Rabu, 25 Januari 2012

Terlambat Masuk Penjara

Wawancara Ahmad Taufik:
"Saya Terlambat Masuk Penjara"


Ahmad TaufikPada tanggal 1 September 1995, Ahmad Taufik, Ketua Presidium Aliansi Jurnalis Independen (AJI), divonis hukuman 2 tahun 8 bulan penjara di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Taufik, ketika itu 30 tahun, dipersalahkan melanggar pasal 154 KUHP yaitu menyebarkan perasaan kebencian dan permusuhan kepada pemerintah melalui penerbitan "Independen". Taufik ditangkap dalam sebuah acara halal-bihalal yang diselenggarakan AJI di Hotel Wisata Jakarta. Anak Jakarta yang reporter Majalah Mingguan Berita TEMPO itu ditahan bersama aktivis AJI Eko Maryadi dan kepala rumahtangga AJI Danang Kukuh Wardoyo. Sabtu dua pekan lalu, 19 Juli, Taufik bersama Eko dibebaskan bersyarat, empat bulan lebih cepat dari hukuman semula. Sedangkan Danang sudah lebih dulu bebas.
Apa yang akan dilakukannya di luar tembok penjara? "Saya mau silaturahmi selama dua atau tiga bulan ini. Saya mengunjungi semua yang sudah memberikan perhatian kepada saya sewaktu di tahanan di Jakarta dan di Kuningan, Jawa Barat" kata ayah satu anak ini -- ketika dia ditangkap sang putra baru berusia 10 hari. Sarjana hukum Unisba Bandung itu sempat menjalani hukumannya di lima penjara: tahanan Polda Jakarta, Rutan Salemba, LP Cipinang, LP Cirebon, dan LP Kuningan.
Vonis untuk Taufik boleh dibilang muncul dari sebuah pengadilan yang sarat "rekayasa". Berbagai saksi meringankan, misalnya almarhumah Brigjen (Pol.) Roekmini Astuti, ternyata tak "didengar oleh hakim. Dalam sebuah bukunya, almarhumah Roekmini menurutkan kesedihannya atas penahanan wartawan-wartawan muda ini. Maka, pantas saja ketika palu diketok hakim mendadak sontak pengunjung berteriak,"Pengadilan direkayasa...rekayasa."
Pengunjung pengadilan waktu itu membludak. Karena, pembacaan vonis di Pengadilan Jakarta Pusat itu bersamaan dengan putusan kepada Eko Maryadi, dan juga Tri Agus Siswomihardjo, aktivis Pijar yang juga "tersandung" pasal penghinaan karena tulisannya di Buletin Pijar menulis dengan mengutip pernyataan Adnan Buyung Nasution dalam acara di Kantor YLBHI yang menuding pimpinan negara. Berikut wawancara Edy Budiyarso dari TEMPO Interaktif dengan Ahmad Taufik, yang ketika dipenjara menerima tiga penghargaan pejuang pers ini, dua dari dalam negeri dan satu penghargaan diterima dari Committe to Protect Journalist (CPJ) -- organisasi kewartawanan yang anggotanya antara lain adalah raja televisi Ted Turner dari CNN.

Bagaimana pengalaman Anda selama di penjara?
Di penjara saya lebih melihat banyaknya aturan yang tidak sesuai dengan ucapan-ucapan para pejabat. Dan ini yang seharusnya diperbaiki di masa depan. Saya menemui banyak kesewenang-wenangan di penjara. Ada orang dipenjara karena dipaksa menerima BAP di kepolisian, dan hakim menjatuhkan vonis hanya didasari oleh BAP dari polisi tanpa memperhatikan kesaksian tersangka. Kejadian begini terjadi di berbagai kasus, misalnya pembunuhan, narkotika. Karena kebetulan saya sebagai wartawan, maka saya melihat semua itu.
Bagaimana ceritanya Anda bisa dipindah-pindahkan ke beberapa tempat?
Saya pertama kali ditahan di Polda Metro Jaya selama 57 hari, kemudian saya dipindahkan ke Salemba selama satu tahun. Dari Salemba ke Cipinang, bertepatan dengan kaburnya Eddy Tansil pada 6 Mei 1996. Setelah itu saya dipindahkan ke LP Cirebon, pada tengah malam tanggal 16 Maret 1996. Terakhir kali saya dipindahkan ke LP Kuningan, Jawa Barat.
Kabarnya ketika di LP Cipinang, Anda dekat dengan tokoh Timor-Timur Xanana Gusmao?
Ya, seperti biasa saja. Saya juga biasa ngobrol dengan napi-napi lain, ada yang penipu, pembunuh, dan pemalsu solar. Kami semua sama di dalam penjara. Xanana itu kapten kesebelasan, ia jago main bola. Dan kalau ia main biasanya saya ikut nonton. Dengan Xanana kami agak lebih akrab karena, lebih enak kalau kami mengobrol dengan orang yang minimal sama pengetahuannya. Saya terkesan dengan perjuangan Xanana demi kemerdekaan Timor-Timur.
Kabarnya Anda sempat belajar bahasa Portugis?
Sedikit saja, obligardo atau terima kasih, buatharde selamat siang. Saya juga melukis seperti Xanana, tetapi lukisan Xanana jauh lebih hebat dari lukisan saya. Di dalam penjara Xanana banyak membuat bingkai lukisan. Saya sendiri melukis dengan cat minyak. Ketika terjadi Peristiwa 27 Juli 1996, saya berada di Cipinang, maka saya imajinasikan gambaran peristiwa itu lewat kanvas, karena saya membaca koran dan melihatnya lewat televisi. Kata orang lukisan saya itu bergaya ekspresionis.
Selain melukis kegiatan apa lagi yang Anda lakukan selama dalam penjara?
Saya membuat puisi ketika saya berada di LP Cirebon, di sana ada kerusuhan yang saya sebut "Desember Kelabu" dalam puisi saya. Saya membayangkan peristiwa kerusuhan yang persis di depan mata saya ini, sama dengan Peristiwa 27 Juli 1996 di Jakarta.
Bagaimana Anda memantau perkembangan di luar terali penjara?
Saya masih sempat baca koran dan alhamdulillah saya tidak menemui kesulitan untuk mendapatkan koran. Di penjara saya bisa membaca koran sampai ke iklan-iklan kecil. Sampai ada iklan menjual rumah saya tahu. Saya punya lebih banyak waktu di penjara untuk membaca, yang paling banyak saya baca sampai habis adalah novel.
Bagaimana perasaan Anda ketika hakim mengetuk palu vonis?
Saya melihat sistem hukum kita yang tidak bebas. Hakim dalam tekanan ketika memutuskan perkara. Ketika saya bebas, saya sempat bertemu dengan jaksa yang pernah memeriksa saya. Ia bertanya kepada saya, apakah masalah saham Harmoko yang ada di berbagai media massa itu dipermasalahkan di pengadilan. Saya katakan, itulah yang tidak dimasukkan. Seharusnya memang dimasukkan, biar ada pembuktian tentang benar atau tidaknya Harmoko mempunyai saham di berbagai media massa itu.
Hal itu juga ada dalam pikiran saya ketika masih menjadi tahanan Polda Metro Jaya. Mungkin karena saya kebanyakan nonton film hukum seperti The Firm, jadi saya membayangkan substansi materinya benar-benar akan dibahas. Tetapi hal itu tidak dibahas, pengadilan dibiarkan mengalir saja, dan substansi masalah hanyalah formalitas belaka.
Sebagai seorang aktifis apakah Anda pernah membayangkan akan masuk penjara?
Saya merasa hidup ini seperti air. Terkadang mengalir, terkadang harus dihambat dan dibendung. Tetapi toh bisa tetap mengalir juga ke bawah. Kalau soal resiko, justru saya sudah siap masuk penjara kira-kira lima tahun lalu, ketika saya masih menjadi aktifis mahasiswa di Bandung. Jadi ini terlambat. Ketika ada kawan saya sesama aktifis dari Bandung yang menjenguk saya, ia katakan kenapa dulu ketika masih menjadi aktifis di Bandung saya tidak pernah ditangkap.
Sewaktu masih mahasiswa Anda sering ikut aksi?
Selama saya masih menjadi mahasiswa di Unisba Bandung, beberapa kali saya ikut demonstrasi dalam kasus tanah Badega, Sagara di Garut, dan SDSB di Bandung. Dulu itu saya bersama-sama teman-teman.
