REVOLUSI DAMAI
Menyelamatkan NKRI dari Korupsi
dan Kerusakan Moral Ketatanegaraan
untuk Masa Depan Indonesia Lebih Baik
JAKARTA
– Penolakan terhadap kebijakan pemerintah, khususnya terkait rencana
penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) oleh masyarakat sipil yang
disuarakan mahasiswa, pelajar, buruh, petani, nelayan, kalangan
profesional, ibu-ibu rumah tangga
dan komponen bangsa lainnya,
merupakan cermin dari akumulasi ketidakpercayaan
rakyat terhadap rezim
SBY-Boediono yang ditengarai korup dan tidak berpihak kepada rakyat.
Terlepas
dari adanya berbagai trik, manipulasi dan agenda (politik) terselubung
sejumlah parpol yang melakukan konspirasi dengan penguasa,
digagalkannya rencana penaikan
harga BBM pada 1 April 2012 oleh DPR-RI
dalam Sidang Paripurna yang digelar pada 30 Maret lalu, lebih
menjelaskan kepada kita betapa rezim SBY-Boediono ini telah kehilangan
kredibilitas, akuntabilitas serta legitimasi moral dan politik.
Rencana
penaikan harga BBM memang berhasil ditunda. Tapi hanya sementara. Itu
juga akibat reaksi masyarakat yang meluas di antero negeri ini. Dan
semua itu harus kita bayar mahal karena rezim SBY-Boediono menggunakan
TNI-Polri bersenjata lengkap untuk merepresi aksi-aksi mahasiswa,
buruh, tani dan nelayan yang menentang kebijakan- kebijakannya yang
anti-rakyat.
Oleh sebab itu, kekecewaan dan penderitaan rakyat
kian hari akan kian meningkat, sebagaimana telah dan akan diekspresikan
civil society dalam berbagai bentuknya, mulai
dari yang jenaka, santun,
hingga pernyataan yang keras dan melampoi batas akibat kekecewaan
mereka tidak pernah direspon oleh para penyelenggara negara yang telah
menutup mata, telinga dan hati bagi jeritan rakyat.
Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam beberapa tahun terakhir ini
memang telah mengalami kerusakan di segala bidang kehidupan. Kondisi
sosial kemasyarakatan, politik, ekonomi, dan hukum mengalami kekacauan.
Berjalan tanpa dilandasi tata nilai dan moralitas. Korupsi telah
melanda ke segala penjuru negeri. Bahkan puluhan lembaga perguruan
tinggi, telah dijerumuskan dalam kubangan korupsi yang menggila.
Masyarakat semakin kehilangan kepercayaan pemerintah, juga rasa aman dan masa
depan secara berkepanjangan karena:
1. Pemerintah gagal menjalankan amanat UUD 1945, dan mengkhianati cita-cita
Proklamasi Kemerdekaan RI.
2.
Pemerintah membiarkan dan bahkan menjadi pelaku dalam berbagai
peristiwa
kekerasan dan pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM), baik yang
dilakukan aparat
maupun sesama warga bangsa.
3. Pemerintah
gagal mencerdaskan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, yang
ditandai
dengan diterbitkannya berbagai undang-undang dan peraturan yang lebih
berpihak kepada pemilik modal besar dan asing, dan tidak berpihak
kepada rakyat.
4. Pemerintah membiarkan korupsi meluas dan
merajalela, melibatkan para pejabatnya, mulai dari pusat kekuasaan
(Istana, anggota kabinet) sampai ke pejabat-pejabat di daerah terpencil.
Pada
zaman Orba, korupsi dan penyalahgunaan wewenang juga mewarnai
pemerintahan Soeharto. Tetapi tidak sedahsyat dan selaten seperti di
era rezim SBY-Boediono ini.
Karena itu, hanya kalangan intelektual,
media massa dan aktivis mahasiswa saja
memahami tingkat korupsi di
bawah rezim Soeharto.
Sekarang korupsi dilakukan secara
transparan dan berjamaah di kalangan para penyelenggara negara dan
orang-orang partai penguasa. Korupsi sudah dimulai saat
masih dalam
tingkat perencanaan di Eksekutif, di tingkat pembahasan anggaran di
Legislatif, hingga implementasinya dalam bentuk proyek-proyek
pemerintah yang melibatkan pelaku bisnis swasta (abal-abal) sebagaimana
diungkapkan M Nazaruddin, (mantan) Bendahara Umum Partai Demokrat
kepada publik, di pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) yang
melibatkan beberapa tokoh Partai Demokrat.
Akibatnya, korupsi
rezim SBY-Boediono ini menjadi begitu endemik,sehingga berdampak
langsung pada pertumbuhan ekonomi dan mempengaruhi kehidupan masyarakat
biasa. Bahkan melahirkan pelanggaran HAM karena para koruptor di
jajaran kekuasaan juga menggunakan aparat bersenjata (TNI-Polri) untuk
menghadapi rakyat yang mencoba memrotes tingkah-laku mereka yang korup.
Demokrasi
yang telah dibajak para perompak yang bermetomorfasa pada era
reformasi, memang telah melahirkan penguasa yang gemar menjarah
kekayaan negara demi kepentingan mereka dan kekuatan asing yang selama
ini menjaga dan membiayai
kekuasaan mereka.
Apakah kita akan
membiarkan rezim Pendusta, Korup dan pelaku Kekerasan (PKK)
di bawah
kendali SBY-Boediono? Apakah kita ikhlas melihat terjadinya kerusakan
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang makin dalam dan meluas di
republik yang kita cintai ini?
Mari kita rapatkan barisan.
Bersatu tekad melakukan Revolusi Damai guna
mengembalikan demokrasi ke
rel yang sesungguhnya. Agar mesin demokrasi bekerja sepenuhnya hanya
untuk rakyat, untuk negara dan bangsa.
Mari bersama-sama,
dengan cara-cara damai, kita percepat proses perubahan menuju Indonesia
yang lebih baik. Hanya dengan cara ini kita bisa membatalkan semua
undang- undang dan peraturan yang merugikan rakyat, dan menggantinya
dengan undang-
undang dan peraturan yang berpihak kepada kepentingan
umum, demi
menegakkan Ekonomi Konstitusi.
Jakarta, Senin, 2 April 2012
Salam Perubahan!
DR RIZAL RAMLI
Halo Setiap tubuh,
BalasHapusNama saya adalah Ibu Monica Roland. Saya tinggal di London Inggris dan saya seorang wanita senang hari ini? dan saya mengatakan kepada diri saya bahwa setiap pemberi pinjaman yang menyelamatkan keluarga saya dari situasi kita miskin, saya akan merujuk setiap orang yang mencari pinjaman kepadanya, dia memberi saya kebahagiaan bagi saya dan keluarga saya, saya sedang membutuhkan pinjaman sebesar $ 250,000.00 untuk memulai hidup saya seluruh karena saya seorang ibu tunggal dengan 3 anak-anak saya bertemu takut orang yang jujur dan ALLAH pemberi pinjaman yang membantu saya dengan pinjaman Dolar AS $ 250.000,00, ia adalah seorang ALLAH takut, jika Anda membutuhkan pinjaman dan Anda akan membayar kembali pinjaman silahkan menghubungi dia katakan padanya bahwa Ibu Monica Roland yang merujuk Anda kepadanya. Hubungi Pak James Tulang melalui email: (bestloansfinance02@gmail.com)