Senin, 17 Januari 2011
Sawahlunto : Menghidupkan Kembali Belanda Kecil
Transformasi terbesar kota ini adalah perubahan dari kota mati menjadi hidup. Bekas-bekas tambang yang suram menjadi museum yang bercerita.
“Kota ini aman, tak ada pencurian mobil atau motor,” ujar Dahmar Sutan Putih, 72 tahun. Warga Bukittinggi itu hijrah sepuluh tahun lalu ke bekas kota tambang batu bara, mengikuti anaknya yang menjadi dokter di rumah sakit daerah itu. Saat ditemui Tempo, ia sedang “mengangon” empat cucunya, menikmati sate daging sapi tipis Wak Empit dalam acara perayaan ulang tahun ke-122 Sawahlunto di pusat kota, awal Desember lalu.
Dahmar bertutur, ketika ia baru pindah, pernah ada pancilok, tapi pelakunya dikejar massa. Pencuri sial itu tertangkap, bukan diserahkan ke polisi, massa malah menghukum sendiri dengan cara menyeretnya dengan mobil hingga tewas. “Mungkin pencuri lain jera, mikir-mikir berani mencuri di Sawahlunto ini,” kata Dahmar dengan aksen Bukittinggi kental. Seram ya?
Memang banyak cerita seram di Sawahlunto. Maklum, kota tersebut dihidupkan dari orang rante, narapidana yang dirantai kaki dan tangannya, dari berbagai pelosok Nusantara, sebagai penggali tambang batu bara. Ada kisah tentang pekerja tambang yang sakit dibuang begitu saja di sudut-sudut kota. Tak mengherankan jika di pusat kota yang dikelilingi bukit itu banyak didengar cerita tentang hantu bergentayangan.
Tapi cerita seram tidak membuat takut banyak orang. Nyatanya, kota itu hidup hingga larut malam. Tak sulit mencari makanan sampai tengah malam, mulai dari pecel lele Lamongan, jagung bakar, sampai martabak Mesir kubang. Memang, dulu kota itu mati. Namun, sejak kota dipimpin Amran Nur, pada awal 2000-an Sawahlunto mulai hidup. “Dulu ini kota mati setelah ditinggal pekerja tambang,” kata Willy Zon, penduduk kota berusia 56 tahun.
Awal kota ini bermula saat ditemukan cadangan tambang batu bara oleh William Hendrik de Greve, insinyur pertambangan asal Belanda. Pada 1 Desember 1888 pemerintah Hindia Belanda mulai menanam investasi 5,5 juta gulden untuk membangun infrastruktur dan fasilitas penunjang bisnis pertambangan itu, mulai dari pemukiman, dapur umum, sampai jalur kereta api. Kota itu berkembang menjadi kota pertambangan batu bara, pekerjanya kebanyakan narapidana yang didatangkan dari pelbagai daerah, termasuk Singapura dan Malaysia, yang dikenal sebagai orang rante.
Pada 1930, produksi batu bara memberikan keuntungan 4,6 juta gulden setahun. Walaupun luas kota cuma 778 hektare, penduduknya mencapai 43.576 jiwa, dengan lebih dari 500 orang Belanda. Setelah Indonesia merdeka, tambang Ombilin diambil pemerintah. Wilayahnya diperluas menjadi 27 ribu hektare lebih. Namun eksploitasi berlebih membuat tambang tak lagi bisa diproduksi massal sejak 2000. Tambang negara pun dilikuidasi PT Bukit Asam, Sumatera Selatan. Para pekerja meninggalkan Sawahlunto. Kota pun semakin ditinggalkan penduduknya, karena tak ada lagi yang bisa diandalkan sebagai sumber penghidupan. Kota “sawah” yang dialiri Sungai Batang Lunto itu pun bak kota mati.
Amran Nur, insinyur asal Institut Teknologi Bandung, yang malang-melintang di berbagai bisnis di Jakarta, pulang kampung. Terpilih menjadi wali kota pada 2003, ia sempat bingung tak tahu harus berbuat apa untuk Sawahlunto. Setelah berdiskusi dengan banyak kawan dan pakar, akhirnya lelaki kelahiran Desa Talawi, 13 Oktober 1945 itu memulainya dengan menghidupkan kota dari bekas-bekas tambang. “Rongsokan” diubah menjadi museum. Lubang Mbah Suro, Museum Gudang Ransoem, bangunan-bangunan tua di pusat kota, silo, belakangan dia juga menghidupkan kembali kereta Mak Itam sebagai kereta wisata, plus membuat museum kereta api di stasiun. Sawahlunto diubah menjadi museum hidup. “Kota ini sempat membiayai Negeri Belanda, tak salah kalau kami menyebut kota ini sebagai Belanda Kecil,” katanya.
Perekonomian mulai bangkit dengan pariwisata museum yang dibangun Amran. Agar wisatawan lebih lama tinggal dan menghabiskan uangnya untuk Sawahlunto, Wali Kota juga mengembangkan waterboom di Muaro Klaban, taman safari, pacuan kuda, dan arena motocross di kawasan Kandi. Masyarakat pun diikutsertakan dalam membangun kota.
Cara Amran memimpin kota dikhawatirkan tidak diikuti aparat birokrasi lain. Namun Amran sudah berjaga-jaga. “Saya datangi warga langsung,” katanya. Dengan harapan, jika terjadi penyelewengan, warga yang akan menuntut pemimpin kota sesudah Amran, yang dua tahun lagi usai. Karena dia sudah dua kali terpilih.
Warga mulai tampak antusias memberi perhatian pada kotanya. Pada Sabtu awal Desember lalu, di kantor Dinas Pariwisata, Tempo mengikuti pertemuan antara kelompok masyarakat dan kantor Dinas Pemerintah Daerah. Mereka--dibagi dalam dua kelompok amatan, yaitu Pasar Remaja dan Museum--berencana membuat peta hijau Sawahlunto. Dengan berjalan kaki, mereka menyusuri kota berbekal peta perencanaan yang sudah mereka buat. Dibantu ahli lanskap kota dari Universitas Trisakti, Jakarta, Nirwono Joga, budayawan Eka Budianta, dan guru besar lain, mereka turun ke jalan.
Pasar Remaja sebagai jantung ekonomi bisa disusuri hanya dalam 10 menit berjalan kaki. Kawasan itu diapit dua jalan, Kompleks Puskesmas dan Imam Bonjol, selain jalur tengah, Jalan Ahmad Yani. Mulai dari ujung berdiri bangunan besar tradisional Sumatera Barat, bagonjong, kantor Bank Nagari, pedagang buah, sandal, dan barang kelontong berada di sekitarnya. Hanya berbatas tiga rumah, ada Perpustakaan Adinegoro. “Buat sebuah kota kecil, adanya perpustakaan sebuah kejutan,” kata Nurdin Koto, yang beberapa kali mengunjungi kota itu.
Sesudah itu di dua jalan sisi berderet sejumlah rumah toko, ada rumah makan, bengkel motor, dan warung kebutuhan sehari-hari. Muncul gedung dengan arsitektur pecinan buatan 1917 yang kini dimanfaatkan sebagai gedung Pegadaian. Bangunan itu dulu pernah digunakan sebagai gedung pertunjukan seni dan komedi. Lalu, hanya tiga menit berjalan kaki, ketemu bangunan berarsitektur Cina lainnya, Rumah Pek Sin Kek, yang dibangun pada 1906, pernah berfungsi sebagai gedung teater, tempat perhimpunan masyarakat Melayu dan pabrik es. Pada 2005-2006 gedung ini direvitalisasi dan dijadikan warisan kekayaan kota.
Hanya sepelemparan batu dari Rumah Pek Sin Kek, sampai di Gedung Pusat Kebudayaan, Societeit, dulu disebut Gluck Auf, yang dibangun pada 1910. Dulunya gedung itu tempat bermain bowling dan biliar para pejabat Belanda. Di seberangnya bangunan tua lainnya dijadikan Hotel Ombilin, satu-satunya hotel besar di kota itu. Masih dalam segitiga kawasan itu, ada bangunan tua bergaya Belanda buatan 1916 yang kini menjadi kantor PT Bukit Asam Unit Pertambangan Ombilin. Di sekitar itu tertata beberapa kursi besi. Tampak anak SD duduk santai melepas lelah berangin-angin.
Buat menghijaukan kota, Wali Kota membagikan gratis pohon kakao. Di sepanjang jalan dalam kota, pohon-pohon itu sudah berbuah menguning. “Tidak hanya menghijaukan, tapi juga meningkatkan ekonomi masyarakat,” kata Wali Kota Amran. Mak Inah, 55 tahun, pemilik warung dekat kuburan Belanda, mengakui manfaat kakao. “Saya dapat tambahan modal dari hasil jualan kakao pembagian itu,” katanya.
Kreativitas menghidupkan kota tak berhenti. Sementara di Den Haag, Belanda, ada North Sea Jazz, mulai tahun ini, setiap awal Desember, Amran memprakarsai Sawahlunto International Music Festival. Untuk yang pertama, Desember lalu, tampil pemusik dari Afrika, Mongolia, Jerman, Singapura, Malaysia, Jakarta, dan sejumlah seniman lokal Sumatera Barat. “Sesuai dengan visi kota, Sawahlunto kota wisata tambang yang berbudaya,” ujar Amran berpromosi. Tak ada lagi cerita maling atau hantu, yang ada keramaian dan keramahan.
Ahmad Taufik
Sawahlunto, Sumatera Barat
Luas: 273,45 kilometer persegi
Penduduk: 58.310 jiwa
Kepadatan: 199 jiwa per kilometer persegi
Memiliki 4 kecamatan, 10 kelurahan, dan 27 desa
Hari jadi: 1 Desember 1888
Wali Kota: Amran Nur
---diambil dari Majalah TEMPO 3-10 Januari 2011
Balikpapan : Tidak untuk Batu Bara
Kebijakan yang paling spektakuler adalah penghentian izin pertambangan batu bara selama 20 tahun. Hutan kota menjadi tetenger.
Mau hidup bersama orangutan, beruang madu, macan dahan, bekantan, lutung dahi putih, lutung dahi merah, dan rusa? Tinggallah di Balikpapan. Di tengah kota itu terdapat hutan lindung Sungai Wain seluas 10 ribu hektare yang terjaga keasriannya. Hutan kota ini menjadi habitat satwa asli Kalimantan tersebut. Lebih dari separuh Kota Balikpapan yang luasnya mencapai 530 ribu hektare diperuntukkan bagi pengembangan kawasan hijau serta ruang publik.
Komitmen Wali Kota Balikpapan Imdaad Hamid diucapkan ratusan kali di depan publik dalam berbagai kesempatan. “Kami tidak akan memberikan izin pertambangan batu bara,” katanya. Komitmen itu bukan hanya hiasan di bibir. Ketika hampir semua kota dan kabupaten di Kalimantan Timur berlomba menerbitkan izin kuasa pertambangan batu bara untuk menambah pemasukan kas daerah, Balikpapan ogah.
Untuk mengamankan kebijakannya itu, pemerintah daerah dalam revisi rencana tata ruang wilayah memasukkan klausul tak ada tambang batu bara sampai 20 tahun ke depan. “Kami mendukung dengan peraturan daerah. Kita tak perlu takut tak punya tambang,” kata Wakil Ketua DPRD Balikpapan, Syukri Wahid. Pemerhati lingkungan Kalimantan Timur, Niel Makinuddin, memuji langkah berani Imdaad, yang tak bersikap aji mumpung mengeruk keuntungan dalam masa jabatannya. “Kuncinya memang ada di kepala daerah. Komitmennya menolak tambang batu bara itu luar biasa dan patut diapresiasi,” katanya.
Semua orang sudah tahu kengerian yang harus ditanggung warga jika pemerintah daerahnya mengeksploitasi potensi batu bara: lubang galian raksasa, kerusakan lingkungan yang ekstrem, hingga udara berdebu nan panas. Apalagi struktur tanahnya berpasir serta topografinya berbukit. “Bahaya bencana alam di Balikpapan adalah tanah longsor,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Balikpapan, Suryanto.
Untuk pemasukan kota, Wali Kota Imdaad tetap percaya diri mengandalkan sektor jasa serta perdagangan. Bahkan pertumbuhan ekonominya berada di atas rata-rata kota atau kabupaten lain di Kalimantan Timur, lima persen setiap tahunnya. Minyak dan gas menjadi motor penggerak berbagai sektor perekonomian di Balikpapan dan sekitarnya.
Selain itu, yang menjadikan kota berpenduduk 600 ribu itu sebagai kota nyaman huni (livable) adalah karakter masyarakat multietnis ditambah banyaknya kaum pekerja di sejumlah perusahaan swasta dan asing. “Tidak ada suku atau kelompok yang dominan di Balikpapan. Semua sama. Itulah yang membuat karakter masyarakat Balikpapan cenderung toleran,” ujar juru bicara pemerintah Balikpapan, Aji Sofyan.
Bagus Purwa, warga Kampung Manggar, Balikpapan, sepakat dengan pernyataan Aji. Namun dia berharap ruang publik berupa taman lebih dihijaukan. "Masih kurang penghijauannya seperti kota-kota di Jawa. Kalau lebih banyak pohon tentu menyenangkan,” katanya.
Masyarakat Balikpapan, manakala musim liburan, banyak berkumpul memanfaatkan tiga tempat yang biasa dijadikan destinasi: Taman Bekapai, Lapangan Sudirman, dan Melawai II. “Seandainya tiga lokasi ini sejuknya seperti hutan lindung Sungai Wain, tentu aktivitas keluarga tambah nyaman,” ujar ayah berputra dua itu.
Ahmad Taufik, Sri Gunawan Wibisono (Balikpapan)
Balikpapan
Luas wilayah: 503,3 kilometer persegi
Penduduk: 559.126 jiwa (2010)
Kepadatan: 1.110 jiwa per kilometer persegi
Memiliki 5 kecamatan, dan 27 kelurahan/desa
Hari jadi: 10 Februari
Wali Kota: Imdaad Hamid
Fauna resmi: Beruang madu
---dari Majalah TEMPO 3 - 10 januari 2011--
Tarakan : Hutan Bakau Penjaga Pulau
Berkembang dari kota penghasil minyak menjadi kota jasa. Kuncinya membangun infrastruktur, menjaga alam, dan menerangi kota.
Kawasan hutan bakau membentang seluas 22 hektare, menyebarkan kesejukan ke berbagai penjuru. Tak sekadar tumbuhan mangrove yang hidup di sana, suara monyet berhidung mancung, bekantan, bersahut-sahutan dengan suara siulan burung. Suasana tersebut bukan di suaka margasatwa yang jauh dari keramaian manusia. “Daerah itu andalan kota pulau semacam Tarakan,” kata Gani Abdullah, 72 tahun.
Bagi warga Sebengkok yang lahir di Tarakan itu, hutan dengan 11 vegetasi mangrove tersebut menyelamatkan tanah dari gerusan air laut serta air bawaan banjir dari daratan. Oleh pemerintah kota, hutan bakau tidak dianggap sebagai kawasan yang tidak bernilai ekonomi sehingga harus ditebang, diuruk, dan diubah menjadi kawasan bisnis. “Karena hutan mangrove ini, Tarakan berkarakter. Karena itu menjadi penanda kota,” ujarnya.
Haji Gani, begitu pria ini dipanggil, mengaku perubahan mencolok terjadi saat dokter Jusuf Serang Kasim menjabat wali kota. Tak mengherankan jika wali kota pilihan Tempo 2008 ini menjabat dua periode, sejak 1999 sampai 2009. “Kota terasa sejuk, bersih, ekonomi bergerak, dan terang,” kata bekas pengusaha pengangkut sampah Tarakan itu. Memang, Tarakan mendapat kepercayaan diri sejak berubah menjadi kota madya, karena menjadi daerah otonomi. “Pemerintah daerah lebih bebas menggunakan hasil pendapatan daerahnya,” tutur Gani.
Terang. Kota itu memang jadi hidup dengan lampu yang menyorot di mana-mana. Warga pun merasa aman. Apalagi pemerintah daerah merencanakan kota pulau itu menjadi Singapura mini di Kalimantan Utara. Cita-cita itu bukan sekadar omong kosong. Selama periode 2000-2010, ekonomi Tarakan tumbuh 11 persen. “Bidang infrastruktur benar-benar dibangun, sehingga roda ekonomi bergerak lebih cepat,” ujar Maxi Millianus, 35 tahun, pengusaha jasa pariwisata asal Tulungagung, Jawa Timur.
Saluran air dibangun, jalan diaspal hot mix sampai ke kampung-kampung, sekolah, rumah sakit, dan pasar didirikan. Yang paling berubah, menurut Gani, adalah Bandar Udara Juwata. Landas pacu diperpanjang dan kualitasnya ditingkatkan, sehingga bisa didarati pesawat jenis Boeing dan Airbus yang berkapasitas hingga 300 penumpang.
Selain hutan bakau yang lestari dan menjadi destinasi, ruang terbuka yang juga menjadi tetenger kota adalah Pantai Amal. Pantai landai dengan air laut biru turquoise. Agar bibir pantai tak digerus ombak Laut Sulawesi, pemerintah daerah telah melakukan reklamasi sepanjang 2,7 kilometer.
Laut memang dimuliakan dan menjadi sumber kehidupan. Tarakan, menurut cerita rakyat, berasal dari bahasa Tidung tarak, yang maknanya bertemu, dan ngakan berarti makan. Kawasan tersebut dulu merupakan tempat nelayan istirahat makan dan jual-beli hasil tangkapan. Tak mengherankan jika perputaran roda ekonomi itu menarik banyak orang dari luar pulau itu.
Lalu Tarakan berkembang menjadi kota penghasil minyak ketika perusahaan minyak Belanda Bataavishe Petroleum Maatchapij masuk pada 1896. Bahkan, tatkala Jepang merebut Tarakan pada awal 1944, perusahaan itu masih bisa menghasilkan minyak 350 ribu barel tiap bulan. Baik pemerintah Belanda maupun Jepang mendatangkan pekerja minyak dari Jawa.
Kini kota pulau itu bisa dikatakan nyaman huni. Semua yang telah dibangun Wali Kota Jusuf Kasim kini diteruskan wali kota baru, Udin Hianggio. “Semoga wali kota yang baru bisa menjaga dan membuat Tarakan tambah lebih nyaman dan maju,” ujar Gani berharap.
Ahmad Taufik
Statistik
Tarakan, Kalimantan Timur
Luas: 657,33 kilometer persegi
Penduduk: 193.069 jiwa
Kepadatan: 293 jiwa per kilometer persegi
Memiliki 4 kecamatan dan 20 kelurahan/desa
Hari jadi: 15 Desember
Wali Kota: Udin Hianggio
***-/**
dari Majalah TEMPO 3-10 Januari 2011
Tinggalkan Kota Besar
Mengapa Tempo memilih tema Kota-kota Kecil Nyaman-Huni untuk Tokoh Arsitektur 2010?
Bermula dari makin bertumpuknya persoalan di Ibu Kota Jakarta. Sepanjang 2010, praktis tak ada kabar baik tentang Jakarta. Kemacetan semakin kronis, yang pada akhirnya membuat pemerintah pusat mengambil alih upaya mengatasinya. Wakil Presiden Boediono pun membentuk tim khusus.
Banjir. Cerita lama yang makin membebat Jakarta karena dampaknya yang makin kompleks--ditambah faktor perubahan iklim yang mengacaukan musim. Banjir juga mengakibatkan kemacetan kian tak terurai. Orang marah dan frustrasi karena harus menghabiskan waktu dan energi di jalan.
Jakarta seperti masalah yang tanpa penyelesaian. Hingga muncul wacana pemindahan ibu kota ke luar Jakarta. Berbagai ahli mengajukan usul. Bahkan seminar dan diskusi berlangsung dalam berbagai tataran: lokal hingga nasional.
Yang lebih parah, ibu kota negara seluas 740,28 kilometer persegi, dengan jumlah penduduk sekitar 9,5 juta jiwa, serta intensitas kepadatan 14.464 per kilometer persegi itu berjalan tanpa arah. Rencana Tata Ruang dan Wilayah 2010-2030 hingga akhir 2010 masih berupa draf, belum disetujui sebagai produk hukum yang mengikat.
Daripada terus menggerutu dan mengkritik, toh Jakarta tidak juga berubah menjadi baik, lebih baik mencari alternatif. Inilah yang menjadi bahan diskusi kami dengan tim juri pemilihan Tokoh Arsitektur Tempo 2010, yaitu arsitek pengurus Ikatan Arsitek Indonesia, Bambang Eryudhawan; ahli lanskap dari Universitas Trisakti, Nirwono Yoga; dan arsitek yang seniman, Yori Antar. Akhirnya, kita sepakat mengusung tema Kota-kota Kecil Nyaman-Huni.
Pilihan itu bukannya tanpa landasan pertimbangan kehangatan.
Pertama, tema besar Hari Tata Ruang Kota Sedunia adalah smart green city planning, kota hijau yang cerdas. Ini sekaligus menjadi alasan kita “menghindari” kota besar, seperti ibu kota negara atau provinsi. Sebab, di Indonesia tidak akan ada contoh kota besar yang masuk kategori terencana dengan cerdas. Kalaupun ada, mungkin hanya satu atau dua.
Kedua, mempertimbangkan kehadiran korupsi. Kota nyaman-huni (livable) tidak mungkin atau sangat sulit terwujud bila pemangkunya korup. Sulit menemukan kota besar yang bersih dari korupsi. Untuk itu, kami menengok hasil survei indeks persepsi korupsi Transparency International Indonesia terhadap 50 kota di Indonesia. Kota yang masuk urutan 1-25 kota terkorupsi dicoret.
Nirwono Yoga, yang banyak menjadi juri dalam lomba perencanaan kota, memperkuat alasan kedua dengan tiga ukuran untuk memilih kota: segi ekologi, ekonomi, dan sosial. “Ini entry point. Yang kita pilih kota-kota bersih dalam arti bersih dalam penyelenggaraan pemerintahan, bersih kotanya, dan roda perekonomiannya berjalan,” katanya.
Ketiga, seperti yang ditulis dalam kolom “Berpaling ke Kota Nyaman-Huni” oleh Eko Budihardjo, guru besar arsitektur dan perkotaan Universitas Diponegoro, Semarang. Tren dunia kini bukan lagi membahas kota-kota besar seperti New York dan Los Angeles, karena di tempat-tempat seperti itu sudah terlalu banyak keburukan yang menurunkan kualitas hidup manusia. Tata kota dunia sedang berfokus pada kota-kota kecil nyaman-huni, karena selain lebih ditata secara manusiawi dan demokratis, bisa menjadi alternatif orang untuk tinggal dan hidup sejahtera.
Setelah sepakat dengan tema, yang ditentukan berikutnya adalah zonasi, karena tidak mungkin membandingkan ukuran Jawa dengan kota di luar Jawa. Maka dibagilah menjadi barat, tengah, dan timur. Akhirnya terpilih kota-kota kecil yang dipimpin oleh wali kota di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.
Masing-masing kota pilihan punya ciri khas dan kekuatan. Dari semua pilihan berdasarkan debat, amatan, reportase, dan wawancara berbagai sumber, tersaringlah delapan kota: Sawahlunto di Sumatera Barat, Tegal dan Surakarta di Jawa Tengah, Blitar di Jawa Timur, Banjarbaru di Kalimantan Selatan, Balikpapan dan Tarakan di Kalimantan Timur, serta Bau-Bau di Sulawesi Tenggara.
Penghargaan Tokoh Arsitektur kali ini kami berikan kepada para pemangku daerah, yaitu wali kota dan timnya, yang berhasil menjadikan kota mereka nyaman-huni.
---dari Majalah TEMPO 3-10 Januari 2011--diubah judulnya he...he
Tipe Baru Virus Kanker Serviks
Pembunuh nomor satu di dunia kini adalah kanker serviks (mulut rahim). Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), 630 juta perempuan terjangkit penyakit ini. Setiap hari kanker serviks merenggut nyawa 600 wanita di dunia, dan menurut data Yayasan Kanker Indonesia, 20 perempuan Indonesia tewas tiap hari. Kanker ini menyerang 50 persen usia 35-55 tahun dan separuhnya di bawah 35 tahun. Setiap hari di Indonesia, menurut Yayasan Kanker, 41 wanita terdeteksi terkena kanker serviks. Negeri ini, menurut WHO, termasuk negara dengan insiden kanker serviks tertinggi di dunia, dengan peluang 66 persen meninggal.
Kanker ini memang bisa disembuhkan dan dideteksi sejak dini. Namun baru ada dua jenis vaksin yang bisa membunuh dua tipe pemicu human papillomavirus (HPV), penyebab kanker serviks. Padahal, dalam penelitian terbaru dari Catalan Institute of Oncology di Barcelona, Spanyol, diidentifikasi delapan tipe penyebab lebih dari 90 persen kanker serviks di dunia.
Penelitian yang dipimpin Silvia de Sanjose--dipublikasikan di Lancet Medical Journal awal Januari 2011--itu mempelajari 10 ribu lebih kasus kanker serviks di 38 negara, menemukan tipe-tipe HPV: tipe 16, 18, 45, 33, 31, 52, 58, dan 35. Selama ini baru ada dua vaksin yang diproduksi GlaxoSmithKline (GSK) dan Merck & Co yang melindungi perempuan dari HPV tipe 16 dan 18. Selain itu, melalui pemeriksaan silang kedua vaksin ini dapat melindungi wanita dari HPV tipe 31 dan 45, meski tidak menyeluruh.
Banyak negara maju mewajibkan imunisasi HPV bagi anak perempuan sebelum menjadi pelaku seks aktif. Namun vaksin ini masih terlalu mahal bagi penduduk di negara berkembang, padahal 80 persen kasus kanker serviks terjadi di negara tersebut.
Penyakit ini, menurut penelitian Sanjose, terjadi akibat hubungan seksual berisiko tinggi. Terjadi penularan 118 tipe HPV yang sudah ditemukan, 40 tipe menginfeksi di sistem genital (alat kelamin), dan 12 tipe menyebabkan kanker, delapan di antaranya yang menjadi penyebab 90 persen pemicu kanker serviks.
Gejala seseorang terinfeksi HPV memang cenderung tidak terlihat. Cara paling mudah mendeteksinya adalah dengan pemeriksaan sitologis leher rahim. Pemeriksaan tersebut yang saat ini populer dengan nama Papanicolaou smear, terkenal dengan istilah Pap smear. Dokter menggunakan pengerik atau sikat untuk mengambil sedikit contoh sel-sel serviks atau leher rahim, yang dianalisis di laboratorium.
Ada juga berbagai metode deteksi dini infeksi HPV dan kanker serviks, yaitu IVA: inspeksi visual dengan asam asetat, dengan mengoles leher rahim dengan asam asetat. Lalu diamati apakah ada kelainan, seperti area berwarna putih. Jika tidak ada perubahan warna, dapat dianggap tidak ada infeksi pada serviks. Cara ini dapat dilakukan di puskesmas dengan harga relatif murah.
Metode lain yang lebih akurat bernama Thin prep, yaitu memeriksa seluruh bagian serviks. Jika semua hasil tes pada metode sebelumnya menunjukkan adanya infeksi atau kejanggalan, prosedur lanjutan yang harus dilalui adalah kolposkopi, dengan alat yang dilengkapi lensa pembesar untuk mengamati bagian yang terinfeksi. Tujuannya untuk menentukan apakah ada lesi atau jaringan yang tidak normal pada leher rahim. Jika ada yang tak normal, diambil tindakan biopsi--pengambilan sejumlah kecil jaringan dari tubuh--lalu pengobatan kanker serviks segera dimulai.
Menurut ahli kanker dan pembuluh darah Rumah Sakit Dharmais, Jakarta, dokter Noorwati Sutandyo, untuk mencegahnya, dengan mengurangi risikonya, yaitu pola hidup sehat dan asupan yang baik. “Mengkonsumsi makanan bergizi, membuat daya tahan tubuh meningkat, dan dapat mengusir HPV,” katanya. Kebiasaan merokok, perempuan yang aktif berhubungan seks sejak usia dini, dan sering berganti pasangan atau berhubungan dengan pria yang suka berganti pasangan merupakan faktor risiko terkena kanker serviks. Kurang asupan yang mengandung vitamin C, E, dan asam folat juga bisa memperlemah daya tahan tubuh terhadap virus tersebut.
Ahmad Taufik
Info Kesehatan Majalah TEMPO 11-16 Januari 2011
Bukan Cedera Biasa
Penanganan atlet yang mengalami kecelakaan selama bertanding dan berlatih berbeda dengan orang biasa, karena ada target prestasi. Di sini masih kurang diperhatikan.
------
Firman Utina mendapat kesempatan istimewa. Dia berhak melakukan “eksekusi” dengan tendangan penalti di depan gawang kesebelasan Malaysia yang dijaga Khairul Fahmi Che Mat. Hup! Bola malah bersarang di dalam dekapan sang kiper. “Ini kesalahan saya,” kata kapten tim nasional kesebelasan Indonesia dalam pertandingan final AFF Suzuki 2010 itu, di kandang lawan, Stadion Bukit Jalil, Malaysia, 26 Desember 2010.
Hasil akhir serentetan pertandingan yang dramatis itu, kita sama-sama sudah tahu. Namun tidak banyak yang tahu mengapa tendangan Firman tak digdaya saat penalti. Salah satu faktornya adalah cedera yang menimpa pemain asal Gorontalo itu.
Cedera lutut Firman pertama terjadi saat sesi latihan di Lapangan C, Senayan, Jakarta, Sabtu, 11 Desember, menjelang laga leg pertama semifinal melawan kesebelasan Filipina, 16 Desember 2010. Setahun sebelumnya, saat memperkuat Pelita Jaya melawan Persela Lamongan pada pertandingan perdana Liga Super Indonesia, Firman cedera parah pada engkel kaki kanan.
Memang pelatih tim nasional Alfred Riedl menambah porsi latihan untuk pertandingan semifinal. Nah, dalam sesi latihan itulah Firman cedera lutut. Ia terlihat terpincang-pincang setelah melepaskan tendangan keras ke arah gawang. Firman mengakhiri latihannya lebih cepat. Di pinggir lapangan, gelandang yang telah mencetak dua gol di ajang Piala AFF tersebut kerap terlihat memegang lutut sebelah kanan yang sudah dikompres. "Saat saya tanya ke Firman, dia bilang enggak apa-apa," kata asisten pelatih Widodo Cahyono Putro.
Lutut kanan Firman kembali cedera saat tampil di laga semifinal penentuan atau leg kedua melawan Filipina pada 19 Desember. "Setelah pertandingan, langsung terasa sakitnya," kata Firman. Dia mendapatkan delapan suntikan dari dokter tim, sebelum turun untuk meredam sakit pada lututnya itu. "Mau tidak mau saya disuntik dulu biar tetap bisa main," ujarnya.
Selain itu, lutut pemain dengan posisi sebagai pemain tengah tersebut menderita cedera selangkangan. Menurut fisioterapis tim Mathias Ibo, ada tiga proses terapi yang dijalani Firman: terapi laser, pergerakan persendian, dan ruang oksigen. Terapi oksigen, menurut Ibo, berguna mempercepat penyembuhan. Dalam terapi tersebut, pemain yang cedera diberi oksigen dua kali lipat dibanding kebutuhan rata-rata. Ada empat pemain lain yang cedera dengan posisi dan kondisi berbeda-beda, yaitu Muhammad Nasuha, Irfan Bachdim, Eka Ramdani, dan Oktovianus Maniani. Tapi Firman paling parah.
Menurut ahli kedokteran olahraga Michael Trianto, olahraga dan cedera bagai sahabat karib, sulit dipisahkan. Cedera yang paling banyak terjadi biasanya akibat penggunaan berlebihan pada tulang, otot, dan jaringan lainnya. Bagian tubuh yang pernah cedera biasanya juga akan lebih mudah mengalami cedera ulangan. "Kulit saja, jika sudah luka, bekasnya tidak hilang, demikian halnya yang terjadi di dalam," katanya.
Cedera pada persendian atau jaringan otot yang sudah pulih akan menjadi jaringan berbeda dan tidak seelastis jaringan aslinya. "Jaringan baru yang terbentuk akan mengakibatkan keseimbangan kaki kiri dan kanan berbeda. Ini mempermudah terjadinya cedera yang lebih berat di masa mendatang," ujarnya.
Sepak bola, menurut Michael, merupakan permainan olahraga yang cukup keras. Sebuah penelitian di Inggris menyebutkan pemain sepak bola profesional kehilangan rata-rata 24 hari dalam setahun gara-gara cedera, yang sepertiganya terjadi saat latihan.
Permainan ini menggabungkan kecepatan dan keahlian mengolah bola. Ada momen berlari kencang dan perubahan manuver, seperti berputar ataupun menekuk secara tiba-tiba. "Proses berlari kencang itu mengakibatkan suatu gaya yang memungkinkan sendi cedera, ditambah lagi saat bermanuver, misalnya tiba-tiba berputar arah setelah berlari kencang. Tanpa kemampuan fisik prima dan skill bagus, cedera mudah sekali terjadi," dia menjelaskan.
Menurut penelitian ahli bedah tulang di Kementerian Pemuda dan Olahraga, dokter Basuki Supartono, cedera saat latihan lebih banyak terjadi di bagian lutut, lengan, dan pinggang atau pinggul. Masalahnya, keterlibatan pelatih memberi penanganan cedera awal juga minim. "Yang memprihatinkan, penanganan cedera atlet lebih banyak ditangani secara tradisional. Dampak perawatan hingga rehabilitasi juga tidak dipikirkan," katanya.
Zara Lovera Tifani, 22 tahun, atlet sofbol Klub Redfox, Bandung, juga cedera pada bagian tulang belikat saat latihan di Lapangan Lodaya pada 2007. "Nyeri, disentuh saja seperti ditusuk jarum," katanya. Finalis Miss Indonesia 2010 itu biasanya rutin berlatih tiga hari dalam sepekan. Rasa sakit tersebut kemudian menyebar ke punggung tengah. Makin terasa tiap kali tubuhnya yang berbobot 53 kilogram itu kelelahan setelah beraktivitas seharian.
Menurut dokter ahli kesehatan olahraga dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Profesor Ambrosius Purba, cedera Zara akibat ototnya melintir saat memukul bola. “Bisa jadi atletnya kurang pemanasan, atau kurang pendinginan tubuh,” ujarnya.
Prinsip dasarnya, cedera itu sesuai dengan pola gerak olahraganya. Cedera pemain tenis dan sofbol biasanya di punggung; silat atau karate, di wajah atau selangkangan; serta tinju, di mata dan perut. Dokter spesialis kedokteran olahraga lain, I Nyoman Winata, mengingatkan jangka 24-48 jam yang menentukan bagi atlet cedera. “Ambil dulu tindakan awal RICE. Jika ada diagnosis lain, baru ke tahap terapi selanjutnya,” ujarnya Selasa pekan lalu di Klinik Kesehatan Atlet Senayan. RICE adalah singkatan dari rest (istirahatkan), ice (dinginkan), compress (bebat), dan elevation (mengangkat bagian cedera lebih tinggi daripada jantung).
Cedera pada atlet sering terjadi, bahkan bisa lebih bahaya dibanding cedera yang dialami bukan atlet. Sebab, seorang atlet tak boleh berhenti latihan demi menjaga performa dan prestasi. Seperti yang pernah dialami pebulu tangkis ganda putri Eliza. Pada Februari 1999, saat bertanding di Grand Prix Brunei Darussalam, lututnya cedera. Namun dokter resmi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia meminta tak merisaukan cederanya. Eliza diberi obat dan terapi tusuk jarum.
Seusai istirahat sebulan, juara Indonesia Terbuka 1997 itu kembali berlaga di beberapa kejuaraan. Tapi ia merasakan sesuatu yang tidak beres. "Kaki sering terasa goyang dan berbunyi krek," katanya kepada Tempo pada waktu itu. Gerakan Eliza di lapangan sering tampak ragu dan kurang lincah.
Lutut Eliza cedera lagi saat sedang berlatih. Namun tak diambil tindakan medis komprehensif. Eliza hanya menjalani fisioterapi dan istirahat dua minggu. Setelah itu, dia kembali berlatih untuk persiapan fisik menjelang Olimpiade Sydney 2000. Di arena akbar itu, pasangan ganda putri Eliza-Deyana Lomban dikalahkan pasangan Inggris, Joanne Davies-Sarah Hardaker.
Setelah bertanding, Eliza memanfaatkan fasilitas klinik gratis yang disediakan panitia Olimpiade. Di sanalah diketahui kerusakan otot lutut mojang Bogor ini begitu parah sehingga harus dioperasi. Tanpa operasi, Eliza tak bisa lagi berolahraga apa pun selain berenang.
Ligamen atau jaringan serat pengikat tulang di lutut kirinya putus. Meniskus atau lapisan tipis tulang rawan yang mengaitkan sendi lututnya robek. Akhirnya, tulang Eliza dibedah di Rumah Sakit Jakarta. Dalam operasi tujuh jam itu, sebagian otot pahanya diambil untuk disambungkan pada bagian lutut yang putus.
Memang, jika pada orang biasa cedera, seperti memar, bisa didiamkan saja beberapa saat dan akan pulih sejalan dengan waktu. Tapi pada atlet yang mengejar prestasi tidak bisa. Bila tak diambil tindakan lebih cepat, gumpalan darah dalam pembuluh itu akan mempengaruhi organ lain. Karena atlet itu harus tetap berlatih, cedera akan terus bertumpuk, dan bisa lebih berbahaya daripada cedera yang diderita orang biasa.
Ahmad Taufik, Anwar Siswadi (Bandung)
diambil dari Majalah TEMPO 11- 16 Januari 2011
Menghadang Tayangan Tuan Tan
Opera Tan Malaka batal tayang di beberapa televisi daerah. Tentara dan polisi yang melarang menganggap mengutamakan keamanan setempat.
------
Agus Setiawan mengaku dari Komando Daerah Militer Brawijaya, Surabaya, datang ke kantor televisi Madura Channel di Sumenep, Senin pekan lalu. Di kantor stasiun milik politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Said Abdullah, tersebut anggota tentara itu bertemu dengan Manajer Program Madura Channel Hidayat Rahman, meminta “kerja sama” tidak menayangkan Opera Tan Malaka. "Saya bilang kepada Agus, saya tak punya wewenang, soal tayang atau tidak, harus diputuskan di meja redaksi,” kata Hidayat kepada Musthofa Bishri dari Tempo.
Di Batu, Jawa Timur, anggota TNI bernama Sukis dari Komando Distrik Militer 0818/wilayah Batu, Malang, dan Winarto yang mengaku dari Komando Resor Militer 083/Baladhika Jaya, Malang, juga datang ke kantor Batu TV dengan “imbauan” sama. Namun Komandan Kodim 0818/Kabupaten Malang Letnan Kolonel Infanteri Heri Pribadi membantah jika dikatakan anak buahnya mendatangi kantor Batu TV. “Tidak ada anggota kami yang mendatangi kantor Batu TV untuk mengimbau, menyensor, atau melarang,” katanya. “Apalagi kalau itu demi kepentingan sejarah berdirinya republik kita. Sudah ada Undang-Undang Pers dan Undang-Undang Penyiaran. Kalau kami melarang, nanti justru kami yang dinilai melanggar undang-undang,” kata Heri.
Di Kediri, orang-orang yang mengaku intelijen dari Kodim dan Korem juga mendatangi stasiun televisi Kilisuci Televisi (KSTV). Mereka meminta stasiun televisi itu tidak menayangkan Opera Tan Malaka. "Saya hanya mengimbau agar itu tidak ditayangkan, demi keamanan bersama,” kata Komandan Kodim 0809 Letnan Kolonel (Art) Bambang Sudarmanto kepada para jurnalis.
Bambang beralasan kondisi keamanan Kota Kediri, tempat Tan Malaka diduga ditembak mati pada 1949, sedang kondusif. “Itu yang menjadi pertimbangan utama saya dalam mengambil keputusan,” ujarnya, Selasa pekan lalu. Namun Bambang menolak menjelaskan alasannya lebih detail. Dia hanya tidak ingin pemutaran Opera Tan Malaka memicu gangguan keamanan di Kota Kediri. "Intinya, keputusan ini saya ambil demi menjaga situasi kondusif jangan sampai hilang.”
Perwira TNI berpangkat melati dua di pundak itu mengaku belum melihat tayangan tersebut. "Tapi, dengan tidak melihat tayangannya, kita sudah bisa meraba. Kalau masih ingat pelajaran sejarah, siapa Tan Malaka. Bagaimana aliran politiknya? Semua sudah jelas," kata Bambang.
Direktur Operasional Kilisuci Televisi Mufti Ali berpendapat tidak ada yang berbahaya dari isi Opera Tan Malaka. “Tinggal nanti tergantung apresiasi penonton,” ujarnya. Tapi, karena permintaan itu, penayangannya yang seharusnya pada 9 dan 16 Januari batal.
Karena ada imbauan Komandan Kodim, plus dukungan kelompok kecil masyarakat yang menamakan diri Center for Indonesia Community Studies Jawa Timur dan Laskar Ampera Arif Rahman Hakim Angkatan 66 Jawa Timur, pihak KSTV urung menayangkannya. “Dengan berbagai pertimbangan, masukan dari masyarakat dan aparat, sementara kami batalkan dulu," ujar Mufti.
Polisi juga mendatangi kantor Batu TV. Menurut Kepala Kepolisian Resor Batu Gatot Sugeng, pihaknya hanya ingin memeriksa siaran Opera Tan Malaka yang rencananya akan ditayangkan Batu TV. Pemeriksaan itu dilakukan karena polisi mendapat informasi yang menyebutkan tayangan Opera Tan Malaka bisa mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. “Justru kami ingin tahu kontennya seperti apa. Sebagai penanggung jawab keamanan, kami ingin mengerti isinya,” ujarnya.
Menurut Gatot, keputusan batal menayangkan Opera Tan Malaka diambil manajemen Batu TV. “Kami baru datang, tapi Batu TV bilang tidak jadi menyiarkan. Kami berhenti. Kalau memang nanti mau disiarkan, akan kami cek lagi,” katanya.
Hadangan memang kadang bukan dari luar institusi saja, tapi juga dari stasiun televisi itu sendiri. Duta TV Banjarmasin, Kalimantan Selatan, tak jadi menayangkan Opera Tan Malaka dengan alasan teknis. “Materinya panjang. Tidak ada yang menekan kami,” kata Direktur Duta TV Banjarmasin Saefudin kepada Khaidir Rahman dari Tempo.
Padahal Duta TV termasuk 10 dari 45 televisi lokal dalam jaringan Tempo TV yang menerima tawaran menayangkan Opera Tan Malaka. “Kami tidak memaksa. Kami tawarkan, mereka terima, ini program gratis,” kata Direktur Utama Tempo TV Santoso.
Saefudin mengaku belum menyaksikan atau mengetahui isi Opera Tan Malaka. Namun ia telah meminta kru Duta TV menyaksikannya. ”Jika isinya sesuai dengan visi dan misi Duta TV, kami akan menayangkan. Kami masih mengkaji,” ujarnya.
Sebenarnya yang berencana menayangkan Opera Tan Malaka di televisi pertama kali adalah Metro TV. Televisi berita berskala nasional itu memang bekerja sama dengan Salihara dan sebuah perusahaan rokok. Sebagai rangkaian Festival Salihara pada pertengahan Oktober tahun lalu, pertunjukan Opera Tan Malaka menjadi puncak acara. ”Metro TV yang merekam sendiri acara itu,” ujar Manajer Komunikasi Pemasaran Salihara Rama Thaharani.
Rencana tayang sudah diiklankan di Metro TV, tapi batal nongol pada hari yang dijanjikan. ”Katanya ada masalah editing,” ujar Rama. Ketika itu Metro TV tak menjelaskan alasannya. Namun, Rabu pekan lalu, pemilik Metro TV, Surya Paloh, kepada Tempo lewat telepon seluler mengaku sudah bertanya kepada redaksi tentang batal tayangnya Opera Tan Malaka. Keputusan redaksi, menurut Surya, karena tayangan itu akan menimbulkan pro-kontra di masyarakat. ”Daripada menghabiskan energi untuk hal-hal begitu mending tak usah ditayangkan. Kita gunakan energi untuk yang lebih berguna bagi kemajuan bangsa ini,” ujarnya.
Tak semua stasiun televisi tak menayangkan Opera Tan Malaka. Salah satunya Taz TV, Tasikmalaya, Jawa Barat. ”Kalau enggak suka, matikan saja televisinya,” ujar Direktur Utama Taz TV Sigit Wahyu Nandhika.
Seorang warga Tasikmalaya, Tahyudin Ali Mursyid, yang menonton pertunjukan di Taz TV yang radius siarnya menjangkau sampai Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menyatakan salut terhadap televisi lokal yang menampilkan acara tentang sosok pahlawan yang dibenci Belanda dan Partai Komunis Indonesia pada masanya itu. ”Seharusnya kita bisa lebih menghormati hasil karya orang lain,” ujar Tahyudin.
Tayangan dalam Opera Tan Malaka yang berdurasi hampir dua jam dibuka dengan pengibaran bendera merah dengan sekilas tampak gambar palu-arit berwarna kuning dalam kegelapan. Suara-suara nyanyian seriosa terdengar silih berganti.
Alasan kandungan komunisme dalam tayangan opera tersebut memang tidak pernah dimunculkan secara eksplisit oleh pihak-pihak yang “mengimbau” tidak menyiarkan. Namun, menurut Koordinator Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Ezki Suyanto, soal ideologi tidak termasuk dalam larangan pada pedoman perilaku penyiaran peraturan KPI. ”Seks atau cabul, kekerasan, dan mistik justru yang harus diperhatikan sebelum menayangkan sesuatu,” ujarnya.
Lagi pula, menurut Ezki, tayangan mendapat peringatan jika sudah muncul di televisi dan mendapat protes dari masyarakat. ”Pihak televisi jangan takut menayangkan sesuatu, asal sudah sesuai dengan pedoman yang kami keluarkan,” ujarnya. Keberanian harus datang dari pihak media itu sendiri untuk melawan sensor dan pembredelan.
