)
72. Forum nelayan dan adat Kalimantan Barat
73. Front Pejuangan Pemuda Indonesia (FPPI)
74. Zubaidah (Beranda Perempuan Jambi)
75. Grace P Nugroho (Repdem DPD Lampung)
76. Antok (Roda Demokrasi)
77. Wahyu Susilo (Migran Care)
78. Serikat Perempuan Lampung Selatan
79. Hendri Syafrizal (Individu/ Aceh)
80. Taufik (Guru SMA/ Cilegon)
81. Poros Wartawan Jakarta (PWJ)
82. Kim (individual)
83. Ahmad Sh (Eknas-Walhi)
84. Ucok (Forum Wartawan Parlemen Sumbar)
85. Solon Sihombing (wartawan senior)
86. Johan (Jurnalis majalah Duta)
87. Lukman Hakim (Federasi Nasional Perjuangan Buruh Indonesia/ FNPBI)
88. Odo Putra Bangsa (Urban Poor Consorsium/ UPC)
89. Sherin (Individual/ palu)
90. Bayu (individual)
91. Hamim (Federasi LBH APIK Indonesia)
92. Jeppri F Silalahi (Departemen Tenaga Kerja DPP PDI Perjuangan)
93. Ribka Tjiptaning (Ketua Komisi 9 DPR-RI)
94. Iwan Nurdin (Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA)
95. Morenk Beladro (Individual)
96. Yovi Forsot (Individual)
97. Ode (Tambang crisis Center)
98. Munadi kilkoda (Aliansi Masyarakat adat Nusantara/ AMAN) Maluku Utara
99. Nelson Fs (federasi Serikat Pekerja Pulp dan Kertas Indonesia)
100. Maeda (Aktivis buruh)
101. Egi Sujana (Politisi)
102. Sofiyan (Jurnalis/ Banten)
103. Kastorius Sinaga (Politisi)
104. Arthon (Universitas Nasional)
105. Iyuth Pakpakan (Jurnalis)
106. Dimas (Jurnalis/ Jakarta)
107. Sindo Radio Kendari
108. Parto (KASBI)
109. Eriyadi (Jurnalis/ Jambi)
110. Bangun Sugito (Jurnalis/ Jember)
111. Tamrin (Individu)
112. Agusts (Jurnalis Bisnis Indonesia)
113. Lita (Aktivis Lingkungan/ Manado)
114. Dedy Rachmadi (Aktivis)
115. Yessy (Individual/ Jakarta)
116. Didi K (Jurnalis/ Jakarta)
117. Agus Priyanto (LMND)
118. Ollenk (Individual)
119. GMNI Jember
120. Haryanto (Individual/ belitung)
121. Indriaswati (Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat/ELSAM)
122. Mahardhika (Jurnalis)
123. Daryanti (SBPF-SBKU Tangerang)
124. Adian Napitupulu (Forkot)
125. Miranda (Individual/ Jakarta)
126. Eko Bambang Subiantoro (Aktivis Laki-laki Baru)
127. Jurnal Perempuan
128. Umi Lasmina (aktivis Perempuan)
129. Fifie (Bekasi)
130. Jala PRT (Jaringan Nasional Pekerja Rumah Tangga)
131. Mustar Bonaventura (Bendera)
133. Mardiyah Chamim (Tempo Institute)
132. Iwan Sams (jurnalis)

133. Hammjah Dzim (Rumah Kedaulatan Rakyat)

134. Asrianty Purwantini (Aktivis InDemo)

135. Wuwun Widayati (Aktivis perempuan)

136. Jaya Wardhana (individual)

137. Halik Sidik (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional)

138. Perempuan Mahardhika.

139. Ir. H. Asep Akhmad Kahfi (Serikat Guru Garut)

140. Subuki Yusuf (sekretaris Umum Yayasan Sirajul Mudhu al Aziziyah
Jakarta)

141. Hendri Kurniawan (Pendiri mahasiswa pencinta alam FH UMP)

142. Asmawanto (Surveyor MNC Finance)

143. Sosfi Yuhendra (Direktur Kantor Bantuan Hukum YPBHNI Bukittinggi)

144. Dina Puspasari (Wartawan Radar Lampung)

145. Lolly Suhenty (Karyawan/aktivis perempuan).

146. Aditya Fajar (Peternak).

147. Trah Krendho Wahono Panembahan Senopati.

148. Ali Wahyudin As'ad (Advoka Peradi)

149. Hudri Setya (individu)

150. Nurhasanah (individu)

151. Uli Pangaribuan (PBHI Jakarta)

152. M. Sahlan Attazkiyah (Kalimantan Barat)

153. A. Butsiyanthoni (wartawan SKH Bungo Pos, Jawa Pos Grup).

154. Bagus (Semarang)

155. Gian (Padang)

156. MB Gamulya (Sindikat Musik Penghuni Bumi)

157. Hasan (Rangkasbitung).

158. Fahmi Rukmana (Jurnalis Pasundan Ekspres, Jawa Pos Grup).

159. Putut Gunawan (Aktivis NGO Solo)

160. MAchmud (IRE, Yogyakarta)

161. Dicky (Kosgoro)

162. M. Bachrul Ilmi (Karyawan Bank dan simpatisan pekerja media)

163. Genthong Has (Seniman Yogya).

164. Ika (Kantor Berita Antara)

165. Luh de (Bali)

166. Yuli (Tempo)

167. Istiqomatul Hayati (Tempo).

168. Umar Idris (jurnalis KONTAN)

169. Budi Laksono (Media Pembaruan).

170. Ostaf al-Musthopa (Makassar)

171. Bayu (Wiraswasta).

172. Zuli Zukipli (Ketua LSM Jaringan Masyarakat Peduli Demokrasi) Bekasi

173. Lisa Noor Humaidah (Aktivis perempuan)

174. Riris Widati (dosen)

175. Uung Wijaksana (aktivisi pro demokrasi)

176. Masyuti (guru/aktivis pendidikan)

177. Sugeng Pranyoto (jurnalis)

178. Daniel Ananto Wibowo (karyawan bank).

179. Anik (Ibu Rumah tangga, Yogyakarta).

180. Sri Hartanti (Ibu Rumah tangga/Yogyakarta).

181. Lina Nurarifah (karyawan bank).

182. Indra Sukma (karyawan/Jakarta).

183. Nurhasan (Pensiunan).

184. Ida Farida (Warga Jakarta).

185. Jurnal Kebudayaan Tanggomo Gorontalo

186. Budisantoso Budiman (Jurnalis Palembang)

187. M. Dani Setiawan (Individu/Jakarta).

187. Lilis (SPN)

188. Priyatmoko Dirdjosuseno (Pengajar Fisip Universitas Airlangga).

189. agus Trianto (Karyawan Cilandak/Jakarta)

190. Mardiyah Chamim (Jurnalis Tempo)

191. Anung (Karyawan/Jakarta)

192. LBH Pers

193. Amir Hamzah (Sekretaris Relawan Perjuangan Demokrasi/Repdem)

194. Kencana Ayu (Karyawan/jakarta).

195. Dewi Retnowati (Individu).

196. Taluki Sasmitarsi (Jakarta)

197. Mustari Sulaeman (Mahasiswa Unas).

198. Mita (Mahasiswa fisip Unas)

199. Pekik (Mahasiswa komunikasi Unas)

200. Agustam Rahman (Ketua Perkumpulan Bantuan Hukum Bengkulu)

201. Ahwad Wali (Dosen Fakultas Hukum Universitas Bengkulu)

202. Serikat Tani Bengkulu

203. Kajidin (serikat Nelayan Tradisional)

204. Tampubolon (Ketua Federasi Sekat Tani Nusantara)

205. Abdul Manan (Ketua Federasi Serikat Pekerja Media/Tempo)

Politik Keluarga Sendiri

 
pemilih berbasis keluarga meminimalisir politik berbiaya tinggi


Pada pemilihan Umum 1977 ayah saya menjadi juru kampanye Partai pro
pemerintah untuk kawasan Timur Indonesia. Saat itu saya baru lulus
sekolah dasar, masih belum tahu apa-apa urusan politik.

Lima tahun kemudian pada 1982, saat kelas II Sekolah Menengah Atas,
saya ikut-ikutan kampanye partai yang diidentikkan bernuansa agama.
Bahkan, saking semangatnya, berada di tengah huru-hara kampanye di
Lapangan Banteng, Jakarta.

Di rumah, ayah saya masih anggota dan salah satu pimpinan departemen
partai pro-pemerintah itu. Bahkan menjadi ketua di beberapa organisasi
underbouw partai itu. Nenek saya, mengaku ikut mencoblos pilihan
partai ayah . Alasannya, karena ayahku kepala keluarga di rumah itu.
Saya tak tahu partai pilihan ibu. Tapi di rumah kami menjadi salah
satu posko kampanye partai berlabel agama, bukan partai pemerintah.
Ayah dan ibu tak melarang kami kakak beradik berbeda partai di dalam
rumah.

Memang, keluarga menjadi potensi calon pemilih. Sebuah partai dakwah
yang didirikan setelah Soeharto tak lagi berkuasa, suaranya terus
menanjak setiap pemilihan umum (Pemilu). Otomatis, kursinya di dewan
perwakilan rakyat juga terdongkrak naik. Pada pemilu 1999 meraih 1,4
juta suara (7 kursi DPR, 26 kursi DPRD Propinsi dan 163 kursi DPRD
Kota/Kabupaten). Partai ini, sepertin 15 partai politik lainya,
menolak berlakunya Undang-undang Pemilu Nomor 3 tahun 1999, tentang
syarat berlakunya batas minimum dua persen keikutsertaan parpol pada
Pemilu selanjutnya (electoral threshold). Tuntutan agar semua parpol
peserta Pemilu 1999 diikutkan lagi dalam Pemilu 2004 walaupun ada
parpol yang sama sekali tidak mempunyai perolehan kursi di DPR/DPRD
gagal.

Partai itu setahun sebelum Pemilu berikutnya, berganti baju
(penambahan nama dan lambang partai).  Pemilu berikutnya partai ini
memperoleh suara sebanyak 7,34 persen atau 8.325.020 suara, dan
mendapatkan 45 kursi di DPR.  Pada pemilihan Umum 2009 partai ini
kembali bisa merebut 57 kursi di DPR setelah mendapat sebanyak
8.206.955 suara . Kalau di lihat programnya biasa-biasa saja, begitu
juga kelakuan wakil rakyat di kursi dewan bahkan banyak yang
menyimpang secara moral maupun material. Tapi cara mempertahankan
suara pemilih yang perlu diperhitungkan.

Partai ini punya basis pertahanan yang baik dan sumber suara yang tak
pernah putus, keluarga. Jika dilihat sepintas, di lingkungan
teman-teman saya dan juga profil beberapa petinggi partai ini, minimal
punya lima anak, bahkan banyak yang lebih. Itu, baru dari satu isteri,
karena partai ini juga tidak mengharamkan satu pria kawin dengan
banyak perempuan (poligami). Wajar, jika tiap Pemilu ada kenaikan
suara, minimal anak-anak dari anggota partai ini yang sudah memiliki
hak pilih. Walaupun, ada simpatisan partai ini yang hengkang memilih
partai ini karena kecewa dengan program, janji kampanye yang tak
terpenuhi dan kelakuan wakilnya di DPR.

Partai ini tak bakal tergusur dari kancah perpolitikan Indonesia,
walaupun electoral threshold (batas suara pemilih)maupun parliamentary
threshold (batas kursi di parlemen) diberlakukan minimal lima persen.
Sebaliknya ada partai yang juga mengusung label dan berbasis pemilih
agama mayoritas, masih kurang percaya diri terhadap electroral mapun
parliamentary threshold. Walaupun partai yang berulangtahun 5 Januari
itu mencanangkan 12 juta suara pada Pemilu 2014  mendatang.
Suara-suara wakilnya di parlemen masih menentang batas minimal 5
persen itu.

Memang, saat ini DPR tengah menggodok revisi Undang-undang Pemilihan
Umum. Muncul gagasan untuk menaikkan besaran batas minimal
parliamentary treshold (ambang batas perolehan suara di DPR) menjadi 5
persen untuk Pemilu 2014 mendatang. Pemilu kemarin, sistem yang
digunakan masih electoral treshold sebesar 3 persen.  Bekas Ketua Umum
Partai Golkar Akbar Tanjung termasuk yang tidak setuju electoral
threshol, menurutnya, electoral treshold tidak efektif karena partai
yang raihan suaranya kecil tetap bisa ikut Pemilu. (www.tempo.co)

Pengamat politik Arbi Sanit juga punya pandangan yang sama. Lebihnya
jauh, menurutnya, banyak partai justru mengganggu sistem pemerintahan
presidensil. Paling cocok Pemilu nanti diikuti maksimal 7 partai.
Alasan sistem multi partai selalu gagal untuk bekerja sama membangun
pemerintahan yang kuat, stabil, dan efektif. Negara jadi sibuk
meladeni keinginan partai politik ketimbang melakukan tugasnya
melayani rakyat.

Nah, perdebatan di atas dan keinginan kuat partai besar, tentu membuat
keder partai yang tak ounya basis kuat. Karena apa? Sebab partai ini
tak punya basis kuat seperti partai dakwah di atas. Hanya mengandalkan
massa mengambang (floating mass) yang bernama ummat. Padahal ummat
diperebutkan banyak partai, mulai dari yang mengaku berbasis aqama
sampai nasionalis. Banyak alasan dan cara partai politik apapun untuk
menarik massa mengambang bernama ummat ini agar memilih partai
tersebut. Karena alasan ideologi, tak lagi laku, melihat kelakuan para
wakil di parlemen  jauh dari perilaku yang dijanjikan maupun menurut
ukuran keyakinan atau agama yang dianutnya.

Karena itu untuk memperkuat massa pemilih harus kembali ke keluarga.
Kenyataan yang terjadi sekarang, mengikuti dan menarik-narik massa
mengambang untuk memilih membutuhkan biaya yang tidak sedikit
(tinggi). Itupun masih bisa lepas, karena ada janji yang lebih besar
dari partai lainnya. Sebab para wakil yang dipilih sudah sering
mengecewakan pemilihnya, akhirnya pemilih berpikir pragmatis.

Tak heran jika, salah seorang kader partai dakwah di atas untuk
pemilihan kepala daerah di Jakarta 2012, pada baliho di jalan-jalan
sudah terlihat kampanye pentingnya keluarga sakinah. Karena keluarga
sakinah, mawaddah dan rahmah adalah keluarga kompak yang taat
(mengikuti) pilihan ayahnya, termasuk pada pilihan partai politik
dalam pemilihan umum. Walau prinsip itu tidak sedemokratis almarhum
ayah saya dulu.

Penulis :
Ahmad Taufik dan Fahmi Syakir (Advokat STP Law Office dan Ketua
Lembaga Bela Keadilan)

Jumat, 24 Februari 2012

Habib dan Kiai

Dua  kata yang menjadi penurunan makna karena perbuatan orang perseorangan.

  
Kekerasan atas nama agama beberapa tahun belakangan ini, memunculkan seorang nama yang memakai gelar Habib. Ya, pemilik nama ini memimpin sebuah organisasi yang kerap melakukan tindakan kekerasan. Bahkan biasanya, menjelang dan selama Ramadan, kekerasan terbaca dari media, massa yang dipimpinnya merajalela.

Sebenarnya dari mana asal kata Habib? Habib berasal dari Bahasa Arab, hubb, ahabbah – yuhibbu – hubban, menurut Kamus Arab, Inggris, Indonesia karangan Elias A. Elias & Edward E.Elias, Ali Al-Mascatie, (Al-Maarif, Bandung, 1983) berarti cinta, atau mencintai. Dalam bahasa Arab slang, kata hub, berarti tempat keluarnya anak manusia dari rahim ibunya, karena hubungan cinta.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Balai Pustaka (2005), habib berarti yang dicintai atau kekasih, bisa juga panggilan kepada orang Arab yang berarti tuan atau panggilan kepada orang yang bergelar Sayid. Dalam Bahasa Arab sayyid, berasal dari saadah, ya siidu, siyadah yang berarti pimpinan atau ketua yang melayani (ummat). Dalam KBBI, sayid berarti tuan atau sebutan kepada orang Arab Keturunan Nabi Muhammad SAW, atau orang Arab Keturunan Nabi Muhammad. KBBI juga memperjelasnya dalam sayidani yang berarti tuan yang dua (sebutan untuk dua cucu Nabi Muhammad, Hassan dan Hussein).

Selain dua kata tersebut di atas ada kata yang tepat, syarif, dalam KBBI berarti orang yang mulia, yang berarti juga bangsawan sebutan bagi keturunan Nabi Muhammad yang langsung keturunan dari Hussein. Bagi perempuannya sering disebut syarifah.

Nah, Habib yang dilekatkan pada nama seorang, tak lepas dari kecintaan ummat terhadap seorang guru yang mengajarkan kebaikan dan akhlak, seperti orang-orang Jawa memberi gelar Kiai pada guru-guru pesantren atau orang Sunda memberi gelar Ajengan.

Gelar Habib, sesungguhnya gelar yang mulia yang dilekatkan kepada keturunan Hussein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Muhammad SAW. Semuanya tak lepas dari sejarah Islam. Setelah Hussein dibunuh secara kejam di Karbala, Irak, anaknya Ali Zainal Abidin, karena tekanan penguasa (khalifah) “Islam”, hanya bisa menjadi ahli ibadah (makanya dibelakang namanya ada gelar abidin).

Semua khalifah “Islam” walaupun sudah berganti dinasti selalu memusuhi keturunan Hussein, karena alasan takut pengaruh keilmuan dan ketinggian asal keturunannya. Pada keturunan ke delapan, Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bi Hussein pindah dari Basrah di Irak selatan ke Hadramaut, Yaman. Ahmad bin Isa wafat di Hasisah pada 345 Hijriyah. Cucu Ahmad bin Isa, Alwi bin Ubaidillah yang menetap di Hadramaut kemudian dinamakan Alawiyin.

Penetapan nama itu, menurut Tharick Chehab (1975) yang ditulis kembali oleh Kurtubi (10 Januari 2007), Sejarah Singkat Habaib (Alawiyin) di Indonesia, karena di Hadramaut berlakunya undang-undang kesukuan, setiap keluarga harus punya nama suku. Beberapa suku terbesar dan ningrat di Yaman saat itu disebut Qabili, antara lain ; Al-Katiri, At-Tamimi dan lainnya. Namun penduduk Hadramaut atau kaum Qabili itu tak suka dan sangat membenci keturunan Sayidina Ali bin Abi-Talib itu.

Karena tekanan yang begitu kuat dari masyarakat setempat keturunan ke-enam Alwi bin Ubaidillah, Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam, meninggalkan mazhab Ahlul bait yang dianutnya, dan secara kompromis menerima dan memilih mazhab Muhammad bin Idris Al-Syafi-I Al-Quraisyi, atau mazhab Syafi’i. Setelah Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam wafat di Tarim pada 653 tarikh Islam., keturunannya pun menyebar ke berbagai negeri ; Afrika Timur, India, Malaysia, Thailand, Filipina, Tiongkok (Cina), termasuk Indonesia.

Di Indonesia, para turunan Hussein ini masih membawa nama keluarga, karena pengaruh dari kehidupan di Hadramaut yang sukuisme. Sehingga kaum alawiyin, memakai nama keluarga di belakangnya, seperti ; Al-Attas (yang berarti bersin/bangkis) , Assegaf (Al-saqaf- atap/langit-langit), Al-Haddad (hadid-besi/pandai besi), , Al-Habsyi (nama suatu tempat di Afrika, habsyah), Al-Jufri, Al-Idrus dan lain sebagainya. Sesungguhnya nama belakang atau nama keluarga, merupakan panggilan, karena profesi atau asal muasalnya. Sama seperti panggilan nama di Indonesia misalnya Mat Peci, Si Pitung, Si Pahit Lidah atau seperti marga-marga di Tapanuli yang dinisbatkan pada sesuatu, misalnya ; Ginting, Rajagukguk dan lain sebagainya.

Masuknya Alawiyin di Indonesia lewat perdagangan, pengajaran agama, perkawinan dan akhlak. Karena akhlak yang baik itulah, banyak kalangan masyarakat Indonesia menerima agama yang dianut para keturunan Hussein itu. Sehingga mau tak mau, karena masyarakatnya sudah memeluk Islam, agama Islam kemudian menjadi agama resmi beberapa kerajaan-kerajaan, menggusur agama “impor” lain dan agama lokal yang sudah ada sebelumnya.

Sejak ke khalifahan Islam, kalau di Eropa (Spanyol), negeri-negeri Eropa pun merambah Indonesia, mencari rempah-rempah. Kaum Alawiyin yang dicintai masyarakat menjadi batu sandungan bagi pemerintah Belanda. Pemerintah kolonial melarang Alawiyin menetap di pedalaman pulau Jawa, berkeluarga dengan anggota istana (beberapa Alawiyin kawin mawin dengan keluarga kerajaan tempat mereka menetap).

Beberapa Alawiyin yang ketakutan pindah ke perkampungan tertentu di bandar-bandar di tepi laut, atau mengganti nama mengambil nama keluarga Jawa agar dianggapnya orang Jawa asli, pribumi. Karena pindahnya Alawiyin dari pedalaman ke bandar-bandar di pinggir laut, pusat ke-Islaman pun pindah ke utara, seperti ; Semarang, Surabaya, Jakarta, dan lain tempatnya. Yang tak pindah dari pedalaman menetap di perkampungan-perkampungan yang disebut kauman.

Di beberapa daerah di Indonesia, keturunan Hussein memakai sebutan sayyid, syarif, ayib atau sidi di depan nama mereka. Selain di Indonesia, keturunan Hussein memakai Sayyid (Sayed/Syed) di depan namanya, misalnya bekas menteri Luar Negeri Malaysia, Syed Hamid Albar atau pimpinan tertinggi Iran Sayyid Ali Khamenei.

Tak semua keturunan Nabi Muhammad lewat cucunya Hussein mendapat gelar Habib. Karena orang yang mendapat gelar Habib itu, memiliki tingkat ketakwaan, kezuhudan, keilmuan dan akhlak yang mulia lebih dari orang yang lain. Boleh jadi setingkat di bawah wali. Tak jarang misalnya, orang datang kepada Habib minta didoakan (pesan doa melalui Salawat Nabi Muhammad), air atau keberkahan lain.

Dulu terkenal nama-nama ulama Indonesia keturunan Alawiyyin, yang karena ilmu dan ahlaknya dipanggil Habib, misalnya, Habib Sholeh bin Yahya dari Tanggul, Jember, Jawa Timur, Habib Abdurahman Alaydrus- luar batang, Jakarta Utara atau Ali Alhabsyi, Kwitang, Jakarta Pusat.

Namun, kini, nama habib, sudah dipakai sembarang orang yang tak pantas menggunakannya. Ada yang memimpin sebuah organisasi preman berlabel agama, ada juga yang menggunakan gelar Habib tapi melakukan perbuatan nista, ada pula pakai gekar Habib di depan namanya tetapi sesungguhnya, dia bukan keturunan Hussein. Seperti Abdullah Haris Umarella, yang terkenal dengan nama Abdurahman Assegaf dari Parung, Ketua FPI Depok memakai nama Al-Ghadri atau Habib Paulus Muhammad Ali Makhrus At-Tamimi, pendeta yang mengaku bekas aktifis Front Pembela Islam (FPI) di Jawa Timur. Entah karena ingin mendapat keuntungan dari “kepatuhan” masyarakat Indonesia atau karena kurang percaya diri?



Selain Habib, makna lain yang mulia adalah Kiai. Namun penurunan makna juga terjadi pada kata Kiai. Dalam KBBI berarti alim ulama yang cerdik cendikia dalam ilmu agama ; sebutan bagi pempimpin pondok pesantren ; sebutan bagi orang-orang yang dihormati (di masyarakat Madura). Gelar kehormatan itu diberikan pada ulama pimpinan pesantren yang memiliki ribuan santri. Namun kini sebutan kiai bisa hanya dilekatkan pada pendakwah (dai), atau pimpinan sebuah organisasi yang mengusung gaya premanisme. Gelar kiai juga dipakai untuk kelompok musik, seperti Kiai Kanjeng atau Kiai Ganjur. Bahkan seekor kerbau yang dianggap kramat, dipanggil kiai Slamet, kotorannya, diperebutkan sebagai alap berkah.

Penyalahgunaan kedua kata yang menunjukkan tempat terhormat tersebut, berakibat penurunan makna kata. Tentu saja tak mengurangi orang-orang yang memang pantas menerima gelar tersebut. Kami tetap hormat pada para habaib dan kiai yang tetap menjaga gelar kehormatan di depan namanya.

Sayyid Abdul Kadir bin Yahya, Ketua Majelis Taklim Asmaul Husna,Desa Tegal Wangi, Kecamatan Palang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat dan Ahmad Taufik.

Choel Mallarangeng Didesak Menjadi Saksi


Adik Menteri Menteri Pemuda dan Olahraga itu disebut-sebut menerima uang proyek Hambalang


Tuntutan menghadirkan Andi Zulkarnain Mallarangeng alias Choel dalam persidangan perkara mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin menguat. Setelah pada sidang Rabu kemarin memeriksa saksi Andi Alifian Mallarangeng, adik sang Menteri Menteri Pemuda dan Olahraga itu disebut-sebut menerima uang proyek pembangunan Stadion dan Pusat Olahraga di Bukit Hambalang, Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Choel, berdasarkan pengakuan saksi Mindo Rosalina Manulang menyatakan perusahaannya pernah mengeluarkan duit Rp 20 miliar untuk proyek Hambalang dan Wisma Atlet. Sebagian uang tersebut diserahkan Rosa kepada Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga Wafid Muharam. Karena pengurusan tanah Hambalang bermasalah, pada 2010, Nazar memerintahkan Rosa menarik kembali duit itu.

Perintah Nazar tak bisa dilaksanakan karena sebagian duit itu sudah digunakan Wafid. “Kata Pak Wafid, dari Rp 10 miliar itu, sebagian diserahkan ke Pak Andi Mallarangeng dan Pak Choel Mallarangeng,” kata Rosa pada kesaksiannya. Selain Andi dan Choel, yang juga kecipratan duit adalah Paul Nelwan, orang kepercayaan Wafid.

Pengacara Wafid Muharam, Erman Umar, mendesak agar Choel dihadirkan di persidangan. "Untuk memperkuat fakta-fakta di persidangan, harusnya dia diperiksa," katanya kemarin.

Menteri Andi Mallarangeng ketika bersaksi di persidangan mengatakan adiknya itu pernah ditawari sejumlah uang dalam kaitan dengan pembangunan pusat olahraga Hambalang itu, namun Choel langsung menolaknya. “Saya tanya adik saya, waktu itu dia tolak,” kata Andi.

Andi juga tak tahu persis mengenai tuduhan adiknya menerima uang untuk proyek senilai Rp 1,52 triliun. "Apakah ada kaitan dengan proyek Hambalang, saya juga tidak tahu,” katanya.

Choel sampai saat ini belum berhasil dikonfirmasi. Telepon selulernya berhasil tersambung, tapi tidak diangkat. Pesan singkat yang dikirim juga belum dibalas. Di kantornya di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat Choel juga tak kelihatan batang hidungnya. "Bapak sedang ke luar negeri," kata seorang petugas keamanan di kantornya, Jalan Proklamasi, Jakarta, Kamis, 23 Februari 2012.

Petugas keamanan juga tidak memberikan ijin kepada Tempo untuk bertemu dengan sekretaris atau staf Choel. "Semua sedang tidak ada di tempat," ujarnya. Dia juga tidak bersedia memberikan alamat kediaman Choel.

Padahal menurut Pengacara Erman, keterangan Choel itu diperlukan untuk membuktikan keterangan Rosa di persidangan. “jaksa KPK harusnya pro aktif menghadirkan Choel di persidangan,”katanya,” KPK tidak boleh tebang pilih."
Pengacara Nazarudin, Ria Khoiriah Irsyadi, tak yakin Choel bisa dihadirkan di persidangan kliennya. “Kalau saksi yang sudah di BAP saja tidak dipenuhi, bagaimana dengan yang tidak di BAP?" katanya.

AT/RUSMAN PARAQBUEQ/I WAYAN AGUS PURNOMO

Kamis, 23 Februari 2012

Partisipasi Indonesia pada Global March to Jerusalem


GLOBAL MARCH UNTUK PEMBEBASAN PALESTINA


ILM NETWORK
 
Latar Belakang
 
Sejak pendudukan Zionis terhadap Palestina pada 1948, menyusul pendudukan Yerusalem tahun 1967 dan pengusiran warga Palestina di perbatasan Maret 1976, rakyat Palestina terus menerus menderita akibat kolonisasi dan zionisasi.

Tujuan zionis adalah memaksa penduduk Palestina keluar dari Yerusalem dan seluruh tanah Palestina, segala cara digunakan, dari aksi terorisme negara, blokade ekonomi, hukum apartheid, hingga pembersihan etnis.
 
Kota suci Yerusalem secara semena-mena disebut oleh para pemimpin zionis sebagai "ibukota abadi Israel". Mereka menyatakan bahwa Yerusalem tak bisa dinegosiasikan. Pernyataan tersebut, berikut segala aksi zionis sangat bertentangan dengan semua resolusi PBB terkait Yerusalem dan melawan prinsip hukum internasional.
 
Atas undangan  rakyat Palestina dan inisiatif dari beberapa organisasi pro palestina dari Asia yang tergabung dalam  Asia Caravan  to Gaza tahun lalu, diputuskan untuk memperluas gerakan dengan  menyelenggarakan  Global March to Jerusalem (GMJ) pada tanggal 30 maret 2012 sekaligus merupakan peringatan 36 tahun Hari Bumi Palestina. Gerakan ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan ancaman nyata bagi Yerusalem dan seluruh Palestina oleh tangan zionis
 
Semua peserta dari 5 benua (Asia, Afrika, Eropa, Amerika dan Australia) akan berkumpul dan melakukan demonstrasi perbatasan Israel dengan Yordania, Mesir, Suriah, dan Lebanon, dan jika situasi memungkinkan peserta GMJ yang diharapkan jumlahnya melebihi satu juta orang akan masuk ke Jerusalem atau wilayah terdekat, bersamaan dengan itu ratusan ribu rakyat Palestina baik di Jalur Gaza maupun di Tepi Barat juga akan melakukan demo besar besaran.

Profil ILM Network

ILM Network adalah komunitas social media pecinta Rasulullah Muhammad SAW. yang tergabung dalam Page “I Love Muhammad”. Saat ini terdapat lebih dari 5.700.000 orang dari seluruh dunia yang bergabung, dimana sekitar 2.468.000 berasal dari Indonesia, sekitar 930.000 dari Malaysia, sekitar 347.000 dari Pakistan, sekitar 299.000 dari Mesir dan sisanya dari berbagai negara lainnya.
 
Melalui Page tersebut kami berharap bisa membangun kesadaran masyarakat muslim dunia mengenai Islam, persatuan Ummat dan saat ini tentang kepedulian akan nasib saudara kita di Palestina.
 
Oleh karena itu kami berencana akan ikut ambil bagian di dalam GMJ dengan mengirim beberapa relawan antara lain: Tim Kampanye, Reporter, Fotografer dan Dokter (Tenaga Medis).

 

Tujuan
1.       Membangun kesadaran masyarakat Dunia akan ancaman nyata dari Zionis Israel bagi rakyat palestina dan kemanusiaan.

2.       Memyebarkan informasi tentang Global March to Jerusalem (GMJ) terutama berkenaan dengan perjalanan kampanye Tim Asia melalui darat  yang dimulai dari Indonesia menuju  India, Pakistan, Iran, Irak, Turki, Libanon, Yordania.

Kegiatan
1.       Kampanye Rute Darat : Delegasi dari beberapa negara seperti; Jepang, Australia, Malaysia, dan beberapa untusan dari Iran dan Pakistan akan memulai kampanye dari Jakarta kemudian langsung terbang ke India dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Pakistan, Iran, kemudian sebagian akan melalui Irak langsung ke Yordania dan sebagian melalui Turki, Lebanon  dan Yordania.

2.       Langsung  menuju Yordania

Waktu
1.       Untuk rute darat mulai tanggal : 5 Maret 2012 dari Jakarta
2.       Untuk rute ke-2 tanggal : 27 Maret 2012 langsung ke Yordania
3.       Acara Puncak GMJ tanggal : 30 Maret 2012 di Yordania, Lebanon, Suriah, Mesir dan Palestina.
4.       3 April 2012 : kembali ke Indonesia

Koresponden Tuntut Kesejahteraan

Deklarasi Serikat Pekerja Koresponden Tempo (Sepak@t) Indonesia

"Koresponden Pun Berhak Sejahtera"


Perusahaan media semakin marak memperkerjakan jurnalis berstatus koresponden atau kontributor atau stringer. Tak hanya di daerah, praktik ini juga berlangsung di Jakarta. Padahal dalam hukum ketenagakerjaan tidak dikenal istilah-istilah yang dipakai perusahaan media ini. Harusnya hanya dikenal pekerja waktu tertentu dan pekerja tidak tertentu.

Kondisi ketidakpastian ini terus dibiarkan. Dan perusahaan media kerapkali memanfaatkan ketidakjelasan status untuk mengingkari hak-hak pekerja yang diatur dalam undang-undang ketenagakerjaan. Yaitu pemberian upah layak, jaminan kesehatan, tunjangan melahirkan bagi pekerja perempuan dan tunjangan-tunjangan lainnya.

Dalam relasi perusahaan media dengan koresponden, koresponden ditempatkan dalam posisi lemah. Perusahaan abai terhadap kesejahteraan koresponden, sekalipun kinerja, produktifitas dan kualitasnya bagus. Seperti halnya yang terjadi pada koresponden Tempo di Malang, Jawa Timur, Bintariadi, yang tergolek sakit sejak November 2011 lalu.

Penyakit Meningitis (radang selaput otak) menggerogoti kondisi fisik jurnalis yang akrab dipanggil Bibin ini. Biaya pengobatan dan operasinya pada Desember lalu mencapai Rp 50 juta lebih. Sedangkan manajemen Tempo saat itu hanya memberi bantuan kesehatan sebesar Rp 1 juta.

Kondisinya kian memburuk setelah terjadi infeksi pasca operasi. Sehingga, pada Januari lalu Bibin pun kembali menjalani perawatan menghabiskan biaya sekitar Rp 28 juta. Perusahaan kembali memberikan bantuan sebesar Rp 10 juta.

Untuk melunasi tagihan biaya rumah sakit yang tak murah, keluarga menjual harta benda serta mengandalkan bantuan dari teman dan kawan seprofesi. Hadiah atas karya tulisannya dari Pertamina sebanyak Rp 25 juta yang didapatnya pada Desember lalu pun ludes untuk membiayai operasi.

Masih dalam kondisi tak sadarkan diri (koma), kini bapak tiga anak ini harus menjalani perawatan di rumah karena keterbatasan biaya. Bahkan istri Bibin yang hanya guru honorer harus mati-matian menghidupi ketiga anaknya dengan pendapatan yang tak seberapa.

Seharusnya baik keluarga Bibin dan perusahaan tak terbebani membayar biaya pengobatan jika sebelumnya dia mendapat jaminan sosial tenaga kerja atau asuransi kesehatan. Meski telah bekerja selama 11 tahun di Tempo, tak ada jaminan kesehatan buat Bibin.

Ia aktif dalam berbagai organisasi diantaranya pendiri dan mantan ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang, pegiat di lembaga swadaya perlindungan satwa (Profauna), pengurus rumah informasi publik di Malang dan kordinator Society of Indonesian Enviromental Journalist (SIEJ) simpul Jawa Timur.

Segudang prestasi pun dikantonginya. Mendapat penghargaan dan fellowship atas kerja jurnalistiknya. Diantaranya fellowship SIEJ untuk isu globalisasi dan fellowship AJI Indonesia tentang pengendalian tembakau dan perburuhan. Meraih juara pertama penulisan jurnalistik Departemen Pertanian, juara ke dua lomba jurnalistik tentang sanitasi yang diselenggarakan AJI Malang dan juara pertama lomba jurnalistik Pertamina kategori energi terbarukan.


Mestinya, bulan ini Bibin mengikuti visit media ke BBC London, Inggris, hadiah dari Pertamina atas karya tulisannya. Namun, impian tersebut sirna karena sakit. Bahkan masa depan pengobatan pun tak jelas.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, koresponden Tempo se-Indonesia menyatukan komitmen untuk membentuk serikat pekerja yang disebut Serikat Pekerja Koresponden Tempo (Sepak@t) Indonesia yang tercatat di instansi ketenagakerjaan. Sepak@t merupakan serikat pekerja kali pertama yang dibentuk di Indonesia yang menaungi koresponden yang tersebar mulai Aceh hingga Papua. Sepak@t dibentuk dari keprihatinan atas perlakuan diskriminatif yang dialami koresponden di Tanah Air. Dan menjembatani kepentingan perusahaan dengan koresponden.

Sepak@t dibentuk sebagai alat perjuangan untuk mendapatkan hak-hak pekerja media. Harapannya, koresponden mendapat kesejahteraan yang layak. Perusahaan pun mendapatkan keuntungan karena koresponden akan bekerja secara maksimal, loyal, dan semakin memberikan kontribusi yang besar. Sehingga koresponden akan lebih termotivasi menghasilkan produk jurnalistik yang berkualitas.

Salah satu poin dalam Resolusi Kongres Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, 2011, di Makassar adalah menentang perusahaan media mempekerjakan wartawan tanpa status tidak jelas, menentang status stringer dan mendesak pemilik media tidak tutup mata atas praktik ini. Poin lainnya juga meminta perusahaan memberikan upah paling tidak 50 persen di atas upah minimum provinsi. Sepak@t berpendapat, tak mudah merealisasi kesejahteraan tanpa perjuangan kolektif koresponden.


Untuk itu, melalui deklarasi yang diselenggarakan di sekretariat AJI Jakarta, Sepak@t Indonesia menyerukan :

1. Meminta perusahaan media memberikan hak dan jaminan sosial terhadap koresponden seperti pekerja pada umumnya.

2. Meminta perusahaan media agar tunduk dan patuh terhadap Undang-Undang Ketenagakerjaan 13/2003.

3. Mendorong koresponden membentuk serikat pekerja di masing-masing perusahaan media untuk menjamin hak-hak pekerja.

4. Mengkampanyekan pekerjaan koresponden adalah pekerjaan pokok dalam perusahaan media.

5. Menolak bentuk outsourching dalam hubungan tenaga kerja di perusahaan media.

6. Wartawan wajib meningkatkan kapasitas dan patuh terhadap kode etik.

7. Mendesak perusahaan media tunduk pada UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 Pasal 10 dan penjelasannya. Yang menyebutkan “perusahaan pers memberikan kesejahteraan kepada wartawan dan karyawan pers dalam bentuk kepemilikan saham dan atau pembagian laba bersih serta bentuk kesejahteraan lainnya.”

Hidup Koresponden Sejahtera !

Jakarta, 23 Februari 2012.

Sepakat Indonesia

Dini Mawuntyas (Ketua) Kontak 085230982662, sepakatindonesia@gmail.com

Eko Widianto (Sekretaris) Kontak 081233633744

Pito Agustin (Sekretaris Wilayah Yogja) Kontak 081328841619

Selasa, 21 Februari 2012

Kanker Payudara Pria


Kanker adalah satu kata yang menakutkan dan sebisa mungkin dihindari. Namun, gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat, seperti mengonsumsi makanan instan, dapat meningkatkan resiko terjangkit kanker. Kanker yang paling ditakuti oleh wanita adalah kanker rahim dan kanker payudara, pada pria kanker prostat. Meskipun demikian, bukan tak mungkin ditemukan pria yang mengidap penyakit kanker payudara.

Menurut The American Cancer Society, terdapat setidaknya 2000 diagnosa penyakit kanker yang diderita oleh kaum adam setiap tahunnya. Lembaga tersebut juga mencatat rata-rata 450 orang pria meninggal setiap tahun akibat penyakit ini. Ini tentunya mimpi buruk bagi para pria yang umumnya terlambat mengetahui penyakit ini. Maka, ada baiknya bagi pria untuk mengenal dan mewaspadai kanker payudara.

Kanker payudara pada pria ditandai dengan adanya benjolan yang tak normal di bagian dada atau puting, kulit di bagian dada sedikit terlipat, puting tertarik ke dalam, warna kulit dada atau puting berubah kemerahan.

Tanda-tanda kanker payudara lebih jelas terlihat pada pria dibandingkan pada wanita, ini karena payudara wanita bertumbuh sedangkan payudara pria tidak bertumbuh sejak memasuki masa pubertas. Inilah sebabnya, menurut situs kesehatan imaginis.com, pria cenderung malu untuk mengakui bila mereka mengidap kanker payudara.

Menurut penelitian yang diadakan oleh Institut Kanker Nasional di Amerika Serikat, rata-rata pria penderita kanker payudara berusia 60-70 tahun. Sekitar 20 persen diantara pengidap kanker yang diteliti bahkan memiliki hubungan darah dengan saudara perempuan yang juga menderita penyakit yang sama.

Selain kanker payudara, penyakit payudara lain yang juga dapat menjangkiti pria adalah gynecomastia, yaitu pembengkakan payudara yang bisa berubah menjadi tumor. Tanda-tanda penyakit ini serupa dengan kanker payudara, bedanya Gynecomastia tidak bersifat ganas. Gynecomastia dapat disembuhkan apabila penderita lebih dini mengenali tanda-tandanya dan melakukan treatment atau operasi yang sesuai.

