Rabu, 20 Juni 2012

FPI Pilih Obrak Abrik Tempat yang Tak Setor

Sardjono Kartosoewirjo: FPI Obrak-abrik Tempat Yang Tidak Beri Kontribusi


Sardjono Kartosoewirjo, putra bungsu pendiri DI/TII pernah menyaksikan aksi FPI
 merusak sebuah tempat hiburan.

Sardjono Kartosoewirjo memiliki penilaian sendiri tentang Front Pembela Islam
(FPI). Putra bungsu pendiri Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII),
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo itu pernah menjadi saksi bagaimana FPI
 merusak sebuah tempat hiburan.

Menurut cerita Sardjono yang disampaikan ke Beritasatu.com, awal pekan ini
(28/05), saat itu ia berkantor di Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) yang
berkantor di Kawasan Niaga Duta Merlin, Jakarta Pusat. Tahun 2007, Sardjono
lupa persis harinya, ruko di Duta Merlin digegerkan oleh aksi yang dilakukan FPI,
 Mereka merusak tempat billiard.

Atas nama menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar, FPI lalu merusak tempat
 billiard. "Forum Silaturrahmi Anak Bangsa (FSAB) itu dulu kantornya di Duta
Merlin Jakarta. Di depan kantor kita itu ada billiard, cafe, panti pijat plus plus.
Tapi yang diobrak-abrik itu yang billiard," kata Sardjono yang juga Wakil Ketua
FSAB.

Ia heran karena yang dirusak FPI cuma tempat billiard, padahal  tempat billiard itu
 terbuka. "Wong billiard itu terbuka, kelihatan dari jalan, gelas dan semua barang di situ
dipecah. Kenapa panti pijat, night club tidak diobrak-abrik," ujar Sardjono.

Dari kejadian itu Sardjono mengaku heran. "Berarti yang tidak ada kontribusi
diobrak-abrik. Saya di sana waktu mereka operasi, saya lihat dari kantor," ujarnya.
 Sardjono juga mendapat informasi kalau pemilik billiard yang  diobrak-abrik itu
juga protes ke Kodam, pasalnya mereka sudah lapor ke polisi dan tidak didengar.
"Maka dia ke Kodam dan minta FPI dibubarkan. Tapi kata Pangdam menyatakan
FPI masih dibutuhkan," katanya.

Gerakan anarkis berlatar belakang agama ini menurut Sardjono sulit dikendalikan.
"Karena orang yang jaga night club itu menyusup ke FPI dengan alasan mau tobat.
 Orang seperti ini nyumbangnya besar. Tapi setelah lama ia mulai mikir darimana
sumber makan. Karena tidak ada penghasilan dia balik lagi ke night club. Jadi dia
jaga plus pakai seragam FPI. Jadi kalau ada FPI datang obrak-abrik dia tahu
temannya," jelasnya.

Organisasi macam FPI ini, menurut Sardjono, akan beres dengan amplop. "FPI itu
kan sporasdis. Kalau dikasih amplop diam juga. Siapin amplop saja akan lewat.
Malah dia tahu kapan ada razia. Jadi dia tinggal siapkan amplop. Makanya aman-
aman saja night club. FPI anggaran dari mana. Ada yang nasih ya terima saja,"
 katanya.

Gerakan radikal dan intoleran seperti ini, kata Sardjono, menunjukkan
ketidakmurnian perjuangan Islam. "Saya tidak melihat perjuangan Islam yang
sekarang murni, terutama di level pimpinan. Sekarang itu  materi yang berkuasa,
yang dihormati yang berduit. Kehormatan harus dibeli dengan duit. Islam itu
sesuatu yang mahal. Membeli akhirat pakai jalan Islam itu mahal. Muhammad itu
kalau bukan jadi nabi akan jadi raja melanjutkan ayahnya yang penguasa Masjdidil
Haram. Nabi saja diperangi, diusir. Jadi kalau tidak bener-bener dipilih Allah untuk
 memperjuangkan Islam, dia tidak akan kuat dengan godaan materi," ujarnya.


catatan :
walaupun pilihan kasih, tak dibenarkan ormas melakukan kekerasan seperti itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...