Senin, 26 Maret 2012

Tragedi Sampang, Syiah dan Media Massa


Ahad, 25 Maret 2012, puluhan wartawan mulai dari cetak, online sampai televisi hadir di lantai 2 Gedung YLBHI, Jakarta Pusat. Hari ini ada konprensi pers sekaligus pernyataan sikap  sejumlah tokoh yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Sampang.

Mereka prihatin terhadap kriminalisasi Tajul Muluk. Korban yang rumah dan pesantrennya dibakar, malah dijadikan tersangka oleh polisi setempat. Pekan ini, Tajul diperiksa polisi (BAP), hampir pasti dikerangkeng karena tekanan sekelompok orang yang mengatasnamakan ulama Madura (Sampang). Tapi sehari usai konprensi pers (26 Maret 2012), saya lihat hanya Koran Tempo yang memuat peristiwa Ahad itu. Entah mungkin juga ada media lain, saya belum cek. Yang jelas di televis, berdasarkan pantauan tak ada yang menyiarkan.

Ada apa dengan media massa? Apa karena Tajul dan peristiwa itu menimpa kaum Syiah?

Inilah isi konpresni pers Ahad kemarin :


Kamis 29 Desember 2011, terjadi peyerbuan terhadap pesantren Misbahul Huda Pimpinan Ustad Tajul Muluk di Omben Sampang Madura. Kompleks pesantren dibakar, 3 rumah dibakar dan harta benda dijarah dengan total kerugian sekitar Rp 700 juta. Karena tidak adanya jaminan keamanan maka terjadi pengungsian 335 jiwa terdiri dari 107 anak dan 228 dewasa dan lanjut usia.

Kronologis :

Pada dasarnya intimidasi dan kekerasan terhadap penganut Muslim Syiah di Omben telah terjadi  sejak lama. Intimidasi dan kekerasan dilakukan oleh kelompok masyarakat tertentu, tokoh agama tertentu (kelompok pengajian yang mengaku sebagai Aswaja ) bahkan dilakukan juga oleh aparatur negara. Pada intinya intimidasi itu menginginkan pengikut Muslim Syiah di Omben dan Sampang untuk tidak lagi mengikuti ajaran Syiah karena dianggap sesat.

Pra-kejadian :

1. Ratusan orang dengan bersenjata tajam mendatangi Omben, dengan isyu Syiah sesat ( tahun 2006 ).

2. Beberapa ulama dari 4 kabupaten di Madura berkumpul di rumah alm H. Sya'bi dan mengundang Ustad Tajul Muluk dengan agenda "klarifikasi terhadap tuduhan sesat Syiah". Pertemuan ini juga dihadiri H. Fadlilah Budiono, Bupati Sampang saat itu, dan juga Imron Rosyidi Ket Depag saat itu. ( 20 Feb 2006 ). Beberapa hari kemudian sejumlah  kiai yang diketuai KH. Abd. Wahhab Adnan bersama dengan MUI Sampang pada masa itu KH. Mubassyir dan Kapolsek Omben menemui Tajul cs. di Masjid Landeko' Karanggayam di tempat kediaman kakek Tajul (KH. AC. Nawawi). Selanjutnya dihadiri semua yang hadir pada pertemuan pertama, mereka berkumpul kembali untuk mendengarkan jawaban Tajul, dkk. Namun yang bersangkutan menurut mereka tidak mau hadir, maka majelis pertemuan mengeluarkan surat pernyataan melepas diri dari urusan Tajul dan menyerahkan kepada aparat yang berwajib serta tidak bertanggung jawab atas segala apa yang akan terjadi. ( 26 Feb 2006 ) – versi Abuya Ali Karrar Sinhaji (Pimpinan PP Daruttauhid, Desa Lenteng, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan

3.
 
Adanya perjanjian antara Tajul Muluk dan MUI Sampang bersama Ketua PCNU Sampang, Ketua DPRD Sampang, Depag Sampang, KA Bakesbangpol Sampang, dan para Ulama Sampang yang intinya ada 3 yaitu : Tajuk muluk dan pengikutnya tidak lagi menganut syiah, Tajul muluk dan pengikutnya pindah dari Omben dan jika tidak memenuhi salah satu dari dua opsi maka mereka siap mati (Akhol Firdaus Center for Marginalized Communities Studies (CMARs) ( 26 oktober 2009 )

4.
 
Rencana maulud nabi di Pesantren Ustad Tajul Muluk digagalkan oleh ratusan massa yang bersenjata ( 4 April 2011 )

5.
 
Selasa (5 April 2011) dilakukan pertemuan tertutup, antara Tajul Muluk dengan Bupati dan Wakil Bupati Sampang, Muspida, dan kelompok Ulama di Pendopo Kabupaten. Acara tersebut juga dihadiri oleh Kapolda Jawa Timur, Irjend Untung S Radjab. Dari kalangan alim ulama, hadir Ketua PCNU Sampang, KH. Muhaimin Abd Bari, Rais Syuriah NU, KH. Syafiduddin Abd Wahid, Ketua MUI Sampang KH Bukhori Maksum, KH Zubaidi Muhammad, KH Ghazali Muhammad dan beberapa ulama lainnya. Alih-alih melakukan mediasi, pertemuan dengan Muspika justru memojokkan Tajul Muluk dan jamaah Syiah. Menurut Tajul Muluk, Muspida malah ikut menghakimi keyakinan jamaah Syiah. Muspida ikut melakukan desakan agar Tajul Muluk menerima berbagai opsi yang ditawarkan oleh MUI, PCNU, dan Basra. (Akhol Firdaus Center for Marginalized Communities Studies (CMARs))
Dari tahun 2006 sampai 5 April 2011, telah menunjukkan bahwa telah terjadi intimidasi baik dari tokoh agama, aparatur negara maupun dari sekelompok masyarakat terhadap kelompok masyarakat penganut Syiah di Omben Sampang Madura, yang pada intinya adalah ketidakinginan adanya warga yang menganut paham Syiah.

Peristiwa Pembakaran

1. Sabtu, 17 Des 2011, sekitar pukul 03.00 wib rumah pengikut aliran Syiah, Moh Siri (56) warga Dusun Gaddhing Laok, Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang, Sampang dibakar massa.

2. Rabu 28 Des 2011, Ustad Iklil al-Milal, kakak dari Tajul Muluk yang merupakan tokoh Syiah di Nangkrenang, dipanggil Kapolsek Omben, AKP Aris di kantor Polsek Omben. "Mau ada serangan besar-besaran, Mas. Sasarannya  sampeyan (baca: Anda/jama'ah Syiah)," terang Iklil menirukan ucapan Kapolsek. Kapolsek Omben juga menegaskan bahwa pengerahan massa bisa membahayakan jamaah Syiah.

3. Kamis 29 Des 2011, sebelum pukul 09.00 wib, Ustad Iklil al-Milal melaporkan sekaligus meminta perlindungan kepada kapolsek adanya pergerakan ratusan massa.

4. Kamis 29 Des 2011, sekitar 09.30 wib, massa mulai bergerak dan membakar kompleks pesantren, yang terdiri dari Musala, asrama putrid, taman kanak-kanak dan toko kelontong. Ada pun aparat keamanan yang ada hanya 2 orang saja. Dan kemudian membakar 3 rumah lainya yaitu rumah Ustad Tajul, Iklil, Ibu Tajul dan Adik perempuan Tajul bernama Hani.

5.Kamis 29 Des 2011, sekitar pukul 10.30 telah datang sekitar 25 orang anggota Brimob bersenjata lengkap, mengamankan sisa-sisa bangunan yang telah terbakar.
Rangkaian kejadian ini sudah menunjukan adanya pembiaran dari aparat pemerintah, dalam hal ini kepolisian. Informasi intelijen jelas mengatakan, laporan dari korban yang terancam telah dilakukan, tetapi keberadaan aparat kepolisian terlambat datang. Sehingga kerugian tak terelakkan.

Kisah di Pengungsian

1.
 
Kamis 29 Des 2011 terjadi pengungsian dari penganut Syiah, awalnya mereka mengungsi di kantor kecamatan Omben, kemudian berpindah ke Polres Sampang, hingga akhirnya karena jumlahnya yang cukup besar sekitar 335 orang yang terdiri dari 107 anak dan 228 dewasa/ lanjut usia maka dipindahkan ke GOR Sampang.

2.
 
Tenaga medis hanya 2 orang untuk melayani pengungsi, padahal nyata-nyata ada 40 orang yang sakit.

3.
 
Aparat keamanan yang berjaga di GOR hanya  sekitar 6-8 orang.