Pembengkakan payudara juga dapat dialami oleh pria yang memiliki sindrom Klinofelter. Sindrom Klinofelter adalah kondisi yang secara genetik jarang ditemui, dimana pria terlahir dengan kromosom XXY. Pria dengan sindrom ini umumnya memiliki hormon testosteron lebih sedikit dan memiliki hormon estrogen lebih banyak sehingga payudara mereka bertumbuh seperti wanita pada umumnya

******
Boks :
Definisi :
Kanker payudara tidak hanya dialami wanita, pria juga memiliki jaringan payudara yang dapat mengalami kanker.
Kanker payudara laki-laki paling umum menyerang laki-laki usia 60-70 tahun. Meskipun kanker payudara pria dan kanker payudara pada wanita mirip, perbedaan penting seperti terletak pada ukuran payudara dan kesadaran mempengaruhi diagnosis dini dan kelangsungan hidup dalam kasus kanker payudara laki-laki.
Tanda dan Gejala :
Mengetahui tanda-tanda dan gejala kanker payudara dapat membantu menyelamatkan hidup. Semakin awal penyakit ini ditemukan, semakin banyak pilihan pengobatan dan kesempatan yang lebih baik. Tanda yang paling umum untuk kanker payudara pria dan wanita adalah suatu benjolan atau penebalan pada payudara. Seringkali benjolan tidak menimbulkan rasa sakit. Gejala kanker payudara pria antara lain: * Kulit dimpling atau kerutan * Pengembangan pencabutan baru atau lekukan dari puting * Perubahan pada kulit puting susu atau payudara, seperti scaling atau kemerahan
Treatmen :
Kanker payudara pada pria pada umumnya diperlakukan sama seperti di wanita. Dalam kebanyakan kasus tidak ada pengobatan yang tepat ada. Sebaliknya, akan ingin untuk menemukan pendekatan yang terbaik untuk. Untuk melakukan itu, harus mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk tahap kanker dan usia.

Sabtu, 18 Februari 2012

Ratapan Butik dan Salon Angie


Dari kaca bening tampak dua pria sedang membersihkan ruangan. Seseorang mengangkat-angkat peralatan pencuci rambut, dan pengering rambut berbentuk seperti helm. "Kami bersih-besih karena alat salon mau diangkat besok," kata salah satu di antara mereka yang keluar sesaat menemui Tempo, Rabu kemarin.

Itulah Rumah Nebu Batik, Spa dan Salon di Jalan Kramat Pela Nomor 208, Jakarta Selatan. Rumah itu yang disebut-sebut Angelina Sondakh dalam percakapan pesan Blackberry Messager dengan Mindo Rosa Manulang. Wartawan TEMPO dilarang masuk ke rumah itu. Memang butik dan salon milik Angie itu sudah tutup, sejak Agustus tahun lalu. Tak ada lagi plang nama di sana.

Meski telah lama tidak beroperasi, menurut Henri - pemilik bengkel AC yang ada di sebelahnya, peralatan salonnya, seperti yang dilihat TEMPO, masih ada di dalam. "Masih dikontrak Angelina. Sekitar tiga bulan lalu, dia mengunjungi rumah itu,"katanya.

Memang butik atau toko khusus barang pilihan, dalam salinan percakapan melalui BBM Maret 2010, Angelina pernah meminta Rosa menitipkan data ke butik tersebut. "Titip di butik ku aja gimana? Rumah Nebu Jl Kramat Pela No 208," kata Angie. "Silahkan bu Rosa beli batik hehehe."

Beberapa hari kemudian setelah urusan titip menitip, Angie mengundang Rosa datang pada acara soft opening rumah butik itu dengan menawarkan diskon 20 persen.

Selain butik dan salon di kawasan Kramat Pela, janda Adjie Masaid itu juga pernah membuka usaha serupa Batik Nebu Sauyun di Jalan Bulungan Raya Nomor 8 Jakarta dalam waktu hampir bersamaan. Namun, usaha yang berada tepat di depan pintu belakang Kejaksaan Agung itu telah tutup lebih dulu. "Sudah tutup sejak satu setengah tahun lalu. Di sini Angelina cuma nyewa," kata Paul, tukang parkir di depan bangunan bekas butik Angelina itu.

Kondisi bangunan bekas butik Angelina di Bulungan itu kondisinya lebih parah ketimbang yang ada di Kramat Pela. Sampah bekas gelas minuman, bungkus makanan, berceceran di teras bangunan dua lantai. Banyak sarang laba-laba menghiasi dinding teras. Dari balik pintu kaca, tampak ruangan di dalamnya juga kotor tak terurus.

Pintunya tidak tertutup rapat karena hanya dibandrol dengan rantai. Namun, tulisan "Salon lantai 2" masih menempel di dinding dekat tangga. Eka, salah satu karyawan toko waralaba di sebelah bekas butik Putri Indonesia 2001 itu mengatakan Angelina telah menutup butiknya di Bulungan sekitar September 2010 lalu. Namun sejak ditutup belum ada yang menempati lagi. "Katanya sudah disewa orang lain lagi, dan mau digunakan untuk buka usaha lain," ujarnya. Ya, nasib.

RINA WIDIASTUTI


Kamis, 16 Februari 2012

Demam Bokong Brazil


Bentuknya besar, bulat, sintal, indah, halus dan menggairahkan. Di Indonesia pun, kini 
mulai tertular inspirasi dari negeri samba.
 
Penampilan Rihana di ajang Grammy Award ke-54 di Los Angeles, Minggu malam kemarin membuat 
banyak orang berdecak kagum. Si pelantun lagu Umbrella ini mengenakan gaun panjang hitam,
 berleher V dan membelah buah dadanya. Rok bagian bawah gaun terbuka tinggi memperlihatkan
 perut, paha hingga mata kaki. Ada yang menari dalam balutan gaun itu tampak “bemper”
 belakang Rihana bulat, besar, menggairahkan. 

Itulah, yang disebut Nancy O'Dell, jurnalis televisi dan pembaca berita senior, Brazillian
 Butt atau Bokong ala Brazil. Tak hanya Rihana, penyanyi Jennifer Lopez atau yang sering 
dipanggil Jlo, salah seorang pemilik bokong terindah di dunia, bahkan sampai
 mengasuransikannyahingga miliaran dolar Amerika Serikat. 

Penyanyi latin Shakira juga pemilik pinggul dan bokong seksi. Kunci suksesnya, selain
 mengikuti arahan pelatih pribadinya Tracy Anderson, juga berlatih dansa samba dan salsa.
 Pelantu lagu Waka Waka, This Time For Africa ini menitik beratkan gerakan-gerakan pinggul
 dan sekitarnya untuk membuat bokong semakin indah.   

Di tanah air, pemilik Bokong ala Brazil ini penyanyi dangdut Dewi Persik. Menurut DP, 
begitu dia biasa dipanggil, salah satu bagian tubuh yang dicintai adalah  bokong. “Bukan
 bermaksud porno, atau apa, aku hanya menyukai bagian ini yang menjadi bagian vital demi
 melakukan gerakan-gerakan indah bukan sisi erotis,” kata mantan istri Saiful Jamil. 
Selain DP, banyak perempuan Indonesia  mulai tertarik memiliki bokong indah, padat sintal 
seperti para wanita Brasil. 

Nancy, yang juga pengamat mode dan daya selebritas mengatakan yang khas dari bokong orang 
Brasil adalah besar, bulat, indah, halus, montok dan menggairahkan. Bokong seperti itu
 mempesona para pria di dunia. “Memiliki bokong indah Brasil kini merambah panggung mode
 dan para selebritas dunia. Bermodal bokong indah ini sebagai modal utama untuk mengenakan
 busana apapun tampak menarik,” ujarnya.

Bagaimana caranya untuk memiliki bokong ala Brazil yang kini sedang menjadi demam para 
 selebritas. Menurut Anita Jayanti, salah satu pelatih dari pusat kebugaran Celebrity
 Fitness, Jakarta Pusat, demi memiliki bokong  indah yang sehat tentu harus rajin
 berlatih. “Bukan sekdar bentuk indah semata, tapi seharuslah membentuk bokong indah yang
 padat, sintal, besar, tentunya mesti didukung dengan otot yang kencang,”katanya.

Berbagai latihan untuk membentuk Brazilian Butt ini seperti squad, lunges, berdayung, hip
 extention, deadlift dan berdansa salsa atau samba. Memang diakui Anita sulit untuk 
melakukan gerakan tari ala Brasil seperti salsa dan samba. “Tetapi gerakan ini jauh lebih 
mudah, efektif sekali dibanding latihan lainnya,” kata dia. 

Kenyataanya tidak semua orang bisa menari seperti orang Brasil, “Namun ada motivasi dan
 semangat yang diselipkan demi mendapatkan bokong indah hanya meniru dan melatih gerakan-
gerakannya saja,”ujar Anita. 

Bila sulit untuk menari, Anita menyarankan bisa dengan gerakan menari biasa, berjalan 
kaki, bersepeda dan arobik. “Yang penting konsisten dan teratur. Harus juga rajin 
melakukan latihan yang menitikberatkan pada bagian bokong, seperti menekuk lutut atau 
jongkok,” katanya.

Selain pembentukan alami dengan latihan, ada juga yang mengambil jalan pintas, seperti sedot lemak dan operasi plastik dengan implan (butt implant). Pada implan, bokong anda akan disusupkan bahan pembesar seperti silikon atau saline pada otot bokong. Namun beresiko sangat tinggi. Alasannya karena bokong setiap saat selalu diduduki, sehingga resiko silikon atau saline untuk pecah sangatlah tinggi. Selain itu kemungkinan silikon atau saline tersebut akan bergeser ke tempat lain karena sering diduduki. 
Di Inggris, yang juga demam bokong Brazil atau Bokong ala Pippa Middleton bahkan sampai 
memakai korban. Seperti dilansir Femalefirst, penyanyi hip-hop Inggris Claudia Aderotimi
meninggal di awal tahun lalu setelah dokter ilegal memasukkan silikon ke bagian bokongnya.

Sejak kasus Claudia itu, jika mau implan bokong,dokter menyarankan agar memilih ahli yang
 profesional dan bersertifikat ketika memutuskan untuk mengoperasi bokong. Jangan sampai 
gara-gara ingin bokong indah malah mempercepat ke jurang maut.
 HADRIANI P

Selasa, 14 Februari 2012

Pengalaman Erwin Arnada dan Tuduhan FPI

Ini dia pengalaman Pemimpin Redaksi Majalah Playboy Indonesia, Erwin Arnada yang dikerjain Front Pembela Islam.  Dalam artikel di bawahnya pembelaan dan Tuduhan Rizieq Shihab alias bis besar FPI. Silakan aja timbang-timbang.


http://m.salingsilang.com/baca/cerita-tentang-ormas-versi-erwinarnada

Cerita Tentang Ormas Versi @erwinarnada

Minggu siang, 12 Februari 2012, Erwin Arnada
(@erwinarnada<http://twitter.com/erwinarnada>),
membuat serial*tweet,* mengungkap fakta baru di balik proses peradilan
pidana yang dialaminya, saat menjadi Pemimpin Redaksi Majalah
*Playboy* Indonesia.
Ia menceritakan pengalamannya berurusan dengan salah satu Ormas yang ikut
melaporkan dirinya ke Polisi  dalam kasus pidana Majalah *Playboy*
 Indonesia.

