Bertemu senior saya di tengah
demonstrasi anti kenaikan bahan bakar minyak (BBM) di
depan gedung
Parlemen, Jakarta. Dia yang mencemplungkan aku ke dunia jurnalistik.
Pertama kali, saya diajak mewawancarai Sutan Takdir Alisyahbana, saat
menjadi Rektor Universitas Nasional, Jakarta.
Pertama kali yang kutanyakan, “sekarang
sering nulis dimana?” Semenjak menjadi dosen
di sebuah Universitas
Swasta, memang dia tak lagi bergerak di dunia jurnalistik. Tapi rajin
menulis artikel di berbagai media massa cetak. Sudah lama saya tak
melihat artikelnya di
surat kabar. Maka, pertanyaan pertama soal
tulis menulis.
“Sejak ada internet, aku lebih
menulis untuk blog,”katanya.Kenapa? “Bisa menulis lebih
bebas,
dan pasti diterima...ha...ha,”ujarnya sambil tertawa.
Memang, blog, kini dianggap sebagai
penyelamat ide-ide orisinal. Saat media massa,
terutama mainstream,
punya kepentingan hanya menerima karya-karya yang sesuai
keinginan
redaktur atau medianya.
Bahkan seorang jurnalis senior yang
beklerja di sebuah media massa, sempat
mengungkapkan kekecewaan pada
media massa tempatnya bekerja. “Kami gak boleh
menulis artikel,
atau media di tempat kita bekerja, atau dibatasi waktu tertentu.
Sedangkan ide, terus mengalir,”katanya,”nah, blog adalah
poenyelamat ide-ide kita itu,
agar bisa dibaca banyak orang, dan juga
ide itu tidak menjadi penyakit karena terhambat
di dalam otak.”
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar