Minggu, 03 Juni 2012

Pastor Mun Jeong Hyeong : Ingin Langung Naik Kereta ke Pyongyang



Lelaki tua berjanggut putih itu tampak seperti menggendong sesuatu di atas dadanya. 
Bukan bayi, tapi tangannya sendiri. “Ya, gipsnya baru dibuka hari ini, tapi masih sakit 
jika diluruskan,”kata Pastor Mun Jeong Hyeong saat ditemui Ahmad Taufik dari TEMPO di 
The Ma18 Memorial Hall, Gwangju, Korea Selatan, medio mei lalu (17/5). “Anak” yang digendong juru dakwah Katolik itu akibat perbuatan polisi penjaga pantai Korea
 Selatan. Pastor Mun didorong dari ketinggian tujuh meter, saat melindungi para 
pemrotes dalam unjuk rasa damai anti pembangunan pangkalan Angkatan Laut Amerika
 Serikat di Desa Gangjeong, Pulau Jeju. Akibatnya, tangan dan bahunya patah, serta
4 rusuk tulang belakangnya retak. “Saya merasa sudah tak bisa hidup lagi,”ujarnya.

Dokter memperkirakan kesehatan Pastor kelahiran kelahiran Iksan, Provinsi Jeolla,
 KoreaSelatan, 72 tahun yang lalu itu, baru bisa sembuh minimal enam bulan. Tapi
 setelah 13 hari sejak kecelakaan itu ternyata Pastor Mun sudah bisa bangkit.”Ini
 mukjizat, saya bisahidup sampai sekarang,”katanya usai menerima penghargaan hak 
asasi manusia Gwangju 2012 dari The May 18 Memorial Foundation, pertengahan Mei 
lalu.

Sehari menjelang menerima penghargaan itu Pastor Mun menerima Ahmad Taufik dari 
Tempo dan Pravit dari Harian The Nation, Bangkok, untuk wawancara khusus. Inilah 
petikan wawancaranya:

T:Kenapa anda menentang pembangunan Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat
 Gangjeong itu?
 
J : Pembangunan pangkalan angkatan laut Amerika Serikat itu tidak demokratis dan 
merusak ekosistem kepulauan tersebut. Masyarakat setempat yang menentang 
pembangunan itu ditakut-takuti dan ditahan. Ini, kan, gak benar untuk negara kami 
yang menjunjung demokrasi.

(saat kejadian 14 April,  12 orang ditangkap termasuk dua perempuan. Saat memasuki 
kawasan karang Gureombi, yang mau dilindungi masyarakat dari kerusakan akibat
 pembangunan pangkalan militer itu)
 
T :Menurut anda ada yang salah dalam pembangunan ini selain dua alasan tadi?

J : Saya merasa ada hubungan yang tak seimbang antara Korea Selatan dan Amerika
Serikat. Kami ini seperti budaknya, Amerika. Semenanjung Korea panas terus menerus dengan kehadiran militer Amerika Serikat.
Amerika Serikat, sepertinya mengepung Cina, dengan menempatkan pangkalan militer di Jepang, Australia, Hawai dan Korea. Tapi akibatnya merugikan rakyat Korea.

T : Bukankah Korea Selatan diuntungkan dengan kehadiran militer Amerika Serikat
disana, agar bisa meminimilasir ancaman dari Korea Utara?

J : Justeru, kehadiran Amerika Serikat ini yang menyulitkan hubungan dengan saudara
 kami di Utara.

T : Apa anda tak takut dituduh komunis atau antek Korea Utara?
(Pastor Mun langsung meledak marah suaranya meninggi)

J : Kalau bisa, saya ingin langsung naik kereta ke Pyongyang sekarang. Saya tak takut
 dicap sebagai apapun. Tugas saya sebagai pastor menjaga hubungan kemanusiaan antar sesama. Apalagi antara kami yang di selatan dengan saudara kami di (korea) utara. Keterpisahan kami sekian lama dan sulit menyambung, karena kehadiran (militer)
Amerika Serikat ini.

Pastor Mun sejak pertengahan 1970 sudah menentang diktator Korea, ketika rejim 
militer pimpinan Chun Do Hwan mengambil alih kekuasaan dan membunuh ribuan orang
 tanpa pengadilan di Gwangju. Dia juga mengorganisir masyarakat menentang percobaan
 senjata mliter di Kunsan, mendirikan kelompok Peace Wind Grup menentang pengiriman
 tentara Korea Selatan ke Afghanistan dan Irak di bawah koordinasi AS.

T : Apakah benar masyarakat setempat tak setuju, apa klaim anda saja?
 
J : Delapan puluh persen masyarakat Desa Gangjeong tak setuju, namun pembangunan
tetap dilanjutkan. Masyarakat setempat tak berani bersuara, karena diancam militer
Korea dan Amerika. Apa ini yang namanya demokrasi? Kami sudah memperjuangkannya sejak pembantaian rakyat di Gwangju pada Mei 1980 oleh militer pimpinan Chun Do
 Hwan. Sekarang, Gangjeong sudah seperti Gwangju dulu. Jangan sampai terulang lagi.

T :Apa arti penghargaan Gwangju ini?
J :Saya kira spirit Gwangju terus mengalir dalam darah saya, dan saya merasa mendapat dukungan lebih besar bukan saja dari dalam negeri tapi juga masyarakat Asia dan dunia lainnya yang menginginkan keadilan dalam hubungan antar negara.

Pastor Mun adalah orang Korea Selatan pertama yang menerima penghargaan yang
 sudah diberikan sejak tahun 2000. Penerima pertama Pejuang Timor Leste, Xanana Gusmao, Aung San Su Kyi dari Burma juga pernah menerima penghargaan ini, dari Indonesia, Wardah Hafidz dari urban Poor Consortium juga pernah menerima
penghargaan tahunan ini. Pastor Mun menerima penghargaan 50 ribu US dolar. “Hadiah
 ini semuanya saya persembahkan untuk rakyat Gangjeong yang terus termiskinkan
 karena pembangunan Pangkalan militer AS itu,”katanya.
 
 “Saranghaeyo,”begitulah teriakan Pastor Mun bersemangat saat pidato pada
 penerimaan penghargaan itu. Diikuti teriakan serempak, para hadirin yang mengerti 
di tempat itu. Artinya, Aku Cinta Padamu (Korea). 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...