Sekadar mengingatkan. Dalam kasus Playboy, di tingkat kasasi, Erwin  sempat
dijatuhi hukuman 2 tahun
penjara<http://www.voa-islam.com/news/indonesia/2010/08/26/9546/fpi-kejar-dan-tangkap-pemred-playboy/>
oleh
MA.  <http://megapolitan.kompas.com/read/2011/06/24/17015782/Erwin.Armada.Bebas.Hari.Ini>Sebelumnya,
di Pengadilan tingkat pertama di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan
tahap banding di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, Erwin Arnada dinyatakan
bebas dari dakwaan jaksa penuntut. Lalu, jaksa kemudian mengajukan kasasi.

Erwin, bebas setelah Peninjauan Kembali yang diajukan Erwin, diterima oleh
MA<http://megapolitan.kompas.com/read/2011/06/24/17015782/Erwin.Armada.Bebas.Hari.Ini>.
Berikut serial *tweet* @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada> mengenai
ormas tersebut:

   1. @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada>: Nih ya, buat yg ngeyel
   belain ormas pengacau itu.Gw ceritain gimana mrk sangat 'ekonomis' ,
   artinya koar- koar Allahu Akbar demi uang.
   2. @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada>: Bermula saat saya
   menang sidang di PN jakarta selatan. April 2007. Tau mrk kalah, lima
   panglima ormas coba baik-baikin sy. Nyusul ke bali.
   3. @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada>: 3 anggota ormas bikin
   deal, gak akan naik banding ke pengadilan tinggi.2 syaratnya : minta
   diundang ke bali dan dibayarin naik haji.so funny
   4. @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada>: Akhirnya sy coba
   ikutin. Tp cuma kasi 2 org ongkos naik haji. Trus 3 orang boleh diundang ke
   bali,krn kantor playboy pindah ke bali
   5. @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada>:Asisten sy
@13Rudi<http://twitter.com/13Rudi> yg
   nemenin 3 anggota ormas saat di Bali.diajak ke bacio dan double six. Minum
   JD,tanpa malu malu. Mulai jelas munafiknya
   6. @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada>: Minta duit akomodasi 3
   hari di bali. Sy kasi. Di Huu Bar mrk minta disediain cw bule ke kami. Di
   sini saya teriak"kita bukan pimp ,tai!
   7. @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada>: Sy bilang jg bule yg
   ke bali bkn pelacur.jgn asal !.asisten
sy@13Rudi<http://twitter.com/13Rudi> akhirnya
   sy minta ajak mrk hangout ke tmpat mrk pilih.dibayarin semua
   8. @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada>: Sampe hari ini sy gak
   tau tuh mrk dibawa ke mana sama asisten sy.yg jelas mereka puas. Dan
   nyanjung2 sy sebagai panglima playboy pemberani.
   9. @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada>: 3 bulan kemudian, sy
   dikasitau kalo pelapor sy, ajukan banding ke pengadilan tinggi. Fuck ! Sy
   diboongin. Udah foya foya mrk
   10. @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada>: sy protes, mrk bilang
   "naik banding itu keputusan pusat,kami korwil jakarta selatan" WTF. Sy
   curiga duit buat naik haji dipake buat hal lain
   11. @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada>: Akhirnya sy kalah di
   kasasi, dijeblosin ke LP Cipinang 8,5 bulan. Sampe akhirnya sy berjuang
   ajukan PK ke mahkamah agung. Dan dikabulkan
   12. @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada>: Salah 1 panglima
   ormas ngunjungi sy di cipinang. Minta maaf,ngaku sudah gak aktif di ormas.
   Dia keluar krn inget anak istrinya.dia nyesel
   13. @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada>: Jadi kalo sampe
   sekarang @13Rudi <http://twitter.com/13Rudi> selalu ngecam ormas tsb, ya
   wajar. Dia saksi kemunafikan org yg ngaku plg bermoral dan nentang playboy
   14. @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada>: Kebetulan juga
@13Rudi<http://twitter.com/13Rudi> punya
   keluarga dan pernah tinggal di kalteng. Jd dia tau Kalteng hrs bersih dari
   ormas munafik itu
   15. @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada>: Penolakan masy
   Kalteng sy pikir sebuah sikap yg layak ditiru.penolakan berdasar sejarah
   dan fakta. Demi kedamaian !
   16. @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada>: Cerita sy tadi utk
   gambarkan bahwa gerakan / teriakan Allahu Akbar mereka didasari hitungan
   ekonomi!Bukan soal moral/keyakinan agama islam
   17. @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada>: Sekian !.Buat partai
   berlabel agama yg memodali/back up ormas,spt diakui anggota yg insyaf. Sy
   cuma mau bilang SCREW YOU with ur politic!
   18. @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada>: Mohon maaf ya jika
   twit sy nyampahin TL anda dgn cerita soal ormas
   19. @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada>: Yg paling lucu dan
   ironi adlh saat 200 angg ormas itu pertama kali nyerbu ktr playboy di
   sebelah citos. 10 org dari mrk saya undang diskusi
   20. @erwinarnada <http://twitter.com/erwinarnada>: Mrk hujat,ancam sy.
   Eh pas mau pulang mrk liat pintu kaca ktr dgn logo playboy (rabbit head)
   ukuran besar.Mrk berfoto,pose rame 2 . Absurd


2012/2/14 bulbul tuptup <bulbul_tup@yahoo.com>

> **
>
>
> Empat Kelompok Jahat Berkonspirasi Membubarkan FPI
> Senin, 12 Juli 2010 | 16:28 WIB
> Wawancara dengan Ketua Umum DPP Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq
> Syihab Seputar Konspirasi Jahat Pembubaran FPI
>
> Sebagai
> salah satu kekuatan massa umat Islam Indonesia, Front Pembela Islam
> (FPI) yang beranggotakan 7 juta orang dianggap paling berbahaya bagi
> musuh-musuh Islam. Pasalnya, FPI dinilai paling keras dalam memberantas
> kemaksiyatan sebagai wujud dari pelaksanan amar makruf nahi mungkar di
> Indonesia. Maka tidaklah mengherankan jika mereka bersatu dan melakukan
> konspirasi dengan menghalalkan segala cara untuk membubarkan FPI.
>
> Sejak
> tahun 2006, FPI berusaha diadu domba dan difitnah, agar pemerintah
> memiliki dalih untuk membubarkan FPI. FPI berusaha dibenturkan dengan
> Banser dan terakhir dengan Satgas PDIP. Namun perilaku jahat kelompok
> Liberalis itu selalu mengalami kegagalan. Terakhir pada peristiwa
> Banyuwangi (24/6) lalu, dimana FPI difitnah akan membubarkan
> sosialisasi kesehatan yang dilakukan tiga anggota DPR RI, namun
> nyatanya konsolidasi para eks tapol PKI.
>
> Berikut ini wawancara
> dengan Ketua Umum DPP FPI, Habib Rizieq Syihab, seputar konspirasi
> jahat untuk membubarkan FPI. Jika sampai berhasil, maka akan menjadi
> langkah awal untuk membubarkan ormas-ormas Islam di Indonesia yang
> dinilai keras menentang kedholiman dan ketidakadilan.
>
> Apakah ada konspirasi untuk membubarkan Front Pembela Islam (FPI)  pasca
> peristiwa Banyuwangi atau sebelumnya ?
>
> Sebetulnya
> konspirasi sejumlah pihak untuk pembubaran FPI sudah berlangsung sejak
> lama. Kita juga sudah mengidentifikasi pihak-pihak yang melakukan
> konspirasi untuk membubarkan FPI.
>
> Pertama, kelompok mafia,
> yang memang selama ini FPI dianggap sebagai momok yang sangat
> menakutkan sekaligus menganggu bisnis haram mereka. Adapun yang saya
> maksud mafia disini, apakah mereka yang terlibat dalam sindikat
> narkoba, film-film porno, perjudian, pelacuran dan sebagainya. Ini
> semua sudah menjadi sindikat dan bukan kejahatan biasa, sementara FPI
> sejak lahir sangat concern dalam persoalan tersebut.  FPI banyak
> mengungkap, menguak bahkan memejahijaukan mereka sehingga sudah jelas
> mana kelompok mafia ini menjadikan FPI sebagai musuh. Mereka mempunyai
> kepentingan untuk membubarkan FPI.
>
> Kedua, yang masuk dalam
> konspirasi adalah kelompok liberal. Karena mereka melihat FPI secara
> fulgar melakukan konfrontasi terhadap gerakan-gerakan kaum liberal.
> Artinya FPI tidak lagi sembunyi-sembunyi bahkan perang pemikiran
> maupun  perang di lapangan sekalipun. Karena kalau kita lihat peristiwa
> perjuangan RUU Pornografi dan Pornoaksi, bagaimana kelompok liberal
> memanfaatkan preman-preman untuk menyerang posko FPI di berbagai
> daerah. Jadi artinya mulai perang pemikiran sampai perang otot.
> Belakangan kita lihat banyak usaha kaum liberal yang kandas, apakah itu
> judicial review UU Pornografi, UU Penistaan Agama. Termasuk juga upaya
> mereka memanfaatkan Gus Dur untuk membatalkan TAP MPRS No XXV/MPRS/
> 1966 soal PKI, tetapi kan usaha mereka kandas. Sebetulnya kandasnya
> mereka bukan hanya karena perjuangan FPI, tetapi semua ormas Islam.
> Cuma karena FPI dianggap terlalu fulgar, mungkin lebih meninjau atau
> mungkin konfrontasinya lebih terbuka, sehingga mereka melihat FPI
> sebagai musuh utama. Jadi kelompok liberal ini masuk dalam konspirasi
> tersebut.
>
> Ketiga, kelompok Kristen radikal. Radikalisme ada di
> semua kelompok. Kelompok Kristen radikal mempunyai catatan tersendiri
> terhadap laskar-laskar Islam, mulai dari peristiwa Ambon hingga Poso.
> Dimana salah satu diantaranya adalah FPI. Ditambah lagi gerakan Kristen
> radikal ini yang mencoba mendirikan gereja-gereja liar di berbagai
> tempat. Jadi bukan geraja resmi yang mempunyai ijin resmi dan sesuai
> dengan peruntukannya, no problem. Markas FPI di Petamburan Jakarta
> Pusat ini sekitarnya ada 5 gereja, hubungannya dengan FPI saat ini
> baik-baik saja. Bahkan para pendetanya suka sowan kemari dan kita
> diskusi, no problem. Kenapa, karena gereja-gereja ini resmi punya ijin
> dan sesuai dengan peruntukannya. Sementara kalau ruko jadi gereja, kan
> lain cerita. Berarti peruntukannya untuk rumah tinggal dan toko, kok
> tiba-tiba berubah jadi gereja.
>
> Sebetulnya penutupan
> gereja-gereja liar ini merupakan gerakan masyarakat, tetapi lagi-lagi
> FPI yang dituduh. Mungkin dalam gerakan tersebut ada warga FPI yang
> ikut bersama masyarakat. FPI kan sekarang dimana-mana ada, warganya
> juga dimana-mana ada. Tidak selalu perbuatan mereka mengatasnamakan
> organisasi FPI. Ada kalanya mereka bergerak atas nama organisasi tetapi
> ada kalanya atas nama masyarakat, jadi mereka tidak sendiri. Kalau
> mereka bersama masyarakat setempat, jangan salahkan FPI. Tetapi walau
> bagaimanapun juga, keterlibatan warga yang berafiliasi kepada FPI ini
> akhirnya membuat FPI terseret juga, Sehingga bagi kelompok Kristen
> radikal, FPI menjadi musuh utamanya. Jadi ada kelompok mafia yang
> merasa bisnis haramnya terganggu, ada kelompok liberal yang aqidah
> sesatnya juga terganggu dan ada kelompok Kristen radikal yang gerakan
> Kristenisasinya juga terganggu.
>
> Keempat, adanya konspirasi
> politik. Kelompok-kelompok politik melihat banyak kepentingan politik
> mereka yang terganggu dengan gerakan-gerakan ormas Islam. Sekarang ada
> konspirasi, dimana kelompok politik ingin mengoalkan suatu UU,
> tiba-tiba UU ini berbenturan dengan Syariat Islam.  Secara otomatis
> akan berhadapan dengan gerakan Islam dan salah satunya adalah FPI.
> Mungkin dimata mereka FPI dilihat terlalu fulgar melakukan konfrontasi,
> sehingga dianggap menganggu agenda politik mereka. Jadi konspirasi
> antara kelompok mafia, liberal, Kristen radikal dan politik. Mereka
> bersatu untuk menjadikan FPI sebagai musuh bersama.
>
> Berarti mereka mencari momentum yang tepat untuk membubarkan FPI ?
>
> Akhirnya
> mereka mencoba mencari momentum untuk pembubaran FPI. Momentum apa saja
> yang mereka dapat, apakah momentum peristiwa Depok, dimana ada kontes
> waria yang dibubarkan warga yang didalamnya juga ada FPI. Bagaimana
> dengan peristiwa Bekasi, dimana ada patung yang dirubuhkan, walaupun
> sebetulnya yang merubuhkan patung adalah Walikota Bekasi, bukan FPI
> atas desakan masyarakat. Tetapi di media massa yang dituduh kan FPI.
>
> Kenapa
> peristiwa Banyuwangi dianggap momentum, karena memang lebih dahsyat
> daripada Bekasi, Singkawang dan Depok. Persoalannya ada tiga anggota
> DPR RI yang katanya sedang melakuan kunjungan kerja.  Artinya, kalau
> melibatkan anggota DPR RI berarti bersingungan dengan lembaga tinggi
> negara. Ini berarti bisa dikatakan subversib kalau membubarkan acara
> negara. Meraka lihat ini momentum penting untuk dibenturkan dengan
> berita FPI telah membubarkan kunjungan kerja anggota DPR RI dan FPI
> mengusir anggota DPR RI.
>
> Peristiwa Banyuwangi mereka jadikan
> momentum untuk membubarkan FPI. Cuma mereka kecelek, mereka salah
> fakta, karena ternyata di Banyuwangi, subhanallah nasrullah. Tepatnya
> pada 25 April 2010 lalu, DPW FPI Banyuwangi dibekukan karena ada
> konflik internal diantara mereka yang terkait Pilkada. Kemudian sikap
> politik dari para pengurus FPI berbeda, yang membuat mereka ada sedikit
> konflik. Kemudian kita tugaskan Sekjen FPI untuk menyelesaikannya dan
> akhirnya disepakati supaya tidak ada fihak yang dimenangkan dan
> dikalahkan, maka dibekukan dulu. Berarti, kalau sudah dibekukan tidak
> boleh ada pergerakan apapun atas nama FPI. Tahu-tahu mereka
> mengkaitkannya dengan FPI, kan salah fakta dan mereka kecelek. Pada
> peristiwa ini kan tidak ada yang memakai seragam FPI. Jadi
> kesimpulannya, mereka salah fakta. Mereka sudah ramai-ramai ingin
> membubarkan FPI, ternyata salah fakta.
>
> Begitu Munarman, Ustad
> Awit dan Ustad Khathath tampil di televisi, dengan debat terbuka dan
> kita ungkapkan fakta-faktanya, akhirnya mereka malu sendiri. Karena
> mereka malu, maka mereka lari ke berbagai peristiwa sebelumnya seperti
> insiden Monas. Sekarang semua film yang ditayangkan Metro TV, RCTI atau
> televisi swasta lainnya, itu peristiwa yang sudah diadili, sudah
> divonis dan pelakunya sudah dipenjara, artinya sudah inkracht dan
> sudah selesai. Tidak ada satu persoalan hukum yang diadili sampai dua
> kali. Kalau persoalan hukumnya telah selesai, kok televisi mengadili
> lagi. Pengadilan saja tidak berhak untuk mengadili lagi, apalagi
> televise. Jadi kesimpulannya, mereka kecelek.
>
> Mengapa selama ini media massa terutama televisi dan koran selalu
> memojokkan FPI, bagaimana tanggapan Habib ?
>
> Kalau
> media massa memojokkan FPI, memang ada beberapa asumsi. Pertama,
> kelompok-kelompok yang memusuhi FPI adalah kelompok beruang seperti
> kelompok mafia, liberal, Kristen radikal dan kelompok politik. Meraka
> bisa dengan mudah untuk memberi siaran televisi. Jadi ini hanya
> persoalan duit, siapa yang bisa bayar itu yang mereka beritakan dengan
> senang hati.
>
> Saya kasih contoh, pada saat Ustad Awit tampil di
> salah satu televisi dengan menyerahkan salah satu film ceramah  Ribka
> Tjiptaning di Banyuwangi, mereka kita tantang untuk berani setel ini
> karena isinya soal PKI, ternyata mereka tidak berani. Adapun yang
> disetel lagi ribut-ributnya.  Tetapi ceramah Ribka soal PKI di
> Banyuwangi selama 20 menit, kok tidak berani mereka setel. Apa karena
> FPI tidak bayar, kalau disuruh bayar nanti dulu. Tadi itu asumsi
> pertama, tetapi indikasinya kan kuat siapa punya duit bisa menguasai
> media massa.
>
> Kedua, jangan lupa, hampir semua stasiun televisi
> tidak ada yang luput dari protes FPI. Hampir semua televisi pernah
> didemo oleh FPI. Biasalah, mungkin mereka tersinggung karena pernah
> didemo FPI. Jadi mereka enggan untuk menyiarkan berita-berita yang
> menurut mereka dapat mengangkat citra FPI. Jadi sepertinya ada sakit
> hati dan dendam kepada FPI yang pernah mendemo mereka. FPI tidak peduli
> kalau mereka salah kita demo. Metro TV, SCTV, RCTI dan Indosiar pernah
> kita demo, bahkan TVRI pernah kita demo.  Televisi mana yang tidak
> pernah kita demo. FPI tidak peduli  mendemo televisi, yang penting
> kalau salah ya kita protes. FPI tidak peduli apakah beritanya akan
> dimuat  atau tidak dimuat di televisi. Itu asumsi kedua, artinya
> indikasinya kan ada.
>
> Ketiga, ini yang paling kuat. Sesuai dengan dokumen Rand Corporation,
> disitu ditulis donasi-donasi AS dan sekutunya memang berupaya dengan
> segala kekuatan finansialnya untuk membeli media massa. Paling tidak,
> kalau tidak beli ya mereka kuasai. Itu memang ada dalam Rand Corporation,
> itu artinya terperinci betul. Adapun yang menarik disitu juga
> disebutkan, kalau ada perbuatan-perbuatan yang menaikkan citra yang
> dilakukan kelompok Islam manapun tidak boleh dimuat. Bukan hanya FPI,
> tetapi kelompok Islam manapun. Sebaliknya, kalau ada
> perbuatan-perbuatan yang sekiranya dapat menurunkan citra kelompok
> Islam, maka harus dimuat dan harus diulang-ulang.
>
> Makanya jangan
> kaget, kita bisa lihat acara di Metro TV dan SCTV, peristiwa
> penyerangan tempat biliar yang dijadikan ajang judi oleh laskar FPI
> tahun 2002 atau sudah 8 tahun lalu. Tetapi film itu selalu diulang,
> kadang-kadang kalau diulang seperti peristiwa Banyuwangi filmnya selalu
> diulang. Berarti apa yang dilakukan SCTV dan Metro TV serta beberapa
> televisi lain sesuai dengan dokumen Rand Corporation. Bukan saya mencoba
> mengkait-kaitkan, tetapi faktanya memang begitu.
>
> Apa isi dokumenRand Corporation ?
>
> Dalam
> dokumen itu juga disebutkan, kalau kelompok-kelompok Islam yang mereka
> anggap sebagai musuh, kalau menyebutkan identitas cukup nama saja,
> tidak perlu disebut titelnya seperti Prof Dr dan sebagainya.  Kalau
> Kyai Haji  dan Habib jangan disebut KH dan Habibnya. Kalau Ustad jangan
> disebut ustadnya, pokoknya disebut namanya saja. Tetapi sebaliknya,
> kalau kelompok yang mendukung mereka harus disebut dengan lengkap
> titelnya, seperti Prof, Dr, PhD, MA, MSc dan sebagainya, itu tertulis
> dalam dokumen Rand Corporation. Jadi dengan demikian, ini
> memang grand design mereka. Jadi tidak perlu kaget dan ini tidak akan
> menjadi yang terakhir. Besok pasti mereka akan mencari lagi momentum
> untuk membubarkan FPI, dan  itu akan terus berlangsung sampai mereka
> berhasil membubarkan FPI. Kita harapkan sekarang gerakan Islam semakin
> merapatkan barisan dan memperkokoh ukhuwan Islamiyah, karena sebetulnya
> yang ditarget itu bukan hanya FPI saja tetapi semua gerakan Islam.
> Mungkin FPI dianggap sebagai pintu gerbangnya untuk dibobol terlebih
> dahulu.
>
> Apa kerugian yang akan dialami bangsa Indonesia seandainya FPI sampai
> dibubarkan ?
>
> Secara
> pribadi kalau FPI dibubarkan tidak ada masalah.  Kalau hari ini Front
> Pembela Islam dibubarkan, maka besok akan saya bikin Front Pecinta
> Islam. Dengan singkatan yang sama, pengurus yang sama, gerakan yang
> sama dan wajah yang sama pula, kan UU tidak melarang. Jadi saya tidak
> pernah pusing dengan pembubaran. Nanti kalau Front Pecinta Islam juga
> dibubarkan, maka akan saya bentuk Front Penyelamat Islam. Jadi mengapa
> pusing-pusing, saya tidak pernah pusing mengenai pembubaran ini, tidur
> saya tetap nyenyak.
>
> Jadi saya bicara pribadi, artinya yang ingin
> saya tekankan, ada FPI atau tidak ada FPI amar makruf nahi mungkar
> tetap wajib dijalankan. Ada FPI atau tidak ada FPI, perjuangan para
> kader FPI yang ada dimana saja tetap berjalan. Artinya, saya dan
> kawan-kawan yang ada di FPI tidak pernah menjadikan FPI sebagai tujuan
> perjuangan. Kita selalu mengingatkan, FPI cuma kendaraan. Jadi kalau
> kendaraan ini rusak ditengah jalau atau dibakar orang atau dicuri orang
> atau kendaraan terbalik dan tidak bisa dipakai lagi, kita ganti
> kendaraan yang lain. Kenapa susah-susah amat karena FPI bukan  tujuan.
> Tujuan kita hanya mencari ridha Allah, tujuan kita liilai kalimatillah
> subhanahu wa taala. Jadi bukan tujuan kita mencitrakan FPI, membaguskan
> FPI, membesarkan FPI. Itu hanya proses perjuangan, tujuannya liilai
> kalimatillah subhanahu wa taala.
>
> Itu yang secara pribadi saya
> melihat wacana pembubaran FPI, bahkan saya katakan bukan wacana lagi.
> Sebab ini sudah merupakan gerakan  sistimatis  yang dilakukan
> musuh-musuh Islam untuk membubarkan FPI. Tetapi memang kalau kita
> bicara secara umum buat masyarakat kasihan.  Kalau  ormas Islam bukan
> hanya FPI  yang concern terhadap amar makruf nahi mungkar terhadap
> penegakan keadilan melawan kedholiman. Kalau yang seperti ini sampai
> dibubarkan, kasihan umat Islam itu sendiri.  Artinya kekuatan mereka
> semakin lemah, kekuatan pembelaan mereka semakin surut. Bahkan kita
> khawatirkan  begitu ada ormas Islam semacam FPI yang dibubarkan,
> jangan-jangan nanti ada masyarakat yang takut untuk berjuang. Itu yang
> kita khawatirkan. Artinya mereka nanti akan menjadikan proyek
> percontohan. Jangan keras-keras, nanti nasibnya akan seperti FPI. Nanti
> kita jadi takut melawan kedholiman, kemungkaran, mafia, bajingan dan
> takut melawan okum pejabat yang bejat akhlaknya, ini berbahaya. Jadi
> kalau ada pembubaran suatu ormas Islam, ini kan melemahkan semangat
> juang umat Islam Indonesia. Walaupun secara pribadi kita tidak akan
> kendor, walaupun dibubarkan sepuluh kalipun kita tetap akan berjuang.
> Tetapi umat yang awam kan tidak begitu fikirannya.
>
> Jadi
> kalau FPI dibubarkan, berarti akan mengulang sejarah ketika Soekarno
> meminta Masyumi membubarkan diri atau dibubarkan tahun 1960 lalu ?
>
> Kalau
> kita kembali kepada sejarah Sukarno, ini kan sejarah yang sangat
> ironis. Tatkala Masyumi dituduh terlibat dalam PRRI,  ini kan tuduhan
> dan firtnah, Masyumi kemudian dibubarkan. Tetapi begitu PKI yang
> nyata-nyata berkhianat, Sukarno tidak membubarkannya. Ini fakta
> sejarah, ada apa ? Seharusnya Sukarno bersikap adil. Kalau Masyumi
> dibubarkan, PKI yang terlibat pemberontakan G30S seharusnya dibubarkan.
> Ini lebih berbahaya,  tetapi  nyatanya tidak dibubarkan Sukarno.
>
> Sejak
> zaman kemerdekaan, terjadi pergulatan apakah itu ideologi, pertempuran
> fisik antara kelompok Islam dengan sekuler. Jadi kelompok sekuler ini
> memang selalu ingin menang sendiri. Jadi segala yang jelek dari sekuler
> mereka maklumi, tetapi apapun yang kelihatannya jelek dari kelompok
> Islam, kalaupun  tidak jelek mereka jelek-jelekkan. Itu akan dijadikan
> mereka alasan untuk penghancuran.
>
> Sekarang kalau kita bicara
> soal pembubaran, kita lihat alasannya. Apa alasan  mereka ingin
> membubarkan FPI, karena FPI melakukan sejumlah kekerasan. Saya tidak
> ingin membela diri. Katakanlah benar FPI melakuan kekerasan, itupun
> kekerasan harus kita diskusikan dulu. Apa betul itu kekerasan, apa
> betul itu kekerasan struktural yang dilakukan secara organisatoris atau
> bagaimana. Itu masih perlu diskusi dan pembuktian dulu, andaikata FPI
> dituduh keras dan musti dibubarkan. Pertanyaan kita, bagaimana dengan
> berbagai kekerasan yang dilakukan partai politik. Berbagai pilkada di
> daerah sejak reformasi hingga sekarang ini selalu diwarnai kekerasan.
> Ada pembunuhan, pembakaran gedung pemerintana, pembakaran mobil,
> pembakaran pom bensin, luar biasa. Itu yang tidak pernah dilakukan FPI.
> FPI tidak pernah bakar gedung pemerintah, FPI tidak pernah membunuh
> Ketua DPRD, ini kan massa partai.
>
> Kalau FPI dibubarkan, Parpol harus juga dibubarkan ?
>
> Jadi
> kalau massa FPI melakukan kekerasan FPI nya harus dibubarkan, maka
> logikanya kalau massa partai melakuan kekerasan, maka partainya harus
> juga dibubarkan. Sekarang massa PDIP, PKB dan Demokrat melakukan
> kekerasan. Kalau begitu PDIP, PKB dan Demokrat harus dibubarkan. Ini
> kalau kita memakai logika pembubaran. Jadi tidaklah adil jika ada massa
> FPI melakukan kekerasan maka FPI dibubarkan. Tetapi kalau massa partai
> yang melakukan kekerasan, partainya tidak dibubarkan, enak betul !
> Memang yang punya negara ini partai ! Kekerasan yang dilakukan massa
> partai lebih dahsyat, lebih keras bahkan biadab. Masak Ketua DPRD
> Sumatera Utara sampai dibunuh di dalam Gedung DPRD. Pembakaran gedung
> kabupaten seperti di Tuban dan pembakaran mobil di Mojokerto. Apa ada
> aksi FPI semacam itu. Apa ada massa FPI seperti itu. FPI paling-paling
> memakai pentungan. Adapun yang dirusak cuma kaca biliar dan tidak lebih
> dari itu. Ini kalau kita bicara fakta. Kalau pemerintah ingin
> membubarkan FPI, maka PDIP, PKB, Demokrat dan Golkar juga dibubarkan,
> jadi sama-sama bubar, termasuk negara ini juga bubar.
>
> Selama ini kelompok liberal ingin membenturkan FPI dengan massa Gus Dur
> dan sekarang PDIP, tetapi usaha mereka selalu gagal ?
>
> Kelompok
> liberal ini tidak mempunyai massa, tidak mempunyai grass-roots. Mereka
> antek Barat dan hanya mampu membuat LSM-LSM komprador. Mereka dibantu
> dengan bantuan asing, ini mereka sendiri yang mengakuinya.   Kalau kita
> ingin bicara jujur, FPI ingin dibubarkan karena  melangar UU No. 8
> Tahun 1985 tentang Keormasan. Sekarang salah satu larangan dalam UU
> Keormasan adalah menerima bantua luar negeri atau asing. LSM yang
> dibuat kelompok liberal, semuanya menerima bantuan asing.  Bubarkan
> meraka dulu, FPI sudah siap untuk dibubarkan. Jadi kita bubar-bubaran,
> mereka ini tidak bercermin. Jadi kalau ada pepatah  mengatakan kuman
> disebarang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.  Kesalahan
> FPI yang kecil jauh mereka lihat, tetapi kesalahan mereka yang besar
> dalam diri  mereka sendiri, tidak mereka lihat.
>
> Kelompok liberal
> memang tidak punya massa. Masyarakat mana yang mau jadi antek asing.
> Serendah-rendahnya pendidikan, pemikiran, status sosial dan ekonomi
> masyarakat Indonesia, secara umum mereka masih mempunyai ras cinta
> tanah air, cinta bangsa dan negara. Mereka tidak mau menjual negaranya
> untuk orang asing. Sehingga kelompok liberal tidak mendapatkan tempat
> di tengah masyarakat dan mereka tidak mempunyai kekuatan grass-roots.
> Adapun yang mempunyai kekuatan grass-roots di Indopnesia seperti NU dan
> Muhammadiyah. Kalau partai politik seperti PDIP yang mengakar ke bawah.
>
> Kelompok
> liberal  melihat FPI sebagai ancaman dan FPI mempunyai kekuatan
> grass-roots kebawah. Bagaimana cara untuk menghadapi FPI, mereka
> berusaha untuk menunganggi NU tetapi tidka berhasil. Karena waktu itu
> Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi, beliau dikenal orang baik, cerdas dan
> tidak bisa ditunggangi oleh Ulil dan kawan-kawan. Karena itu ketika
> tersiar kabar di beberapa daerah terjadi konflik antara massa FPI
> dengan NU, KH Hasyim Muzadi langsung klarifikasi.  Itu ternyata bukan
> NU, tetapi massa preman yang dibayar suatu kelompok dan dipakaikan baju
> NU. Akhirnya kebongkar semua dan mereka cuma ingin mengadu domba.
>
> Dikabarkan
> ada  seorang tokoh yang kirim Banser palsu ke Pengadilan, tetapi
> ternyata itu preman yang diberi baju Banser. Padahala Banser sendiri
> tidak tahu menahu. Berbagai cara kotor seperti ini dilakukan kelompok
> liberal. Karena Gus Dur sudah meninggal dunia dan mereka menunganggi NU
> sudah tidak ada pintunya, maka sekarang mereka mencoba menunganggi
> PDIP. Kebetulan ada kasus Banyuwangi PDIP sedang marah, maka masuk Ulil
> ngipasin PDIP. Kebetulan Ulil pengurus Partai Demokrat. Maka kita
> sampaikan informasi itu ke PDIP, apa anda mau ditunganggi sama Partai
> Demokrat dan diadu dengan FPI, sehingga PDIP jadi mawas diri.
>
> Abdul Halim/suara-islam.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...