Bagaimana keluarga Anda ketika mendengar Anda masuk penjara?
Semuanya menerima. Bahkan ada yang mendukung saya secara positif, karena itu resiko saya (Istrinya, Syafai'liyin, seminggu sekali menjenguknya di berbagai rutan, membawa anak mereka, Alianzi Muntazhar, yang masih balita, Red.).
Dalam sejarahnya para pemimpin bangsa sering keluar masuk penjara karena urusan politik. Anda punya "kebanggaan" sebagai narapidana politik?
Saya biasa-biasa saja. Karena pasal yang dituduhkan kepada saya bukan pasal subversi, pasal yang dikenakan kepada saya 154 KUHP. Yaitu penyebaran perasan kebencian dan permusuhan kepada pemerintah, hanya penyebaran perasaan saja. Ada sedikit masalah politik, jadi bukan murni politik, tetapi oleh sebagian orang dianggap ini sebagai masalah politik.
Di penjara Anda berkumpul bersama Eko Maryadi dan Tri Agus Siswomihardjo, apa yang Anda lakukan?
Saya bertemu hanya untuk berdiskusi saja. Waktu itu di penjara Cirebon, kami pernah satu tempat bersama-sama. Sebulan pertama selama di penjara Cirebon itu ada semacam orientasi, saya ditempatkan di tempat yang besar dengan napi yang lain. Karena bersama-sama mereka, maka mau tidak mau saya bicara dengan mereka. Tiga bulan berikutnya kami sudah di kamar kecil sendiri-sendiri. Setelah itu kami dipindahkan ke kamar yang lain bersama-sama untuk berasimilasi dengan napi yang lain. Dari LP Cirebon saya dipisahkan. Saya ke Kuningan 24 Februari 1997. Tri Agus ke Subang.
Ketika masih di Cirebon Tri Agus menjadi pemimpin regu dalam acara baris berbaris, Anda menjadi apa?
Saya paling disuruh membaca Catur Darma Narapidana, tetapi saya membacanya dengan ngaco, tidak mengenal titik koma, lempeng terus. Oleh salah seorang sipir saya dianggap "wartawan bocor," bocor istilah di Cirebon itu artinya gila, jadi saya dianggap wartawan gila. Akhirnya saya tidak diminta lagi membaca Catur Dharma Narapidana. Mereka kapok menyuruh saya.
Selama di penjara Anda sampai empat kali dipindahkan dari satu penjara ke penjara lain, di penjara mana Anda merasa paling enak?
Semua penjara tidak ada yang enak. Tetapi sebagai orang kota, saya lebih kerasan di Cipinang. Sebagai seorang wartawan, saya tertantang untuk membuat investigasi, karena di Cipinang ada penjahat dan koruptor besar, serta tokoh-tokoh politik Orde Lama. Jadi dari mereka saya bisa tahu, bahwa Orde Lama juga tidak seperti yang tertulis dalam buku pelajaran saya waktu SMP. Pokoknya di Cipinang itu lebih banyak yang bisa diliput. Cocok sebagai lahan yang bisa digarap menjadi bahan tulisan.
Apa mereka terbuka kepada Anda?
Mungkin karena pendekatan saya dan sesama napi, membuat kami lebih terbuka. Dibandingkan saya sebagai wartawan yang di penjara, ketika masih di rutan Salemba.
Anda sempat menulis untuk media massa?
Ketika saya berada di Salemba, saya menulis untuk suplemen Delik. Perasaan saya senang sekali ketika tahu tulisan saya dimuat, ingatan saya kembali ketika baru pertama kali menulis di surat kabar dan dimuat.
Selama di penjara Anda juga mendapat penghargaan dari berbagai lembaga nasional dan internasional dari mana saja?
Saya mendapat penghargaan Suardi Tasrif pada tanggal 22 Juni tahun 1995. Saya juga mendapatkan penghargaan CPJ Award, dari Committe to Protect Journalist yang bermarkas di New York pada tahun 1995. Saya juga mendapatkan penghargaan Digul Award pada 10 Desember 1996.
Apa yang akan Anda lakukan setelah keluar dari penjara?
Saya mau refreshing dulu. Saya mau bersilahturahmi pada teman-teman yang membantu selama saya dipenjara. Karena dengan bantuan mereka, saya menjadi kuat. Tiga bulan pertama, tiga bulan silaturrahmi.
Apa yang paling mengesankan selama Anda dipenjara?
Yang paling mengesankan ketika saya dijenguk Presiden International Federation of Journalist, Jens Linde. Saya terkesan, karena LPCipinang yang ketat terhadap kunjungan orang asing, Jens Linde, bisa masuk walaupun harus menyamar sebagai turis dan teman saya.
Apa bedanya di dalam penjara dan di luar penjara?
Sama saja, bahkan saya masuk ke "penjara besar", yang mana saya tidak tahu bahaya yang akan datang. Kalau dalam penjara kecil kami bisa tahu siapa yang menggebuk kita dan tinggal di sel nomor berapa.
Zed A 

Edisi 22/02 - 30/Jul/97 NAsional

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...