Sardjono Kartosoewirjo: FPI Obrak-abrik Tempat Yang Tidak Beri Kontribusi
Sardjono Kartosoewirjo, putra bungsu pendiri DI/TII pernah menyaksikan aksi FPI
merusak sebuah tempat hiburan.
Sardjono
Kartosoewirjo memiliki penilaian sendiri tentang Front Pembela Islam
(FPI). Putra bungsu pendiri Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia
(DI/TII),
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo itu pernah menjadi saksi
bagaimana FPI
merusak sebuah tempat hiburan.
Menurut cerita
Sardjono yang disampaikan ke Beritasatu.com, awal pekan ini
(28/05),
saat itu ia berkantor di Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) yang
berkantor di Kawasan Niaga Duta Merlin, Jakarta Pusat. Tahun 2007,
Sardjono
lupa persis harinya, ruko di Duta Merlin digegerkan oleh aksi
yang dilakukan FPI,
Mereka merusak tempat billiard.
Atas nama
menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar, FPI lalu merusak tempat
billiard. "Forum Silaturrahmi Anak Bangsa (FSAB) itu dulu kantornya di
Duta
Merlin Jakarta. Di depan kantor kita itu ada billiard, cafe, panti
pijat plus plus.
Tapi yang diobrak-abrik itu yang billiard," kata
Sardjono yang juga Wakil Ketua
FSAB.
Ia heran karena yang
dirusak FPI cuma tempat billiard, padahal tempat billiard itu
terbuka.
"Wong billiard itu terbuka, kelihatan dari jalan, gelas dan semua
barang di situ
dipecah. Kenapa panti pijat, night club tidak
diobrak-abrik," ujar Sardjono.
Dari kejadian itu Sardjono
mengaku heran. "Berarti yang tidak ada kontribusi
diobrak-abrik. Saya
di sana waktu mereka operasi, saya lihat dari kantor," ujarnya.
Sardjono juga mendapat informasi kalau pemilik billiard yang
diobrak-abrik itu
juga protes ke Kodam, pasalnya mereka sudah lapor ke
polisi dan tidak didengar.
"Maka dia ke Kodam dan minta FPI dibubarkan.
Tapi kata Pangdam menyatakan
FPI masih dibutuhkan," katanya.
Gerakan
anarkis berlatar belakang agama ini menurut Sardjono sulit
dikendalikan.
"Karena orang yang jaga night club itu menyusup ke FPI
dengan alasan mau tobat.
Orang seperti ini nyumbangnya besar. Tapi
setelah lama ia mulai mikir darimana
sumber makan. Karena tidak ada
penghasilan dia balik lagi ke night club. Jadi dia
jaga plus pakai
seragam FPI. Jadi kalau ada FPI datang obrak-abrik dia tahu
temannya,"
jelasnya.
Organisasi macam FPI ini, menurut Sardjono, akan
beres dengan amplop. "FPI itu
kan sporasdis. Kalau dikasih amplop diam
juga. Siapin amplop saja akan lewat.
Malah dia tahu kapan ada razia.
Jadi dia tinggal siapkan amplop. Makanya aman-
aman saja night club. FPI
anggaran dari mana. Ada yang nasih ya terima saja,"
katanya.
Gerakan
radikal dan intoleran seperti ini, kata Sardjono, menunjukkan
ketidakmurnian perjuangan Islam. "Saya tidak melihat perjuangan Islam
yang
sekarang murni, terutama di level pimpinan. Sekarang itu materi
yang berkuasa,
yang dihormati yang berduit. Kehormatan harus dibeli
dengan duit. Islam itu
sesuatu yang mahal. Membeli akhirat pakai jalan
Islam itu mahal. Muhammad itu
kalau bukan jadi nabi akan jadi raja
melanjutkan ayahnya yang penguasa Masjdidil
Haram. Nabi saja diperangi,
diusir. Jadi kalau tidak bener-bener dipilih Allah untuk
memperjuangkan
Islam, dia tidak akan kuat dengan godaan materi," ujarnya.
catatan :
walaupun pilihan kasih, tak dibenarkan ormas melakukan kekerasan seperti itu.
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar