Jumat, 25 November 2011

Ada Mafia Lindungi Nunun

(versi 1)

Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Timur Pradopo membantah tudingan institusinya melindungi buronan Komisi Pemberantasan Korupsi, Nunun Nurbaetie. 
“Kami ini profesional. Semua sudah melalui interpol. Itu bagian dari proses penyelidikan dan setiap ada informasi dari interpol, kami tidak lanjuti,”kata kepada wartawan usai menunaikan salat Jumat di Markas Besar Polri, Jakarta.

Sebelumnya Penasehat Indonesia Police Watch, Johnson Panjaitan, menilai Kepolisian tidak serius mengejar isteri bekas Wakil Kepala Polri, Adang Daradjatun itu. “Seharusnya dengan teknologi yang dimiliki kepolisian saat ini tidak sulit untuk mengejar Nunun. Memang polisi tak berniat menangkapnya,”ujarnya.
Johnson menuduh polisi sengaja tidak mengejar tersangka kasus suap cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia itu. Selain itu, karena ada permainan antara kepolisian dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), polisi juga ingin menjaga agar jaringan mafia di kepolisian tak terungkap. "Kalau sampai Nunun tertangkap dia itu saksi kunci yang akan membawa pada jaringan inti mafia di berbagai institusi,"katanya.
Terpidana kasus cek lawat Agus Condro juga menyebut ada pihak yang melindungi Nunun. “Dia merupakan pengusaha hitam yang sudah cukup lama dikenal di negeri ini,”katanya. Pengusaha hitam ini, menhurut Agus memiliki kepentingan dengan Bank Indonesia. “Caranya, dengan menempatkan orang pilihan ke dalam BI.” Itulah yang  menjadi cikal-bakal adanya cek lawat kepada anggota dewan. "Ya pejabat BI kan jadinya merasa berutang karena pada saat pemilihan disponsori," ujar Agus kepada wartawan.
Menurut Agus, BI adalah lembaga independen yang tidak bisa disetir pemerintah. Namun, berbeda ketika berhadapan dengan para pengusaha. "Kalau dengan para pengusaha urusannya lain. Banyak pengusaha hitam yang ingin mempengaruhi BI,"katanya.

Sebelumnya Ketua KPK Busyro Muqoddas juga mengatakan kesulitan mencari Nunun Nurbaetie lantaran ada pihak yang melindungi. Dari persidangan sejumlah politisi yang menjadi terdakwa dalam kasus ini, terungkap Nunun memiliki kedekatan dengan pihak pengusaha.


Cek pelawat yang menjadi alat suap dalam kasus ini dibeli dari Bank Artha Graha. Pembelian itu dilakukan pada 8 Juni 2004 oleh bank itu dari PT  Bank Internasional Indonesia (BII) Tbk. Cek tersebut dibeli oleh Bank Artha Graha atas permintaan dari PT First Mujur Plantation and Industry.

Karena dianggap memiliki peranan ketika kasus ini muncul untuk kali pertama di tahun 2008, KPK langsung mencekal Direktur Utama PT Bank Artha Graha Internasional  Tbk Andy Kasih dan Direktur Utama PT First Mujur Plantation and Industry Hidayat Lukman alias Tedy Uban, serta Direktur Keuangan PT First Mujur Plantation and Industry Budi Santoso. (***)

sumber : Koran Tempo dan Nebby Mahbubirrahman (nebby@gresnews.com)

Roy Suyo : Foto Nunun, Asli

(Versi  2)


Pakar Telematika Roy Suryo, yakin foto Nunun Nurbaeti yang dimiliki oleh Tempo.Co, asli. Menurutnya, foto ini diambil melalui kamera yang tersembunyi dalam sebuah tas. "Itu
foto diambil melalui hiden movie cam yang disembunyikan dalam tas," ujarnya melalui 
pesan BlackBerry kepada Tempo, hari ini.

Pencarian Nunun sampai saat ini memang masih nihil. Keberadaan istri mantan 
Wakapolri Adang Daradjatun ini pun dikabarkan kerap berpindah-pindah negara. 
Pertama kali keluar dari Indonesia menuju Singapura dengan dalih mengobati penyakit 
lupa ingatannya. Tapi, Nunun tak juga kembali sampai saat ini.

Dalam pelariannya, Nunun sempat terdeteksi berada di Thailand beberapa bulan lalu. Namun, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang membuntuti Nunun tak dapat menangkapnya. Foto terakhir, Nunun terlihat di sebuah kawasan perbelanjaan di 
Singapura. Ia terlihat bugar dan sedang menikmati berbelanja di kawasan Mandarin 
Orchad, Singapura.

Roy yakin foto yang dimiliki Tempo asli. Foto itu melihat dari sudut pengambilan dan 
alat yang digunakan, menurutnya berasal dari penggalan kamera video. “Gambar ini
tidak diambil oleh orang biasa. Pengambilnya orang yang sudah mengikutinya sejak 
lama," ujarnya.

Namun, Roy belum bisa memastikan waktu pengambilan gambar tersebut. Alasannya. "Karena data masih sangat simple potongan gambar. Tetapi saya yakin kok akan keluar videonya, nanti bisa terlihat metadata waktu pengambilannya," ujar anggota DPR Komisi Informasi dan Pertahanan Fraksi Partai Demokrat ini.

Wara wirinya Nunun ini dinilai Penasehat Indonesia Police Watch, Johnson Panjaitan, 
karena Kepolisian tidak serius mengejar isteri bekas Wakil Kepala Polri, Adang Daradjatun itu. “Seharusnya dengan teknologi yang dimiliki kepolisian saat ini tidak sulit untuk 
mengejar Nunun. Memang polisi tak berniat menangkapnya,”ujarnya.

Johnson menuduh polisi sengaja tidak mengejar tersangka kasus suap cek pelawat
pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia itu. Selain itu, karena ada permainan antara kepolisian dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), polisi juga ingin menjaga agar
jaringan mafia di kepolisian tak terungkap. "Kalau sampai Nunun tertangkap dia itu saksi kunci yang akan membawa pada jaringan inti mafia di berbagai institusi,"katanya.

Tapi Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Timur Pradopo membantah 
tudingan institusinya melindungi buronan KPK, Nunun. “Kami ini profesional. Semua 
sudah melalui interpol. Itu bagian dari proses penyelidikan dan setiap ada informasi dari interpol, kami tindak lanjuti,”kata kepada wartawan usai menunaikan salat Jumat di 
Markas Besar Polri, Jakarta.

FEBRIYAN/IRA GUSLINA/RINA WIDIASTUTI/AT

AJI : Ungkap Kasus Pembunuhan Jurnalis

ALIANSI JURNALIS INDEPENDEN



Nomor             : 041/AJI-Div.Adv/S.P/XI/2011
Hal                  : Siaran Pers untuk segera diberitakan

Siaran Pers AJI
Peringatan Tahun ke-2
Kampanye Internasional Anti-Impunitas
“AJI Desak Pemerintah Ungkap Kasus Pembunuhan Sembilan Wartawan”

Pada hari ini, 23 November 2011, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bergabung dengan
ribuan jurnalis di seluruh dunia memperingati kampanye internasional Anti Impunitas. Kegiatan ini merupakan solidaritas AJI terhadap kasus pembantaian 32
wartawan di kota Ampatuan, Provinsi Maguindanau, Filipina, 23 November 2009. Setelah
dua tahun, pemerintah Filipina belum berhasil mengungkap atau menangkap pelaku pembunuhan ke pengadilan.

Impunitas adalah praktek pembiaran atau pembebasan pelaku kejahatan dari tanggung jawab hukum, merupakan praktek yang dewasa ini marak di berbagai negara. Mengutip Internatinal Freedom of Expression Exchange (IFEX) dimana AJI menjadi anggotanya,
lebih dari 500 wartawan tewas dalam 10 tahun terakhir dari berbagai negara. Sembilan
dari sepuluh kasus tersebut, pembunuhnya bebas dari tanggung jawab hukum. Irak
memiliki tingkat impunitas tertinggi dengan 92 wartawan tewas tanpa ada penegakan hukum, disusul Pakistan, Somalia,Afganistan, dan Filipina.

"Hari ini, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menuntut pemerintah agar mengungkap dan menangkap para pembunuh wartawan di semua negara. Kita harus memastikan para
jurnalis bekerja dalam suasana yang aman dan terlindungi ketika terjadi kasus kekerasan terhadap mereka", kata Nezar Patria, Ketua AJI Indonesia.

AJI mencatat selama periode 2005-2010 terjadi 321 kasus kekerasan termasuk
pembunuhan terhadap jurnalis di Indonesia. Sejak 1996 AJI mencatat 10 kasus
pembunuhan wartawan, sebagian besar dari kasus itu belum terungkap atau dibiarkan menjadi misteri. Sepuluh kasus pembunuhan itu diantaranya :

1.      Alfrets Mirulewan (Tabloid Pelangi), tewas 18 Desember 2010, di Pulau Kisar, Maluku Barat Daya.
2.      Ridwan Salamun (Sun TV), tewas pada 20 Agustus 2010, di Tual, Maluku Tenggara
3.      Ardiansyah Matra'is (Merauke TV), ditemukan tewas 29 Juli 2010, di Merauke, Papua
4.      Muhammad Syaifullah (Kompas), ditemukan tewas 26 Juli 2010, di Balikpapan
5.      Anak Agung Prabangsa (Radar Bali), ditemukan tewas 16 Februari 2009, di PadangBai, Bali
6.      Herliyanto (wartawan freelance), tewas 29 April 2006, Probolinggo, Jawa Timur
7.      Elyudin Telaumbanua (Berita Sore), hilang sejak 24 Agustus 2005, di Nias, Sumatera Utara
8.      Ersa Siregar (RCTI), tewas tertembak 29 Desember 2003, di propinsi Aceh
9.      Agus Mulyawan (Asia Press), tewas 25 September 1999, di Los Palos, Timor Timur
10.  Fuad Muhammad Syarifuddin (Bernas Yogya), dibunuh pada 16 Agustus 1996 di
 Bantul,Yogyakarta


"Memperingati tahun ke dua Hari Impunitas Internasional, AJI menuntut kepolisian
Republik Indonesia agar menuntaskan berbagai kasus pembunuhan jurnalis, termasuk
kasus Udin di Yogya. AJI juga mengecam bebasnya pelaku pembunuhan terhadap Ridwan Salamun di Tual, Maluku Tenggara," ujar Eko Maryadi, Pengurus Divisi Advokasi AJI Indonesia.

Beberapa waktu lalu, Aliansi Jurnalis Independen memprotes Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, yang akan menghentikan penyidikan kasus pembunuhan wartawan Bernas,
Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin yang dibunuh pada 16 Agustus 1996 di Bantul.
AJI mendesak Kepolisian Republik Indonesia menyelesaikan utang kasus Udin sebelum
kasus ini kadaluawarsa memasuki  usia 18 tahun. AJI menyebut contoh keberhasilan Polri mengungkap kasus pembunuhan terhadap AA Prabangsa di Bali pada 16 Februari 2009. Para pembunuh wartawan Radar Bali itu divonis hukuman seumur hidup sampai 8 tahun.

Pada peringatan Hari Impunitas ini, AJI menyerukan agar pemerintah menunjukkan keberpihakannya bagi upaya penegakan hukum, termasuk kasus pembunuhan jurnalis.

"AJI akan mengawal berbagai kasus pembunuhan tersebut, dan tidak ragu membawanya
ke komunitas internasional apabila pemerintah menunjukkan itikad pembiaran dan melanggengkan impunitas," ucap Nezar Patria.


Jakarta, 23 November 2011




Nezar Patria                                             Eko  Maryadi (Item)
Ketua AJI                                                      Divisi Advokasi AJI


Sekretariat AJI Indonesia
Jl. Kembang Raya No. 6
Kwitang, Senen, Jakarta Pusat 10420
Indonesia
Phone (62-21) 315 1214
Fax (62-21) 315 1261
Website : www.ajiindonesia.org

Kamis, 24 November 2011

Nunun


Nunun sama dengan kodok di balik sama saja. Bak kodok dia suka melompat, dari negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Di laporan eksklusif TEMPO.Co terbaru, Nunun Nurbaeti, tersangka kasus suap cek pelawat terhadap anggota Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR) itu dipergoki sedang berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan di Thailand. Isteri
bekas wakil Kepala kepolisian Republik Indonesia (Waka Polri), Adang Daradjatun itu
diketahui ada di Singapura, Vietnam dan lain-lain tempat.

Nunun seperti malam, gelap tidak ketahuan rimbanya. Menurut wikipedia kata atau frasa
yang kalau dibaca dari depan maupun belakang akan berbunyi sama dinamai Palindrome. Jadi Selain Nunun ada pula nama Ninin, Nonon, Nanan, tentu berbeda lagi artinya kalau nenen itu biasanya bayi ada juga sih bapak bapak-bapak yang suka, termasuk "Aku Suka".

Tutut jenis binatang seperti keong kecil yang ada di comberan. Di Bandung bahkan tutut masuk kafe, getek kafe namanya terletak di Jalan Cilaki. Disana tutut bisa jadi steak yang
enak dan makanan lain (katanya, gw sih gak doyan). Ada juga Tutut nama panggilan putri seorang bekas presiden Indonesia dulu, entah kenapa panggilan namanya seperti itu?.
Tutut tentu lain dengan titit, benda kecil itu juga banyak yang doyan. Sedangkan konon
dan kemem, walaupun sama-sama enak bukan temasuk dalam palindrome.

Bukan hanya kata dalam bahasa Indonesia, dalam bahasa Inggris kata yang termasuk jenis  palindrome itu antara lain ; Madam, I'm Adam. Nuhun (bahasa Sunda)!

Royal Wedding Ala Indonesia di Cipanas



Kain Songket khas Palembang warna merah menjadi saksi bisu pernikahan Putra 
Presiden, Edhie Baskoro Yudhoyono dengan putri Menteri Koordinator Perekonomian, 
Siti Rubi Aliya Rajasa. Royal Wedding ala Indonesia menghangatkan suasana sejuk Istana 
Cipanas, Jawa Barat, Kamis kemarin.

Ibas panggilan putra SBY dan Aliya putri Ketua Partai Amanat Nasional Hatta Rajasa 
mengikuti upacara kandang adat, tukar sirih, batal wudhu, akad, munggah, suap-suapan, 
dan sembah sujud. Tamu undangan dari dalam dan luar negeri dikawal polisi dan tentara
untuk menuju tempat perhelatan itu.

Pernikahan yang diduga menghabiskan biaya Rp 12 miliar juga disaksikan langsung 
warga setempat lewat layar lebar di lapangan depan Istana. Juru Bicara Presiden Julian
Aldrin Pasha membantah biaya sebesar itu.,”biaya yang dikeluarkan dalam perkawinan 
itu baru akan dilaporkan nanti usai semuanya selesai.”

Mengutip keterangan Presiden SBY sebelumnya, menurut Julian, tak ada sepeserpun
uang negara yang dikeluarkan untuk membiayai pernikahan itu.” Semua uang berasal
dari kantong pribadi kedua keluarga dan pagelaran pernikahan ini berlangsung sederhana,”katanya.



AT/Dianing Sari

GM


Banyak kenangan jika melihat singkatan ini. Orang umum apalagi pencinta kuliner bakal langsung menyebut bakmi GM. Memang warung bakmi itu dulu terkenal bertempat 
di jalan Gadjah Mada, Jakarta. Kini gerai Bakmi GM tersebar di banyak tempat. Bahkan 
ada beberapa warung penjual mie menyebut makanan yang dijualnya ala GM.

Di kalangan media massa orang langsung teringat Goenawan Mohamad, pendiri Majalah TEMPO. Di kantor media memang biasanya nama-nama disingkat seperti JO untuk Jakob Oetama, pendiri Koran Kompas, FJ untuk Fikri Jufri pendiri Majalah TEMPO juga, dan 
banyak nama lainnya disingkat. Karena itu , Presiden sekarang disingkat namanya 
menjadi SBY dari Susilo Bambang Yudhoyono, padahal presiden sebelum-sebelumnya 
tak pernah disingkat, coba Sukarno atau Suharto mau disingkat menjadi apa?

Presiden berikutnya yang ditunjuk cuma berani menyingkat dua nama di depannya 
menjadi BJ Habibie dari Bachruddin Jusuf. Penggantinya Abdurahman Wahid 
menggunakan nama panggilan Gus Dur, presiden berikutnya Megawati Sukarno Putri 
juga tidak menyingkat namanya menjadi MSP, karena kalau disingkat kawatir orang 
teringat kabaret pimpinan adiknya GSP (Guruh Sukarno Putra).

Entah kenapa GM tidak disingkat menjadi Ge eM. Walaupun buat SBY ada yang 
menyingkatnya sebagai eS Be Ye. Tak heran jika ada omongan,”lagi panas-panas atau 
buka puasa minum enaknya minum Es BY.” Apa maksudnya? Di kalangan pebisnis GM 
sebutan untuk General Manager, dalam dunia otomotif GM adalah singkatan General 
Motor, pabrik mobil asal Detroit Amerika Serikat. Dalam dunia “gelap” atau underground istilah GM biasanya untuk sebutan Germo. Ups!

Ibas



Ibas begitu nama anak presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dipanggil. Seperti kata penyair Shakespeare apa arti sebuah nama. Ternyata penting bagi putra orang nomor 
satu di negeri ini sekarang. 

Ada yang menduga itu karena nama anak SBY adalah Edhie Baskoro Yudhoyono. Kalau 
mau disingkat tentunya bukan I (bas) tapi E (bas). Mau disingkat huruf depannya seperti 
sang ayah dari E BY (ebeye), tentu gak enak apalagi kalau singkatan jadi ngaco misalnya
L E (dhie) Ba(skoro) Y.

Ditelusuri lebih jauh  adanya nama Ibas sebenarnya, sudah ditakdirkan dari kecil, seperti 
nama seorang kawan raden cilik. Dulu dia dipanggil eh bos...lama-lama jadi Ibas. Gitu kalee.

Rabu, 23 November 2011

Tak Lengkap Tanpa Hiasan Kepala

Dari Timur ke Barat Indonesia, hiasan kepala sangat melimpah model, tekstur dan bahannya.
Hiasan kepala bisa merupakan cara efektif untuk menarik perhatian. Ratu Elizabeth II dari Inggris terkenal dengan topi yang dikenakannya. Sehingga apa yang dikenakan kepala menantunya saat pesta perkawinan langsung menjadi tren dunia. Topi yang dikenakan para wanita Inggris tampil cantik dengan berbagai hiasan yang menyertainya, dari bunga, pita, hingga renda.
Sehingga penutup kepala itu menjadi bagian dari gaya berbusana wanita Inggris sejak lama."Kami, orang Inggris, topi adalah kebiasaan kami.Seperti juga busana, topi menjadi simbol status dan mencerminkan karakter pemakainya,"ujar Shirley Hex, yang kerap membuat topi bagi Ratu Elizabeth juga Putri Diana seperti dilansir Associated Press.
 
Topi bergaya tricon dengan warna salem yang dikenakan almarhumah Putri Diana saat berangkat berbulan madu menjadi tren banyak ditiru fashionista Inggris pada 1981. Rupanya itu juga disadari bintang pop paling populer di dunia saat ini, Lady Gaga. Penyanyi seksi ini kembali menarik perhatian dengan mengenakan topi merah muda yang menyerupai sel sperma.

Begitu juga bagi Pemenang United Kingdom (UK) Young Fashion Enterpreneur Award tahun 2010,Justin Smith, topi adalah inspirasi. Di tangannya, topi menjadi aksesoris yang layaktampil di Pekan Busana London, Milan, Paris dan Roma.

Nah, lalu apa jadinya ketika Justin jatuh cinta dengan seni kerajinan tradisional Indonesia? "Saya sudah keliling Indonesia dan menemukan aneka teknik dan motif anyaman yang luar biasa," ujar dia dalam konferensi pers di Jakarta Fashion Week, pekan lalu.

Gayung kecintaan Justin disambut Oscar Lawalata, pecinta tenun tradisional. "Kami punya passion yang sama dan punya tujuan yang sama terhadap kekayaan tradisional Indonesia, Oscar yang menambahkan tekstur, warna dan siluet," kata Justin. Kolaborasi keduanya menjadi unik dalam pertunjukkan British Council present A Collaboration of Justin Smith & Oscar Lawalata. Pada acara itu ditampilkan 50 busana dan 30 Topi atau hiasan kepala. Oscar melampiaskan cintanya pada kain-kain tradisional dalam bentuk mini dress dan long dress dan Justin mempercantik mahkota para modelnya.
Permainan tenun, ikat, dan batik tampak pada detail gaun. Tidak dominan motif tradisional, tapi sekali melihat, gaun-gaun Oscar memang membawa aroma Jawa dan Kalimantan dalam panggung catwalk sepanjang 14 meter. Justin melengkapi unsur etnik dengan hiasan anyaman. Beberapa karya Justin memang bukan semata topi, karena tak menutupi separuh kepala.Anyaman pandan yang dipulir serupa gelombang laut dengan warna emas lebih tepat disebut bando. Pria kelahiran Exester ini juga mengawinkan anyaman pandan dengan tenun ikat menjadi mahkota nan unik.

Oscar mengakui yang dilakukan Justin tersebut mengangkat citra hiasan kepala tradisional Indonesia. Perkembangan kain, motif hingga tas tradisional Indonesia kini sudah jauh membanggakan. "Tapi untuk hiasan kepala, belum ada yang extravaganza atau aneh," kata pria kelahiran Riau ini.

Padahal dari Timur ke Barat Indonesia, hiasan kepala sangat melimpah model, tekstur dan bahannya. Memang baru sebatas dikenakan dalam upacara adat. Berkaca pada kebaya atau batik yang dulu hanya dikenakan dalam upacara adat, kini menjelma jadi pakaian yang kasual, resmi hingga gaun pesta. "Jadi hiasan kepala sangat bisa dikembangkan, ini opportunity," kata Oscar.

Justin melihat konsep The Culture Incarnation dari Oscar dalam pertunjukkan kali ini dan menerjemahkannya dalam rupa-rupa bando anyaman. " Konsep The Cultur Incarnation itu adalah bahwa sesuatu yang tradisi bisa diadaptasi menjadi karya seni untuk masa depan,"ujar Oscar. Jadilah busana siap pakai, gaun pendek hingga gaun pesta yang disulap dari kain tradisional lengkap dengan hiasan kepala dari anyaman pandan.

DIANING SARI/Koran TEMPO

Menggalang Tanpa Tangan Tengadah


Sekitar seratus sosialita hadir dalam peragaan busana Sebastian Gunawan dan 
Christina Panarese. Tampak  langganan  penggila busana disainer top, bekas Deputi 
Gubernur Bank Indonesia Miranda Gultom, dan selebrita lainnya ; Arti Laksmigati 
Ariotedjo dan Ratmani Probosutedjo hadir di barisan depan  catwalk.  Mereka hadir
kompak memakai gaun dominasi warna merah. Memang acara itu bertema Go Red for 
Women, Kampanye Yayasan Jantung Indonesia dalam Jakarta Fashion Week, 

Sebastian Gunawan digandeng Yayasan Jantung Indonesia untuk pertama kalinya untuk
menggalang dana. Karyanya ditampilkan oleh enam orang muse (wanita penggerak 
Yayasan Jantung Indonesia) dan tiga duta Yayasan Jantung Indonesia, Susan Bahtiar,
Meity Ariotedjo dan Zivana L.Siregar

Di tengah-tengah show, Yayasan Jantung Indonesia melelang sepatu karya Christina
Louboutin. Sepatu red peep-toe dengan tanda tangan asli dari Loubutin dibuka dengan
nilai Rp 2 juta. Sepatu merah berhak tinggi ukuran 37 ini akhirnya dibeli seorang
perempuan muda seharga Rp  30 juta. Padahal di pasar harganya cuma berkisar Rp 11
juta. Tapi semua dana itu disumbangkan buat penderita jantung.

Lelang kedua adalah cincin emas. Cincin bertahta mutiara dengan baluran kristal 
laku dengan harga Rp 30 juta. Untuk Cincin ini, dananya khusus untuk membantu 
seorang anak penderita jantung. Dua benda perhiasan perempuan tersebut menjadi
magnet yang menarik untuk bergaya sekaligus beramal. Menggalang dana tanpa meminta
minta? cobalah cara Yayasan Jantung Indonesia ini

DIANING SARI?koran TEMPO/Boks

Campuran Gaya Menggalang Dana


Dua Era busana perempuan menjadi Insiprasi Sebastian Gunawan.
Enam orang  perempuan melenggang di atas panggung peragaan. Bukan sekadar peraga, mereka 
adalah inspiratif penggerak Yayasan Jantung Indonesia. Para model itu membawakan 45 rupa 
gaun karya Sebastian Gunawan dan isterinya, Christina Panarese. Tema pertunjukan itu, 
Charming Blend , campuran pertunjukan sekaligus Kampanye Yayasan Jantung Indonesia.

"Tema Charming Blend adalah perpaduan filosofi berpakaian,"kata Seba,  panggilan 
perancang busana itu Senin kemarin di acara di Pekan Busana Jakarta alias Jakarta Fashion
 Week. Menurutnya, dua era monumental bagi perempuan menjadi sumber ide Seba, momen tahun 
1920-an dan 1960-an.

Tahun 1920-an, menurut Seba adalah era kebebasan berpakaian perempuan dari balutan
 "underwear" yang sangat kencang. "Cirinya adalah korset yang tak lagi bertali," ujarnya.
 Ungkapan kebebasan tersebut hadir dalam gaun dengan siluet lurus dengan kontur tetap 
feminim.

Era  itu ditampilkan dalam gaun pendek tanpa lengan yang warnanya dominan dari warna 
korset yaitu coklat dan hitam. Detail bordir dan aplikasi kristal di bagian dada dan bahu 
mengubah inspirasi pakaian dalam menjadi gaun malam yang elegan.

Lalu masuk ke masa 40 tahun kemudian, di tahun 1960-an, ketika perempuan semakin bebas 
memilih gaya busana. Tahun itu lahir gaya busana A-Line maupun baby doll. Tren memang 
seperti siklus akan selalu berulang di setiap masa, dan perancang busana adalah pengarang 
cerita dalam siklus tersebut."Kami punya kebebasan untuk mengungkap kisah suatu tema dalam 
cerita pendek maupun cerita panjang," kata Seba. Campuran nan menawan dalam dua era
 tersebut (Charming Blend) hadir dalam karya Seba dan Christina. 

Untuk model gaun pendek, Seba menggunakan model seperti rok balon tapi dimodifikasi di 
bagian piggang. Sehingga siluet balon hadir dalam permaian layer di bagian pinggang. 
Adapun untuk gaun panjang yang menarik adalah detail ekor gaun. Seba dan Christina 
memainkan ekor gaun dari bahan chiffon dengan cara mengikat bak ekor kuda.


DIANING SARI/Koran TEMPO

Cuma Nutupi Korupsi

Menjelang pertandingan final Tim nasional "Garuda Muda" dengan kesebelasan Malaysia
di Senayan, Jakarta, hampir semua kendaraan menuju tempat pertandingan penuh. Begitu juga bus transJakarta yang dikenal sebagai busway yang saya tumpangi dari Gajah Mada menuju Ratu Plaza.

Penumpang disesaki orang-orang yang berpakaian merah, warna kebanggaan tim
nasional. Di luar bus, juga tampak motor di jalan penuh orang-orang berkaos merah. Di
depan pintu bus menjalgn saya turun, dua orang sedang bercakap-cakap mengenai sea
games yang hari itu sudah dipastikan akan menjadi juara umum, karena perolehan medali.
"Ya, sejak 1997 kita gak juara umum,"kata lelaki itu.

"Lumayanlah, untuk menutupi kasus-kasus korupsi yang sedang terjadi sekarang,"katanya. Memang sejak ada sea games, dan jumlah perolehan medali, perhatian media kepada
berita olahraga. Tak salah kalau dugaan acara sea games dan peroleh medali yang
membuat orang dan media melupakan kasus-kasus korupsi yang masih belum
terselesaikan. Walaupun belum tentu benar juga dugaan itu. Tapi kenyataan
membeberkan acara sea games membetot perhatian.

Sayangnya, sepakbola tak mendapat medali emas, kalah dari Malaysia. Seperti Indonesia, negeri jiran itu juga terbelit masalah rasuah. Tentu berita menggembirakan tim Harimau Malaya mengalahkan Garuda Muda di negeri itu bisa menutupi masalah korupsi dan
kelakuan bejat pejabat-pejabat setempat. Kekalahan tim Garuda, memperpendek usia
cerita sea games, semoga kasus-kasus korupsi kembali diungkap media dan hukuman
para pelakunya semakin tinggi dan tak mendapat tempat enak di penjara.

Senin, 21 November 2011

Sumbangan Mak Erot


Jangan memandang enteng orang kampung, atau orang yang tinggal jauh di kampung. Dia bisa menyumbangkan sesuatu yang tidak bisa diduga banyak orang.

Mak Erot misalnya, dukun pijat alat vital dari Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat, termasuk yang menyumbangkan kata dalam kamus bahasa Inggris, Erotism. Nun jauh di Indonesia ternyata cara-cara Mak Erot memperbesar atau memperpanjang alat vital menjadi ajaran (isme).

Tahun 1992, dalam tugas jurnalis TEMPO biro Bandung (Jawa Barat) saya pernah bertemu Mak Erot. Dari kota Sukabumi harus menempuh perjalanan dengan elf menuju pelabuhan ratu. Dari Pelabuhan Ratu ganti lagi naik ojek, mauk ke kampung, jalannya berbatu. Bahkan karena guncangan jalan berbatu, badan terasa gatal, mungkin karena getaran yang menyebabkan darah begitu lancar.

Cara-cara Mak Erot memperbesar atau memperpanjang alat vital alias penis, memang  aneh. Seseorang pasien yang datang disuruh memilih ukurannya sendiri dalam lempengen bambu yang nantinya berisi ketan, seperti lontong. Nah, si pasien yang memakan lontong itu akan memiliki atau merasa memiliki penis sebesar ukuran yang dipilih atau lontong yang dimakannya. Agar manjur, ada syarat lain, tidak boleh berhubugan intim (bersetubuh) dulu dalam waktu sepekan. Mungkin keanehan itulah yang membuat kagum pembuat kamus bahasa Inggris sehingga memasukkan nama Mak Erot dalam kamus sebagai ajaran Erot (ism).

Sebagai ajaran seperti nabi-nabi tentu saja banyak saja yang mengaku-ngaku anak cucu atau pengikutnya. Dulu saat Mak Erot masih hidup saja juga demikian.  Tak heran jika di jalan menuju Cisolok terpampang iklan menempel di pohon atau tiang listrik "memperpanjang alat vital." Ternyata, dulu, amat mudah untuk membedakan iklan mak Erot (asli) dengan yang palsu. Mak Erot asli memasang iklan tersebut dengan kata-kata "Memperpanjang alat Pital."

Minggu, 20 November 2011

Penggalangan Dana dan Media : Pencerahan Farid Gaban



Sebenarnya selalu ada beberapa problem ketika media menjadi lembaga bantuan. Salah satu yang dipertanyakan: layakkah media ikut menggalang dana masyarakat? Praktek seperti ini sering dilakukan oleh banyak media dalam situasi bencana.

Beberapa pekan lalu, bersama Ahmad Arif dari Kompas dan IGG Maha Adi dari The Society of Indonesian Environmental Journalists, saya diundang bicara dalam sebuah workshop "media di tengah bencana".

Tema penggalangan dana bantuan oleh media menjadi tema yang mengemuka dan banyak dipersoalkan.

Kami bertiga sepakat menilai praktek seperti itu tidak layak.

Peran media tentu saja sangat penting dalam pemberitaan bencana dan membantu masyarakat menghadapi maupun mengantisipasinya. Tapi, tugas utamanya adalah membantu masyarakat dengan menggali dan menyajikan berita yang benar, komprehensif dan proporsional.

Tugas ganda media-charity, sebaliknya, sering membawa implikasi negatif yang muncul dari adanya konflik kepentingan.

Ketika TV/koran menjadi lembaga pengumpul dan penyalur bantuan, ada kecenderungan wartawan mereka di lapangan membuat berita yang bersifat ekslpoitatif, mengeksploitasi penderitaan berlebihan untuk mengongkrak pengumpulan dana.

Ditambah oleh kecenderungan berlebihan pada kontroversi dan sensasi, media cenderung mengabarkan "darah dan air mata" yang cuma mengaduk emosi, memicu kepanikan, tapi tidak membahas masalah substansial berkaitan penanganan bencana.

Dan dalam kasus tertentu, media tidak membantu melainkan justru merugikan masyarakat. Kita masih ingat contoh bagaimana, misalnya, wartawan TV One ditolak masyarakat Yogya/Merapi.

Ada masalah lain dari pengumpulan bantuan itu yang disoroti peserta workshop:

- Transparansi pemakaian dana. Siapa mengaudit dan mengawasi?

- Apakah dana bantuan juga dipakai untuk membiayai peliputan? Demi menghemat biaya peliputan?

- Bukankah menyebut "bantuan pembaca Kompas" atau "bantuan pemirsa TV One/MetroTV" cenderung memiliki motif promosi/branding ketimbang charity?

Sebuah motif yang pada dasarnya egois?

- Kecenderungan media menjadi lembaga bantuan akan memperlemah kapasitas dan kapabilitas lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan yang selama ini telah banyak membantu masyarakat (LSM/NGO/Ormas)

Ketimbang ikut-ikutan menjadi lembaga pengumpul dan penyalur bantuan, menurut kami bertiga, lebih baik jika media membantu memperkuat lembaga sosial kemasyarakatan yang sudah ada, artinya mengumumkan alamat organisasi penerima bantuan.

Takut disalahgunakan? Tanpa terlibat dalam pengumpulan dana, media bersangkutan tetap bisa memonitor dan menuntut akuntabilitas penggunaan dana oleh lembaga-lembaga yang disebut. Tapi, kalau media sendiri menjadi pengumpul bantuan, ada konflik kepentingan yang mencegah mereka menjadi pengawas.

Dan sebenarnya ada banyak tugas media, di luar menjadi pengumpul bantuan, yang selama ini belum banyak ditunaikan.

Media di Indonesia sangat kurang menyoroti kebijakan publik berkaitan dengan penanganan dan pencegahan/pengurangan dampak bencana. Ini wilayah penting media: menyoroti kebijakan publik.

Media umumnya hanya ribut ketika terjadi bencana. Tapi kurang menyoroti aspek kebijakan publik yang bersifat struktural. Indonesia negeri bencana dan sebagian besar korban bencana adalah orang miskin. Karena kemiskinannya, mereka tinggal di kawasan yang rawan bencana. Karena miskin dan kurang pengetahuan, mereka cenderung memiliki rumah yang tak tahan gempa, misalnya.

Meliput bencana tidaklah sekadar meliput apa yang terjadi, tapi juga masalah-masalah berkaitan dengan politik (kebijakan publik), ekonomi (kemiskinan, lapangan kerja), dan lingkungan (geografi, banjir, vulakanologi, pencemaran).

Ketimbang sibuk menjadi pengumpul bantuan (dan menimbulkan komplikasi), tema-tema fundamental itulah yang mestinya digali dan disajikan sehingga benar-benar bisa membantu masyarakat-pemerintah mengurangi dampak bencana.

fgaban

God, got, goat


Tuhan dalam bahasa Inggris tertulis God. Punya dalam bahasa Inggris pasttenses  dan past participle got (get-got-got). Sedangkan Goat berarti domba, selain lamb.

Nah, kepikiran saat Hari Raya Idul Korban (Adha), dimana  para khatib bercerita
mengenai (Nabi) Ibrahim yang disuruh Tuhan memotong anaknya, lalu Tuhan
menggantinya dengan domba, saat kepatuhan itu dijalankan. Cerita  tentang ujian Tuhan
pada Ibrahim atau Abraham ini diceritakan pada kitab-kitab suci yang masyhur.

Kenapa Tuhan menggantinya dengan domba (goat)? Kenapa Tuhan tidak mengganti
dengan gajah misalnya yang lebih besar atau unta yang banyak hidup di pasang pasir
atau ular padang pasir yang mematikanLalu para pesuruhnya atau messengernya (nabi) profesinya kebanyakan juga adalah penggembala domba? Pertanyaan ini
menggantung. Lalu melirik ke bahasa Inggris tiga kata tersebut (God, got dan goat) jika
dibaca tidak terlalu beda kedengarannya. Jangan-jangan (kamus) bahasa Inggris itu
mengambil kata-kata tersebut dari cerita-cerita pada kitab-kitab suci. Sebenarnya
apakah domba (goat) itu memang kepunyaan (got) Tuhan (God).Wallahua'lam
bissawab. Hanyalah alam (penyanyi mbah dukun) yang bisa menjawab.

Habib

Kita sering mendengar nama orang atau panggilan seseorang dengan Habib (lihat tulisan
saya tentang Habib di Majalah TEMPO beberapa tahun nyang lalu). Dia bisa berupa orang yang dianggap mulia, bisa juga orang yang dicintai.

Memang Habib berasal dari kata bahasa Arab yuhibuu yang artinya cinta. Seseorang yang biasa dipanggil habib itu seharus dia orang yang dicintai masyarakatnya, karena dianggap dia dicintai Tuhan (Allah)nya. Bukan orang yang dibenci.

Sering kita mendengar lagu-lagu bernuansa Timur Tengah, ya habibi...ya habibi..itu
maksudnya orang yang aku cinta. I dibelakang kata habib itu menunjukkan aku. Tentunya
jika anda menderngar lagu itu belum tentu berarti kecintaan pada Tuhan, tetapi juga
kecintaan pada seorang kekasih. Tak jarang lagu-lagu itu bercerita tentang asyik
masyuknya orang bercintaan (berpacaran) atau orang yang putus asa karena ditinggal kekasihnya, seperti lagu-lagu (campur sari)nya Didi Kempot atau lagu penghibaan
Pance Pondaag. Jadi bukan sebuah rapal doa. Walau ada juga lagu-lagu relijius yang
mengarah kepada doa atau pujian pada junjungannya.

Nah, kembali ke kata habib atau yuhibuu,  dalam bahasa arab (slang atau tidak slang?)
ada kata hub yang berarti kemaluan perempuan. Saya berpikir, jangan-jangan asal kata
yuhibbu itu berasal dari kata hub. Bukankah hub adalah salah satu alat pasangan untuk
bisa seseorang bercinta?

Sarung



Kaum bersarung, sering identik dengan kelas bawah atau santri dari pesantren 
konvensional. Tapi anggapan itu akan sirna tahun depan. Para disainer Indonesia akan menampilkan sarung sebagai tren mode dunia dalam Indonesia Fashion Week, Februari 
2012. "Perkembangan mode memberikan kesempatan terbuka sarung bisa berjaya ke 
pentas nasional hingga go internasional, mengikuti batik dan lurik,"kata Ketua Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia, Taruna Kusmayadi pada acara Group 
Discussion Road to Indonesia Fashion Week (IFW) 2012 di hotel Morrisey, Menteng
Jakarta.
 
Menurut perancang yang akrab dipanggil Nuna itu, sarung Indonesia sangat istimewa sebagai
salah satu hasil karya serta kreativitas perempuan Indonesia. Biasanya, sarung hanya 
digunakan untuk sehari-hari, menghadiri beberapa acara tertentu atau keagamaan dan 
sebagai hadiah. "Sangat disayangkan bila keberagaman motif dan bahan sarung yang indah
saat ini hanya digunakan untuk saat tertentu," ujarnya. 

Karena itu menjelang pemanasan acara tersebut, para disainer akan menyebarkan demam sarung
kepada masyarakat. "Kami akan  menampilkan berbagai koleksi sarung dari para perancang, 
supaya bisa menasional seperti batik,"kata Nuna.
 
Itu petikan tulisan dari Koran TEMPO yang saya edit. Sarung kalau dipikir-pikir itu
berasal dari singkatan SA rang bu RUNG. Sejarahnya sarung hanya dipakai kaum lelaki untuk 
melindungi "burungnya" dari marabahaya yang datang dan akan datang. Karena kalau yang mirip 
serupa dipakai kaum perempuan di Jawa disebut Jarik.
 
Sarung bagi kaum lelaki bukan saja melindungi alat vital itu, tapi juga membuatnya nyaman 
dan lega. Berbeda jika pria mengenakan celana atau celana dalam, sang lambang kejantanan
itu yang di dalam bahasa Inggris disebut Penis akan tertekan, ujung-ujungnya berbahaya 
bagi biji (buah zakar) maupun batangnya. Nantinya akan mempengaruhi fungsi baik yang 
tampak secara fisik maupun kualitas (sperma)nya.
 
Tak jarang karena terkenal sebagai sarang "burung", bila ada seseorang yang membeli burung 
(benaran), seperti perkutut dan lain sebagainya dalam kandang saat dibawa ditutupi sarung.
Sarung itu nikmat pua dipakai tidur bersama perempuan atau isteri, karena memudahkan,
tak perlu buka kancing, resleting (zipper), tapi cukup diangkat atau diloloskan saja. 
Benda yang bernama sarung juga enak dipakai saat ronda atau nonton layar tancep bisa 
digunakan untuk mengusir nyamuk atau berempet-empetan dengan pasangan.  

Fuck Ta


Sering kita mendengar atau membaca kata Fakta. Sebenarnya dari mana sih kata itu? 
Mari kita telusuri

Menurut kamus besar bahasa Indonesia fakta itulah kenyataan, sesuatu yang benar-benar terjadi. "fak.ta[n] hal (keadaan, peristiwa) yg merupakan kenyataan; sesuatu yg benar-
benar ada atau terjadi".

Asal kata itu dalam bahasa Inggris adalah Fact. Kalau kita mendengar tak berbeda dengan
kata fuck. Apa benar cerita sejarang tentang kata Fact atau Fuck itu berasal dari cerita 
dalam kitab-kitab suci tentang Adam dan Hawa (Eve), yang melakukan hubungan badan 
di dalam surga. Padahal hubungan badan itu digambarkan dalam kitab-kitab suci sebagai 
buah terlarang.

Nah, kenyataan itu sekarang sudah terjadi dan kita ini bani adam sebagai buah dari pohon terlarang yang dipetik oleh Adam untuk dipersembahkan kepada Hawa (Eve).

Prolog : Asal Kata = Kata, Asal

Sering kita mendengar sebuah kata, tapi kita menerima saja kata-kata itu. Sebenarnya
dari mana kata itu berasal, sering kita tidak peduli.

Sering muncul dari pikiran, bahwa sebuah benda dinamakan sesuatu bisa berdasarkan bentuknya, sebuah kata juga bisa berasal dari sebuah ucapan ataupun singkatan maupun perumpamaan. Dari pikiran-pikiran liar timbul salah satu sum dalam blog ini. Siapa tahu
hasil pikiran itu ternyata benar dan bisa diterima banyak orang.

Jikapun tidak bisa diterima asal kata yang disebutkan dalam episode-episode berikutnya, anggap saja ini kata-kata, asal (asalan).  Ini juga merupakan parodi untuk lucu-lucuan,
misalnya  singkatan nama atau apa saja pikiran nakal dan liar yang muncul begitu saja.

Salam.
A.T (Asu Tenan), boleh !

Selasa, 15 November 2011

Colonialist Seizing Heritage



When I was child, my grandma was always told me on Japanese Colonial
era at Indonesia. This is a story : It was 1945, when Indonesia had being independent, I (my grandma) was always hear siren. Then Japanese’s military had been acknowledged as ‘old brother’ from people’s Asian,
after siren sound via sound tool installed and shouted ‘’kehoo enemies’’. This mean that enemy came. It was time, the Indonesian peoples were 
at ground protected at bunkers.
 
After a few time sirens rang, shouting and order to enter bunker onto
ground. My grandma would like to know, and gone to out, what was 
going on? But, Japanese soldier taken our pan (cook tools etc) and 
various items manufactured by metal and they taken rail to their 
trucks provided.

Above information tell us, the colonialist taken our assets at this 
country. As Japanese at mid 1940s and Dutch was four 350 years
colonize at Indonesia. As an information, windmill country-Nederland- constructed by our assets taken for three and half centuries.

Unfortunately, the colonials were not of this country. Due to day, they 
are still seize to weakness countries and dependable to their countries.
Most our assets and history items are at another countries, Europe, 
USA, or Japan. Not only that, early 1980s, Indonesia was one of target hunter assets instead of Burma, Malaysia, Thailand, Philippine and Kamboja. According to senior officer and naural resources, Ministry of
Marine Exploration and Fishery Indonesia, we have 487 points target
at depth water in Indonesia ; including 37 points at Mala Strait, 17 at
Riau water territorial, 134 at Pelabuhan Ratu, West Java, 88 at Irian
Jaya (Papua) and 36 at Maluku (Mollucans) and another sites.

Each points assets kept, US $ 125 million. But just a little taken this country at the assets found. For instant, taking Flor de la Mar, it was Portuguese board entered to bootm of the sea at Riau and Sabang 
Island (Aceh) just only to take Rp 4 billion of Rp 57 quintillion. This 
ship with 700 ton and taken 60 gold and jewels, the result of
reparations payment at Asia, assets from Kingdom of Melaka (Malaysia) and assets from traders rich. Still most ships owned colonial to seizure the colonial country which entered to bottom of the sea taken storm 
and now as hunter target from Europe.

As last November eleven years ago at Nagel Bid Centre, Stuttgart, Germany. Thousands assets shown and ready to sale. It is surprise. The Government of Indonesia claim to items and returned to Indonesia. They took from Indonesian water territorial. Of course, ceramics and 
gold pice from Tek Sing Board, it was Chines ship entered to bootm of 
the sea at beginning of 1822 at Gelasa Strait between Sumatera Island and Singapore, and now under Riau territorial, Indonesia.

The claim of Government of Indonesia to these items and no money
paid to Indonesia from items taken at Indonesia territorial. A few time, Michael Hatcherm, hunter’s old item from England cooperated to
senior military and family from Suharto regime taken them with million
US Dollar.

Of course, either hunter or informal taker would always co-operated to senior officer or government officer. They can access as they corrupt, if any another did never paid to
state. Rather of Indonesia, neighbour country like Philippines. Dennis Austin Standefer,
who extradited from Indonesia to Philippine cause crime, he is from USA who successed
get the license from Philippine’s (last) President Fidel Ramos to transport the items. But
it was like Indonesia, the state did never use all.
 
In facts, now Asian countries were frequently to be target from hunters 
ol item, the thieves co-operated. If necessary, enter the co-agreenebt 
to Asian countries. This ban taken the old item at a territorial. Rather 
of co-agreement, they shall be established investigation committee oriented to the United Nation. This committee shall have right to 
punish to ex-colonial and take again those them. This meant, those
were not unauthorized action. In facts, the domestic corrupters who co-operated to hunter shall be jail and as treacherous nation. No more again the assets from ships like Flor de la Mar, Tek Sing, Geldermalsen and The Nanking Cargo taken in in-authority. The imperialis still go 
now, we have duty to end now. Just like the preamble of 1945 Indonesia
Constitution, the imperialism has to eliminate. Independent !

Ahmad Taufik,
Journalist from Koran TEMPO (daily), Jakarta Indonesia.

Kamis, 10 November 2011

Siapa Pengusaha Hitam Itu?

Agus Condro: Pengusaha hitam lindungi Nunun

Jakarta - Terpidana kasus cek lawat Agus Condro menyebut pihak yang melindungi
Nunun Nurbaeti selama ini merupakan pengusaha hitam yang sudah cukup lama dikenal
di negeri ini.

Agus mengatakan, pengusaha hitam ini memiliki kepentingan dengan Bank Indonesia. Caranya, dengan menempatkan ´orang pilihan´ ke dalam BI. Hal itu, sambung Agus yang menjadi cikal-bakal adanya cek lawat kepada anggota dewan.

"Ya pejabat BI kan jadinya merasa berutang karena pada saat pemilihan disponsori," ujar Agus kepada wartawan, Selasa (1/11).

Agus  mengatakan, BI memang lembaga independen yang tidak bisa disetir pemerintah, namun hal itu berbeda ketika berhadapan dengan para pengusaha.

"Kalau dengan para pengusaha urusannya lain. Banyak pengusaha hitam yang ingin mempengaruhi BI," kata Agus.

Meski begitu, Agus tidak mau menyebutkan siapa pengusaha hitam yang cukup tenar di tanah air ini.

"Kalau itu saya tidak tahu," terang mantan politisi PDIP ini.

Sebelumnya Ketua KPK Busyro Muqoddas menyebut jika kesulitan mencari Nunun Nurbaetie lantaran ada pihak yang melindungi.

Sementara  itu, dari persidangan sejumlah politisi yang menjadi terdakwa dalam kasus ini, terungkap Nunun memiliki kedekatan dengan pihak pengusaha.

Cek pelawat yang menjadi alat suap dalam kasus ini dibeli dari Bank Artha Graha.
Pembelian itu dilakukan pada 8 Juni 2004 oleh bank itu dari PT Bank Internasional
Indonesia (BII) Tbk. Cek tersebut dibeli oleh Bank Artha Graha atas permintaan dari
PT First Mujur Plantation and Industry.

Karena dianggap memiliki peranan yang signifikan, ketika kasus ini muncul untuk kali pertama di tahun 2008, KPK langsung mencekal Direktur Utama PT Bank Artha Graha Internasional Tbk Andy Kasih dan Direktur Utama PT First Mujur Plantation and Industry Hidayat Lukman dan Direktur Keuangan PT First Mujur Plantation and Industry Budi Santoso.

Reporter :  Nebby Mahbubirrahman (nebby@gresnews.com)

http://www.gresnews.com/berita/hukum/113111-agus-pengusaha-hitam-lindungi-nunun?

Bloggers for AIDS Day

Siaran pers:

Blogger diundang untuk membantu meningkatkan kesadaran di Hari AIDS Sedunia

Menyambut Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember, para blogger di Indonesia diundang
untuk membantu meningkatkan kesadaran tentang HIV/AIDS melalui sebuah lomba
dalam jaringan (online).

Mengangkat tema "Remaja dan HIV", kompetisi ini mengundang blogger muda Indonesia untuk menulis pengalaman serta pendapat mereka mengenai HIV/AIDS.

"Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan epidemi HIV/AIDS
tertinggi di Asia Tenggara. Kita perlu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang
penyakit menular ini," ujar Duta Besar Australia untuk Indonesia, Greg Moriarty.

Kompetisi ini diharapkan dapat menjangkau komunitas media sosial di Indonesia - 38 juta pengguna Facebook dan lebih dari 3,2 juta blogger - menghadirkan informasi mengenai HIV/AIDS ke pengguna internet Indonesia secara menarik serta mudah dibaca.

Kompetisi ini diselenggarakan oleh lembaga bantuan Pemerintah Australia, AusAID, yang bermitra dengan situs berita terkemuka di Indonesia, Viva News.

Pemenang kompetisi ini akan diumumkan pada 20 Desember, tiga penulis terbaik berhak mendapat hadiah MacBook air, kamera dan Smartphone.

Kompetisi blog ini merupakan salah satu strategi yang dilakukan oleh AusAID di Indonesia untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang bagaimana cara mengurangi penularan HIV/AIDS, dan memberikan bantuan kepada mereka yang hidup dengan virus, ungkap Duta Besar.

Pendaftaran dapat dilakukan dengan mengunjungi www.vivanews.com/aids_govlog<http://www.vivanews.com/aids_govlog>
Pendaftaran ditutup pada 30 November.

Pada 2010, Kemitraan Australia untuk HIV senilai A$100 juta telah membantu 50.000 narapidana, 26.000 pengguna napza dengan akses jarum suntik steril, program
methadone dan pelayanan serta perbaikan akses terhadap obat-obatan untuk orang
dengan dengan HIV (ODHA).


Pertanyaan media:
Mia Salim, Public Affairs, AusAID Indonesia, 08121070237


Clare Price

Public Affairs Officer | AusAID
M +62 811 187 2365 | Ph +62 21 2550 5387 | Fax +62 21 2550 5582
Australian Embassy
Jl. H.R. Rasuna Said Kav. C15-16, Jakarta 12940, Indonesia
www.ausaid.gov.au<http://www.ausaid.gov.au/>

Hongkong Racist City?

Hong Kong: ‘World City’ or Racist?
Cyril Pereira | November 09, 2011


Pepito Mamaril, a 60-year-old Filipino, flew into Hong Kong on Nov. 2 to attend the wake
of his sister-in-law. For an already emotionally fraught visit, what happened next was both traumatic and unnecessary.

Mamaril was detained in an Immigration Department cell for hours and deported the
same evening to Manila, thus doubly distressing him by treating him as a criminal. Hong Kong Immigration is not obliged to give reasons for its decisions.

Racial discrimination on the streets is one thing. Having that infect official discharge of
duty by the uniformed services raises serious questions about where Hong Kong is
heading as a society. Hong Kong has always prided itself on strict observance of the letter and spirit of the law.

If a Hong Kong man was refused entry into Manila to attend the funeral of his close
relative, one can imagine the outraged calls to the Hong Kong government and the
Chinese Embassy to remonstrate with the Philippine authorities for insensitive high-handedness.

The farce was further compounded by an immigration officer who spoke on the phone to Mamaril’s older brother, the husband of the deceased, a Hong Kong permanent resident,
in Cantonese, to which the hapless man at the other end could not respond.

Was the officer incapable of seeking clarification in English? If not, what is he doing in a public service whose role is to process international visitors?

To top it all off, the final official justification was a declaration of classic bureaucratanese: “The deportation order has already been made. This is just a one-off. If your uncle wants
to come back, he can always come back to Hong Kong.”

Ethnic minorities constitute 5 percent of Hong Kong’s seven million residents, 95 percent
of whom are ethnic Chinese. The minority 5 percent comprise Europeans, South and Southeast Asians and about 250,000 domestic helpers (largely Filipinos and Indonesians).

Hong Kong has never been known for crass and overt racism. If at all, it is subtle. It takes
the form of some landlords denying people of color housing, some taxi drivers refusing to take such passengers and refusal to employ non-Chinese in white-collar jobs or in underpaying them. It shows at restaurants where a family sits to lunch excluding the domestic helper who has to manage unruly children but is not invited to share the
communal meal.

Hong Kong’s police and immigration officers are by and large respected for their courtesy,
helpfulness and adherence to process. You never have to bribe them to merely do their
jobs, which is endemic in Indonesia, the Philippines and all of the South Asian countries.

It is therefore all the more worrying that this high standard of professional conduct by the uniformed services may be eroding.

Recently there has been public anxiety about the prospect of “Right of Abode” being extended to domestic helpers who were previously excluded from such benefits despite meeting the seven-year residency requirement. Domestic helpers are also excluded from Hong Kong’s minimum wage law.

Crafty politicians jumped on a public anxious about economic contraction and high
inflation to scare-monger shamelessly. There is no faster way to project political
credentials than by frightening locals about the threat of job losses and school and
hospital facilities being swamped by an immigrant horde waiting at the gates.

The government provided no leadership in clarifying the administrative tools already available to control permanent residency on several criteria. It allowed disinformation to reach hysterical levels and for opportunistic politicians to fuel paranoia.

It suited the government and pro-Beijing compatriots that the Civic Party and Democrats sympathetic to the legal challenge were politically disadvantaged before the District
Council elections held on Sunday.

Regina Ip, who peddled the seriously flawed Article 23 Security Bill, made a dramatic visit
to Beijing to lobby for a ruling on the Right of Abode question, which was raised by
domestic helper Evangeline Vallejos, who sought a review after having lived continuously
in Hong Kong for 25 years.

Vallejos was granted leave to apply for right of abode by Hong Kong’s Court of First
Instance, which held that the Immigration Ordinance that excludes domestic helpers is illegal as it contradicts Hong Kong’s mini-constitution.

The government expressed disappointment and is appealing.

The Democratic Alliance for the Betterment and Progress of Hong Kong said that if 125,
000 eligible domestic helpers were granted Right of Abode, unemployment would soar from
3.5 percent to 7 percent — and if spouses were allowed in, it would rocket to 10 percent.

Hong Kong is obliged by China’s ratification of the International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination to introduce specific legislation to curtail racial discrimination. The UN Committee on Economic, Social and Political Rights has criticized Hong Kong’s lack of legislation prohibiting racial discrimination in the private sector as a breach of its obligations.

After a decade of laggardly discussion in the Legislative Council, the government finally introduced a Race Discriminatory Ordinance in July 2008, which came into effect in 2009. It excludes new immigrants from the mainland and exempts the administration itself from
the provisions of its own law designed to criminalize race discrimination.

The government maintains that as mainland immigrants are Han Chinese, the same as
Hong Kong residents, they technically cannot suffer race discrimination. That can only be classed as “social” discrimination which is outside the definition of the new law.

The most virulent discrimination visited on any group by Hong Kong society is on
mainland immigrants in housing, schools, hospitals, employment and through exclusion
from social interaction.

By excluding new mainland immigrants from anti-discrimination protection, the Hong
Kong government allows the continuation of such uncivil treatment. It defeats the intent
of the law. It makes a mockery of calls for “patriotic” education by sycophantic politicians. And the logic for the administration exempting itself from the law is to prevent “frivolous
claims” for compensation from minorities seeking to “make money” by suing the
government for alleged discrimination.

All of which sums up the lackadaisical attitude of the administration about ethnic and
social discrimination in Asia’s “World City.”



Asia Sentinel

Cyril Pereira is a former director of operations at the South China Morning Post.

http://www.thejakartaglobe.com/opinion/hong-kong-world-city-or-racist/477156

Rabu, 09 November 2011

Non Stop Minta Maaf

Berita Dewan Pers

Harian Non Stop Langgar Kode Etik
Kamis, 03 November 2011

http://dewanpers.or.id/kegiatan/berita/819-harian-non-stop-langgar-kode-etik

(Berita Dewan Pers) - Dewan Pers berhasil menyelesaikan pengaduan Walikota Jakarta Pusat, Saefullah, terhadap berita Harian Non Stop melalui mediasi di Jakarta, Rabu (2/11/2011). Mediasi dipimpin oleh Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika, Dewan Pers, Agus Sudibyo.

Saefullah mengadukan tiga berita Non Stop berjudul "Wow, Walkot Jakpus Ngebet Jadi Sekda?" pada edisi Kamis, 8 September 2011, "Pengamat: Saefullah Punya Mimpi Selangit" (Rabu, 5 Oktober 2011), dan "Otak Saefullah Belum Mampu Tandingi Fajar" (Kamis, 6 Oktober 2011).

Berdasarkan hasil pemeriksaan dan klarifikasi, Dewan Pers menilai Non Stop melanggar Pasal 2 dan 3 Kode Etik Jurnalistik karena memuat berita yang tidak jelas sumbernya, tidak melakukan klarifikasi kepada Walikota Jakarta Pusat, tidak berimbang, dan mengandung opini yang menghakimi.

Walikota Jakarta Pusat dan Non Stop yang diwakili General Manager, Indra Budiman, menerima penilaian Dewan Pers tersebut dan menyepakati dua butir penyelesaian yang tertulis di dalam Risalah Penyelesaian Pengaduan. Pertama, Non Stop bersedia memuat Hak Jawab dari Walikota Jakarta Pusat secara proporsional di halaman tiga disertai permintaan maaf kepada Walikota Jakarta Pusat dan pembaca.

Kedua, Walikota Jakarta Pusat dan Non Stop sepakat menyelesaikan kasus ini di Dewan Pers dan tidak membawa ke jalur hukum, kecuali jika kesepakatan yang dicapai tidak dijalankan.

Dalam mediasi ini, Indra Budiman secara lisan menyampaikan permintaan maaf kepada Saefullah.***

Mata-Matai Pengacara (dari antara)

News Corp akui mata-matai pengacara

Kantor Berita Antara
Selasa, 8 November 2011

http://www.antaranews.com/berita/283536/news-corp-akui-mata-matai-pengacara

London (ANTARA News) - Surat kabar Inggris yang berafiliasi ke News Corp milik konglomerat media Rupert Murdoch, mengatakan staffnya diperintahkan memata-matai
dua pengacara yang menwakili korban yang menuntut grup media itu atas skandal penyadapan telepon yang mengguncang perusahaan media tersebut.

News International, lengan bisnis surat kebar News Corp di Inggris, mengakui tindakan penyadapan ilegal pesan telepon yang merusak reputasi mereka itu "tidak tepat".

Kini tuduhan menjalar ke James Murdoch --putra Rupert-- yang memimpin News International, apakah dia mengetahui skandal penyadapan itu.

Detektif Swasta Derek Webb mengaku telah disewa News of the World yang sudah
dilikuidasi itu, untuk memata-matai pengacara Mark Lewis dan Charlotte Harris yang membela beberapa korban penyadapan, demikian BBC seperti dikutip Reuters.

BBC melaporkan pengintaian itu adalah bagian dari upaya untuk memojokkan Mark Lewis bahwa lelaki ini memiliki skandal asmara dengan Charlotte Harris dan telah berbagi informasi penting dengan perempuan pengacara ini.

Webb yang pensiuan polisi mengatakan kepada BBC bahwa investigasi terhadap dua pengacara "berhenti begitu News of the World ditutup."

News International menutup News of the world Juli lalu di tengah kemarahan publik
kepada kasus pengungkapan wartawannya yang menyadap telepon milik anak sekolah bernama Milly Dowler yang diculik dan dibunuh pada 2002. Lewis Mewakili keluarga
Dowler.

"Penyelidikan News International telah membawa perusahaan itu untuk meyakini bahwa Mark Lewis dan Charlotte Harris menjadi target pengintaian," ujar juru bicara News International.

Hingga tahun itu, para petinggi News International menganggap remeh skandal penyadapan itu dengan mengatakan peristiwa itu hanya melibatkan "oknum" reporter yang telah dipenjara bersama seorang detektif swasta pada 2007.