4.
 
Dalam masa pengungsian diketahui harta benda pengungsi yang tersisa di rumah mereka telah dijarah.

5.
 
Di tengah ketidaknyamanan dan tak adanya jaminan keamanan, pengungsi terus ditekan untuk segera kembali ke rumah. Penekanan ini dilakukan oleh aparatur pemerintah baik berupa tekanan mental maupun fisik. Penekanan fisik dilakukan berupa pembongkaran kamar mandi dan saluran air yang digunakan oleh pengungsi.

6.
 
Tanggal 12 Jan 2012, pengungsi dipaksa pulang dengan menggunakan truk tanpa adanya pengawalan dari Kepolisian.

Pada saat ini bantuan rehabilitasi fisik lingkungan pesantren maupun rumah warga belum disalurkan oleh pemerintah. Sementara intimidasi terhadap warga Syiah dengan cara pengucilan, dan upaya tidak lagi memperkerjakan warga Syiah menjadi petani penggarap karena alasan berbeda keyakinan telah terjadi. Seturut dengan rasa aman dan perlindungan dari aparatur keamanan yang tak mereka dapatkan secara pantas.
Usaha-usaha Pengkafiran Syiah di Jawa Timur
Fatwa MUI Sampang: Menyatakan ajaran Tajul Muluk sesat ( notabene Ustad Tajul Muluk adalah ustad Syiah )

Fatwa MUI Jatim: Menyatakan Syiah Imamiah (12 Imam) adalah ajaran sesat.
Penetapan Ustad Tajul Muluk Sebagai Tersangka oleh Polda Jatim
Berdasarkan :  Surat Panggilan no: S.Pgl/626/III /2012/Ditreskrimum, tertgl 16 Maret 2012. Berdasar LP no: LP/03/ I/2012/Polres, tgl 3 jan 2012 dan Surat Perintah Penyidikan no: Sp. Sidik/ 47 / I/2012/Ditres krimum tgl 27 Januari 2012. Memanggil Tajul Muluk menghadap Kompol Drs. Supardi Astiko, M. Hum. Kanit I Kamneg Subdit I Pidum, kantor Ditreskrimum Polda Jatim.

Penetapan ini cukup mengejutkan karena Tajul Muluk dituduh telah melakukan penodaan agama dilapis dengan pasal pidana perbuatan tidak menyenangkan. Upaya penerapan tersangka dan dalil penodaan agama menurut hemat kuasa hukum Tajul Muluk begitu sangat dipaksakan dan tampak jelas telah didesain sebelumnya oleh kelompok tertentu yang menghendaki hal itu terjadi.

Upaya kriminalisasi dengan dalil penodaan agama ini jelas dapat memberi dalil baru bagi kelompok tertentu yang anti-Syiah dan yang kerap melakukan kekerasan verbal dan fisik untuk terus memberangus dan menekan Muslim Syiah di pelbagai tempat di Indonesia. Dan bagi Muslim Syiah, kasus penahanan dengan dalil penodaan agama yang menimpa Ustad Tajul Muluk bisa menimbulkan efek berantai yang mencemaskan bahkan mungkin membahayakan bagi eksistensi Muslim Syiah di Indonesia. Jika ini yang terjadi dan negara terus abai maka yang terjadi adalah penindasan, bahkan mungkin pembantaian.
Kenyataannya, Syiah sebagai sebuah mazhab telah diakui dalam dunia Islam sebagai bagian dari tubuh umat Islam, dan kenyataan tak ada negara yang secara resmi dan mengikat memberikan fatwa sesat terhadap ajaran Syiah.

Dalam konteks Indonesia, Syiah dapat dianggap sebagai peletak fondasi dasar keislaman di Indonesia, dan merupakan penyebar agama Islam pertama di nusantara. Alkuturasi budaya Syiah dengan budaya lokal telah terbukti ada. Gus Dur sebagai tokoh Islam di Indonesia juga menyatakan NU adalah Syiah kultural. []

1 komentar:

  1. Saya bersumpah Demi Alloh, Rosul, dan ahlul baytnya yang suci bahwa kyai la’nat Nuruddin A Rahman dan pengikutnya akan dila’nat Alloh, Rosul, dan ahlul baytnya yang suci dan mereka adalah pengikut khawarij la’natulloh serta pengikut dajjal!

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...