Namun penyelidikin parlemen kemudian menunjukkan bukti jaub lebih luas dari yang ditemukan pada 2008.

Skandal itu telah menyebar ke mana-mana, para petinggi kepolisian Inggris
mengundurkan diri, sementara Perdana menteri David Cameron dipermalukan karena pernah menggunkan jasa News Of the world sebagai penasihat medianya.

Skandal bertambah luas, karena James murdoch gagal menetralisir skandal itu.

Dalam BBC Newsnight Mark Lewis menggambarkan investigasi atas keluarganya sebagai "hal buruk" dan mengotori kehidupan pribadinya serta membuatnya terintimidasi.

Sementara Tom Watson, anggota komisi parlemen yang menyelidiki skandal itu
menyatakan dua Murdoch harus bertanggungjawab.(*)

Pendapat F Gaban tentang Layanan Publik

Layanan publik, menurut saya, tidak semestinya dikaitkan dengan untung-rugi finansial.
Itu tanggungjawab dan kewajiban pemerintah.

Kita kadang cenderung menjadi lebih kapitalis dari kapitalis. Banyak negeri the so called kapitalis menyelenggarakan layanan publik berkualitas bukan karena cara berpikir
privatisasi atau untung-rugi. Lihat yang paling sederhana di New York, misalnya, ada
taman publik Central Park yang nyaman dengan toilet dan air minum gratis bagi siapa
saja.

Kinerja perusahaan layanan publik seperti KAI tidak semestinya diukur dari sukses
finansial, tapi pada kualitas layanan publik dan keterjangkauannya. Kualitasnya harus
bagus meski tetap murah bagi siapa saja termasuk orang miskin.

Damri, Pelni, KAI buruk layanannya karena rendahnya kesadaran akan kewajiban
pemerintah yg mesti menyenggarakan layanan publik secara murah atau malah gratis
dengan kualitas bagus. Bukan karena rugi yang disebabkan patokan tarif dari pemerintah.

Berpikir bahwa layanan bagus identik dengan tarif mahal adalah cara berpikir swasta,
cara berpikir pedagang. Cara berpikir yang merusak tatanan publik, menurut saya.

fgaban

Surat F Gaban pada Abby tentang Layanan Publik

Saya sudah download UU 25/2009 tentang Layanan Publik. Kita selalu punya aturan dan
UU yang bagus, tapi memble dalam pelaksanaan. Salah satunya adalah UU ini.

Di situlah pentingnya wartawan/media mengeksplorasi masalah ini.

Layanan publik berkaitan dengan politik dan isu reformasi birokrasi. Perubahan mindset
dari pejabat "yang dilayani" menjadi pejabat "yang melayani". Ini salah satu yang paling
sulit.

Filosofi menjadi pejabat adalah melayani akan menuntut perubahan dalam watak
demokrasi yang selama ini cenderung prosedural, menjadi demokrasi yang lebih esensial.

Ini memerlukan perubahan sistemik, antara lain lewat perubahan UU Politik dan Pemilu.
Juga memerlukan contoh nyata. Pejabat yang suka dilayani dan dikawal untuk mendapat prioritas di tengah kemacetan, misalnya, adalah contoh buruk dari tetap lestarinya cara berpikir "dilayani" bukan "melayani".

fgaban

Surat F Gaban tentang Pelayanan Publik

Salam,

Isu layanan publik (public services) belum banyak diliput oleh media, baik cetak maupun elektronik. Padahal, inilah isu yang dekat dengan kebutuhan dan kepentingan orang
banyak.

Banyak kota di dunia, besar atau kecil, memiliki layanan publik bermutu: ada atau tidaknya taman publik, perpustakaan publik, transportasi publik, jaringan utilitas (listrik, gas, air bersih) dan sebagainya.

Layanan publik yang bagus adalah simbol peradaban. Namun, banyak kota di Indonesia melupakannya. Pembangunan mall merajalela dari kota besar hingga kecil, namun mengabaikan layanan publik sederhana seperti perpustakaan misalnya.

Banyak media/wartawan mengabaikan isu layanan publik karena menganggap kurang "seksi", tidak se-"glamour" seperti halnya liputan politik. Padahal, meliput layanan publik sebenarnya meliput politik secara esensial. Kualitas layanan publik ditentukan oleh kualitas demokrasi.

Wartawan jarang meliputnya karena faktor lain: mereka kurang memahami dan
menyadari pentingnya layanan publik dalam hidup bermasyarakat.
 Isu layanan publik juga berkaitan dengan isu ekonomi dan mazhab ekonomi (berapa anggaran disisihkan pemerintah, ada atau tidaknya subsidi pemerintah).

Beberapa pekan lalu, saya diminta untuk berbicara soal ini di depan wartawan Pangkalpinang (Bangka-Bilitung).  (Jurnalisme@yahoogroups.com)

Tambal Gigi yang Gagal di RSCM

Kegagalan itu sering datang beruntun, sama seperti suka, duka dan kemujuran. Usai
rencana bikin e-KTP yang gagal di Kelurahan Kebon Melati, saya meluncur ke Rumah Sakit Cipto Mangunksumo, Jakarta. Waktu masihbelum  jam 9 pagi, hanya 20 menit dengan ojek
langganan.

Naik ke lantai 3 bagian poliklinik gigi. Menyerahkan kartu berobat warna hijau di loket administrasi. "Saya seharusnya kembali dua minggu, cuma baru sekarang bisa kesini lagi,"kataku tanpa penjelasan awal. Ini pembukaan untk antisipasi, karena dalam kartu seharusnya saya kembali ke rumah sakit itu 4 Maret 2010. Namun, karena poliklinik harus  pagi-pagi sekali, saya lalai.
"Mau tambal gigi?" tanya petughas administrasi itu.
"Tau? Tapi, masih ada kan, riwayat penyakit saya diberkas yang dulu,"kataku.

Aku kembali ke rumah sakit itu, karena daftar kekurangan gigiku sudah lengkap. Waktu itu sudah diperiksa secara seksama dan bahkan di-rontgen mulut (Panoramix).
"Tunggu saja disitu,"katanya menunjuk kursi dekat ruang konservasi gigi (edodonsia).
Waktu terus berjalan, panggilan belum datang azan dhuhur malah sudah lebih dulu kedengaran.

Kulihat ada juga dua anak muda yang lebih dahulu datang, masih juga belum diperiksa.
Dia kadang teriak-teriak. "Ini dokter disini pada Gila, ya, bang,"katanya padaku saat aku mendekatinya. Teguh Sinaga, 17 tahun mengaku sudah sejak jam 9 pagi di tempat itu,
belum juga ada panggilan pemeriksaan. Dia akan merapikan (merestorasi) giginya yang
patah. Karena tahun depan mau mendaftar masuk TNI Angkatan Laut.

Dua jam lebih Sinaga menunggu. "Ah, itu yang tertulis disitu bohong semua,"katanya. Dia menunjuk banner warna putih Budaya RSCM. Disitu tertulis : Menolong, Memberikan
yang Terbaik :

Profesionalisme : Kompeten, bertanggung jawab dan memberikan yang terbaik.

Integritas : Jujur, disiplin dan konsisten. Menjunjung tinggi moral, etika dan kemanusiaan.

Kepedulian : Proaktif, peka dan tanggap. Ramah dan bersahabat. Saling menghargai dan bekerjasama

Penyempurnaan Berkesinambungan : kreatif dan inovatif, terbuka terhadap perubahan.

Belajar dan Mendidik : belajar berkesinambungan. Mendidik dengan santun.

Bah!

Di kaca loket administrasi tercantum poli gigi dan mulut penerimaan pasien Senin - Kamis Jam 08.00-13.00 , Jumat 08.00-10.30. Telat dari jam itu jangan harap dilayani. Memang, tepat jam 11.30 bagi pemeriksan mulut, sudah tutup, para perawat sudah mulai pulang, begitu juga di bagian administrasi. Tapi di bagian konservasi gigi belum ada tanda-tanda perubahan, maupun panggilan, saya akan "di oprek" hari itu, tak ada pemberitahuan apa-
apa, hanya disuruh menunggu. "Ada dokternya?" tanyaku menyelidik.

"Ada,"jawab pegawai singkat.

Waktu sudah pukul 12.30. Pikiranku sudah ke pekerjaan di kantor yang bakal menumpuk, belum lagi jarak yang tidak dekat di Jakarta Selatan. Sudah 2 jam setewngah aku
menunggu. Akhirnya aku masuk ke ruang konservasi, minta kembali kartu ku ke perawat. "Minta kartu berobat saya lagi deh, gak jadi,"kataku.
"Mau sekolah ya?" tanya perawat.
"Bukan, mau kerja, belum izin mau gak masuk,"kataku sambil meninggalkan perawat. Di dalam ruang itu tampak seorang dokter sedang memeriksa pasien.
"Aku juga belom bu,"kata Sinaga.
"Kamu, nanti, ya,"kata suster itu singkat.

Saat turun lift saya bertemu dengan pegawai RSCM yang tadi tampak di poli gigi dan
mulut. "Saya udah nunggu dua jam setengah, gak dilayani, apa gak ada dokternya?"
"Ada cuma satu, satgu lagi seminar, satu lagi ke luyar negeri,"kata pegawai itu,"saya saja
juga lambat dilayani berobat disni payah,"kata pegawai itu sambil memperlihatkan bon
dan berkas-berkas berobatnya.

Aduh biyung! Jadi buat apa banner yang terpampang sebagai Budaya RSCM ,. (9 Nov 2011)



Meliput Layanan Publik by Farid Gaban

MELIPUT LAYANAN PUBLIK

 Pangkalpinang, 25 Oktober 2011

 MENGAPA LAYANAN PUBLIK KURANG DILIPUT

- Wartawan menganggap isu ini kurang menarik. Padahal memiliki banyak aspek yang menarik (politik, ekonomi, sosial, human interest).

- Publik kurang tertarik membaca karena liputan layanan publik cenderung menjemukan, permukaan dan tidak menyentuh kepentingan mereka. Akhirnya wartawan pun malas meliputnya.

- Wartawan kurang memahami pengertian dan pentingnya layanan publik dalam kaitan dengan politik.

 PENGERTIAN LAYANAN PUBLIK

- Layanan yang diberikan oleh pemerintah kepada warga negara secara:
 + Langsung (melalui sektor publik: lembaga pemerintah/BUMN).
 + Tak langsung, lewat perusahaan swasta yang dibiayai (disubsidi) negara.

- Warga negara berhak mendapatkan layanan publik dengan kualitas baik
 secara gratis, atau relatif murah.

- Layanan itu harus tersedia bagi semua orang, seluruh warga negara, tak
 peduli pendapatan. Tak peduli kaya atau miskin.

 JENIS LAYANAN PUBLIK

 Pengelolaan sampah
 Air bersih dan air minum
 Pendidikan
 Listrik
 Kesehatan
 Transportasi publik
Perlindungan lingkungan
 Pemadam kebakaran
 Jaringan Gas
 Militer
Kepolisian
Perumahan murah
 Layanan sosial, panti jompo, anak terlantar
 Telekomunikasi
 Perencanaan kota
 Administrasi (KTP, perizinan, catatan sipil)

LAYANAN PUBLIK BERKAITAN MEDIA

- Penyiaran publik (radio/televisi negara atau daerah)
 - Perpustakaan (tak hanya berisi buku, tapi juga dokumen publik lain:
 rencana tata kota, APBN/APBD, arsip negara)
 - Informasi: UU Keterbukaan Informasi Publik Setiap instansi pemerintah wajib memberikan informasi transparan tentang layanan yang diberikan; publik/media bisa menuntut pemerintah untuk transparan.

LAYANAN PUBLIK DAN POLITIK

- Layanan publik diputuskan lewat konsensus sosial, melalui pemilihan demokratis.
- Pemilihan bertujuan memilih eksekutif dan legislatif yang pada gilirannya menentukan kualitas layanan publik.
- Politik bukanlah sekadar aktor, tapi juga platform (janji kampanye).
- Media harus memantau platform/janji itu.

LAYANAN PUBLIK DAN OTONOMI DAERAH

- Sebagian besar layanan publik kini merupakan kewajiban pemerintah daerah, meski sebagian pembiayaan masih dari pusat.
- Gubernur/bupati dan DPRD punya peran besar dalam menentukan baik/buruknya
layanan publik.

LAYANAN PUBLIK DAN EKONOMI

- Kualitas layanan publik antara lain ditentukan oleh besarnya anggaran pemerintah (APBN/APBD) yang disisihkan untuk layanan itu.
- Pemerintah Indonesia kurang peduli: anggaran publik untuk kesehatan 1% dari GDP. Anggaran infrastruktur publik 3,4%. Bandingkan dengan anggaran pengelolaan pemerintahan/gaji PNS: 15% pada 2006.
 - Anggaran pendidikan 17% (dibanding 2001 yang cuma 2,0 dari GDP). Tapi, orang mengeluh sekolah mahal (ada alasan lain: mazhab ekonomi).

LAYANAN PUBLIK DAN MAZHAB EKONOMI

 - Beberapa layanan publik diprivatisasi, dijual kepada investor, menghilangkan peran/kewajiban negara kepada rakyatnya.

- Bahkan perusahaan negara, termasuk badan negara, kini berlaku seperti perusahaan swasta.
- Mengakhiri layanan publik dan membuatnya menjadi layanan swasta/privat.
- Meniru paham liberal Reagan dan Thatcher, yang mulai swastanisasi rumah sakit dan penjara.
- Tentara Amerika yang berperang di Irak dan Afganistan adalah tentara swasta
(Blackwater).

 SALAH KAPRAH LAYANAN PUBLIK

- WC Umum yang tidak umum
 - Pak Ogah, kemana polisi?
- Taman dan pantai publik, bukan swasta (seperti Ancol)
- Air bersih/minum dijual
- KRL ekonomi untuk orang miskin
 - Pertamina: subsidi hanya untuk orang miskin

 DAMPAK SWASTANISASI

 - Cenderung orang kaya yang menikmati. Kesenjangan sosial.
- Sentralisasi/urbanisasi.
- Kualitas layanan turun karena motif keuntungan dan efisiensi.

MENEGUHKAN PERAN PEMERINTAH

- Pemerintah memang korup dan layanan publik buruk. Tapi solusinya bukan swastanisasi.
 - Solusinya adalah menciptakan pemerintah yang baik dan kuat, melalui instrumen demokrasi.
 - Demokrasi hanya bagus jika publik berpartisipasi, bukan apati.
 - Publik berpartisipasi hanya mereka paham dan tahu masalah serta kritis (informed citizenry).
 - Media berkewajiban membantu masyarakat memahami persoalan.

 MENYAJIKAN LIPUTAN LAYANAN PUBLIK

- Memahami pengertian layanan publik (selama ini banyak salah kaprah)
 - Membuat liputan layanan publik menjadi menarik.
 - Salah satu elemen jurnalisme: wartawan wajib membuat isu yang penting (seperti
layanan publik) menjadi menarik.
 - Teknik menulis dan penyajian. Perlunya peningkatan ketrampilan teknis.
 - Menggali angle menarik, dari sudut pandang pembaca. Jangan cuma bersandar pada pidato pejabat dan siaran pers. (---END----)

E....e.....KTP

Waktu belum pukul delapan pagi. Saya sudah berada di kantor Kelurahan Kebon Melati
Tanah Abang Jakarta Pusat. Sekitar enam orang berada di selasar kantor kelurahan,
tepatnya di depan sebuah pintu yang bertuliskan "tempat antri e-KTP".

Saya menerobos masuk pintu, maklum masih sepi dan terbuka. Seseorang tampak
menulis sesuatu dalam sebuah kertas, tampaknya sebuah daftar nama. Saya langsung
menyerahkan surat undangan kelurahan untuk membuat e-KTP. Memang sudah lewat
undangan itu tertanggal 28 Oktober 2011. Cuma saat saya konfirmasi kepada kakak saya
katanya,"bisa lain waktu, lagi pula daftar dulu."

"Saya mau, daftar pak,"kataku mantap sambil menyodorkan kertas itu.
"Wah, gak bisa, ini sudah 350 orang yang terdaftar,"kata pegawai itu acuh.
"Lo, di luar cuma enam orang kok,"kata saya.

Di belakang pegawai itu, ada sebuah ruangan, tampaknya itu tempat mesin pembuat e-
KTP. Masih terbungkus plastik. Di dalamnya dua orang perempuan sedang makan dan
mengobrol, tertawa-tawa.

Seseorang, berpakaian gamis, masuk mendampingiku, mau mendaftarkan isterinya.
"Sabtu aja bib, nanti Jumat ana ke rumah, mendaftarkan keluarga antum yang mau bikin
e-KTP,"katanya. Dia menoleh sebentar lalu menulis lagi, yang memang ternyata itu daftar
nama-nama yang mau bikin e-KTP (alias KTP elektronik).

Saat saya berlalu pukul delapan lewat lima menit, suasana belum berubah. Belum ada
pekerjaan e-KTP dimulai. Dua perempuan di dalam ruangan, masih tetap tertawa-tawa
sambil makan nasi kotak. Lelaki tadi masih asyik menulis nama-nama, dan di luar orang menunggu di bangku panjang.

Nyata memang E-KTP bukanlah pelayanan masyarakat yang sesungguhnya masih sebatas
proyek pemerintah. Entah siapa saja yang diuntungkan. Warga DKI Jakarta diancam
paling lambat akhir 2011 ini sudah rampung. Kalau dilihat cara kerjanya, saya tak yakin. Minimal orang yang pernah datang kesana jadi males balik lagi. Apalagi, kayak saya KTP
baru habis tahun 2013. Birokrasi apa lagi yang bakal saya hadapi jika saya tak segera
mengganti menjadi e-KTP?

Saya yakin pasti akan dibuat oleh pejabat pemerintah untuk menekan rakyatnya, agar
berbondong-bongdong bikin e-KTP walau para pelayan rakyat itu belum siap. Tentu  agar
bisa berenang atas nama keberhasilan dan proyek yang menguntungkan.

Seorang tukang ojek langganan saya, yang juga tetangga, lalu menyebut nama seorang anggota Dewan (DPD). "Ah, dia dateng jam 10, sodorkan surat langsung diproses, cepet
kok,"katanya. "Memang disini tetap ya, masih memandang jabatan orang, bukan melayani
rakyat." Pinter juga lu Jek!
(9 Nov 2011)

Harapan Baru Pengobatan Malaria



Ilmuwan Australia Geoff McFadden menjelaskan di Jakarta pada Rabu tentang bagaimana malaria dapat disembuhkan dengan menggunakan obat-obatan dan herbisida baru yang digunakan untuk membunuh tanaman.

Berbicara di Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Profesor McFadden berujar penelitian
nya menunjukkan parasit malaria pada awalnya seperti organisme tumbuhan yang hidup dengan fotosintesis.

"Kami menemukan jejak-jejak genetis utama yang mirip metabolisme tanaman pada 
parasit malaria. Ini memberi tahu kita bahwa parasit tersebut berpindah dari 
kehidupannya di samudera sebagai tanaman uniselular ke gaya hidup parasit baru di 
darah manusia."

"Dan yang penting, penemuan ini memberi kita cara baru untuk memerangi penyakit ini dengan menggunakan obat-obatan dan herbisida yang pada awalnya dirancang untuk membunuh tanaman."

"Kami telah menemukan bahwa senyawa herbisida ini, beberapa diantaranya tidak
beracun bagi manusia, juga memerangi malaria," tutur Profesor McFadden.

Kunjungan Profesor McFadden diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia dan Kedutaan Besar Australia sebagai bagian dari seri seminar yang tengah berlangsung dan dimaksudkan untuk meningkatkan pertukaran dan jaringan  ilmuwan antara Indonesia dan Australia.

Wakil Duta Besar Australia, Paul Robilliard, berujar penelitian Profesor McFadden's memperlihatkan keunggulan penelitian ilmiah dan medis Australia.

"Kami bangga menghadirkan Profesor McFadden ke Indonesia, botaniawan internasional. Penelitiannya memberi harapan untuk membasmi malaria, penyakit yang mengakibatkan kerugian besar karena penderitaan dan kematian di banyak kawasan tropis," tutur
Robilliard.

Malaria adalah masalah besar kesehatan global. Organisasi Kesehatan Dunia 
memperkirakan 500 juta orang terjangkit dan 1 juta diantaranya tewas setiap tahunnya.
Pada saat ini tidak ada vaksin dan parasit ini kini kebal terhadap hampir semua obat-
obatan yang ada.

Namun malaria dapat disembuhkan bila terdiagnosa dengan segera dan diobati dengan memadai.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, di Indonesia malaria terkonsentrasi di Papua, 
Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera. (Humas Pers Kedubes Australia)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...