Ahmad Taufik, Abdi Purmono (Malang), Hari Tri Wasono (Kediri), Jayadi Supriyadin (Tasikmalaya)
----dari Majalah TEMPO 17-23 Januari 2011---
MATA NAJWA METRO TV EPISODE “PENJARA PURA-PURA”
Wahh..kalau sekarang, dari bisnis kamar (penjara—red) saja, informasi yang saya peroleh, dalam 1 tahun pendapatannya bisa mencapai 1 Milyar Rupiah”
(Ahmad Taufik, penulis buku Bisnis Seks Dalam Penjara)
Ungkapan di atas terucap lancar, dan mengalir tanpa beban oleh Ahmad Taufik menjawab pertanyaan Najwa Shihab, host dalam acara – nya Mata Najwa, di Metro TV yang ditayangkan Rabu, 12 Januari 2011. Tayangan Mata Najwa kali ini membicarakan seputar kehidupan penjara dengan judul, “Penjara Pura – Pura”.
Ahmad Taufik adalah penulis buku Penjara, the Untold Stories yang diterbitkan oleh Ufuk Press, yang kini judul tersebut diubah menjadi Bisnis Seks Dalam Penjara. Selama hampir 3 tahun menginap di penjara Taufik, yang juga seorang wartawan senior Tempo, tahu betul bagaimana geliat dan gemerlapnya hidup dalam penjara – sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui oleh publik.
Dalam bukunya Taufik menulis bahwa skandal di dalam penjara sebenarnya sudah dimulai sejak narapidana masuk pertama kali ke dalam lembaga pemasyarakatan (Lapas). Disitulah sudah terjadi jual-beli kamar beserta segala fasilitasnya.
“ Apakah sekarang masih terjadi?” tanya Najwa Sihab. “ Sampai sekarang masih terjadi. Kadang terjadi di depan mata kita. Itu bukan sesuatu yang aneh. Sangat gampang kok kita temui “ jawab Ahmad Taufik meyakinkan
Pada masa ia ditahan sekitar tahun 1997, harga jual beli kamar sangat tergantung pada kekuasaan uang yang dimiliki. Harganya bisa bervariasi mulai 500 ribu rupiah hingga 50 juta Rupiah. Uang sebesar itu digunakan untuk mendapatkan posisi kamar yang strategis, kelengkapan fasilitas, penjagaan, serta kelonggaran aturan yang disediakan.
SEKS DALAM PENJARA
“Didalam buku Anda juga dibahas tentang bisnis seks yang sudah menggejala. Sejauh apa bisnis ini dari pengalaman yang Anda alami? Darimana perempuan-perempuan datang bahkan ada di dalam penjara?” tanya Najwa Sihab melanjutkan.
Di dalam penjara, praktik berhubungan intim (seks), narkoba dll terjadi dalam bentuk dan modifikasi yang sulit dibayangkan oleh masyarakat yang tinggal di luar. Membaca bukunya pasti pembaca akan terheran – heran dan menahan napas.
Pada masanya di penjara Cipinang maupun Salemba misalnya, ada seorang mucikari besar di Jakarta yang memasok perempuan-perempuan tersebut untuk melakukan hubungan intim dengan para narapidana. Tempatnya bisa dilakukan di kamar-kamar yang dijaga oleh petugas Lapas tentunya dengan memberikan uang yang jumlahnya bervariasi. Jumlah yang bervariasi tersebut tersebar antara 400 ribu rupiah/jam hingga yang paling murah di ruangan diesel yang hanya “dibanderoli” sebesar 50 ribu rupiah/jam
Taufik menghuni hotel prodeo akiba keterlibatannya di AJI (Asosiasi Jurnalistik Indonesia) pada era Soeharto. Pada masa itu sebagai salah satu dari wartawan Tempo yang dibubarkan pemerintahan Soeharto, Taufik bersama teman – temannya menerbitkan sebuah jurnal Independen yang mengkritik dan menerbitkan media kritis terhadap pemerintah. Jurnal Independen itu pula yang akhirnya mendorongnya masuk ke penjara beberapa tahun.
Buku yang ditulisnya ini merupakan jejak dan rekamannya saat ia menghuni di berbagai penjara yang ada di Indonesia. Ia menceritakan dan mengungkap peran dan keterlibatan banyak pihak yang terkait dalam penjara seperti petugas Lapas dll. Buku ini bisa menjadi potret bagi masyarakat yang ingin mengetahui kehidupan dalam penjara.
Beberapa waktu lalu salah satu TV Swasta (SCTV – Red) sempat kebakaran jenggot dengan investigasi (SIGI) yang ditayangkan berdasarkan reportase yang ditulis Taufik dalam bukunya. Dalam tayangan investigasi tersebut media TV dengan banyak kelebihan yang dimilikinya (visual) memperkuat apa yang ditulis dalam buku ini.
Konon akibat pemberitaan tersebut, salah satu oknum dari sebuah kementrian melakukan intervensi pelarangan. Kronologi perdebatan tentang pelarangan di kutip di sampul baru buku ini. Sialnya berita pelarangan itu muncul ke publik dan menjadi pemberitaan yang sangat merugikan kementrian tersebut.
“Untuk pertanyaan terakhir. Apa yang ingin Anda katakan setelah Anda menulis karya ini?” tanya Najwa Sihab mengakhiri pembicaraan.
“Saya hanya ingin mengatakan bahwa sejak dari awal seorang terdakwa ditetapkan sebagai tersangka maka ia suda diposisikan untuk membayar ini dan itu untuk mendapatkan hak-hak istimewa. Tidak ada keringanan di dalam penjara yang tidak tanpa uang. Bahkan untuk mendapatkan remisipun harus dengan uang.” tegas Ahmad Taufik
Ufuk Press, 14-January-2011---dari www.ufukpress.com
Wartel Islami
Sebuah stasiun televisi meminta ku mengirim naskah bukuku untuk dibedah oleh hostnya.Malam itu aku baru saja tiba dari sebuah kota kecil di Jawa Timur, Bangil. Usai membeli tiket untuk ke Jakarta, aku pun mencari warung internet. Sudah sejak lama modem ku tinggal di rumah untuk anakku berselancar.
Pegawai travel tempat membeli tiket menunjuki arah warnet, hanya belasan meter, masuk gang. Informasinya kuturuti. Masuk ke dalam gang sedikit tampat sebuah warung internet di Jalan Kalimas Madya II, Surabaya. Ramai warnet berisi anak-anak sibuk hampir semua dari hampir 20 kotak mereka main games.
Di dinding warnet kulihat tulisan Warnet Islami, tak boleh mendownload materi porno. Namun, di semua layar televisi kulihat games anak-anak bermain perang-perangan. Bukan sekadar perang-perangan, setiap berhasil menembak lawan, darah muncrat ke layar. Pyaaar! Memang bukan darah beneran, hanya darah dalam games. Tapi, permainan itu mennjukkan kekerasan, darah boleh ditumpahkan. Masya Allah!
Sejak kecil anak dibiarkan berteman dengan kekerasan. Mereka diakrabkan dengan boleh menumpahkan darah sesamanya, lalu bagaimana di masa mendatang? Anak-anak dengan game bergenre kekerasan dibiarkan, dalam warung internet yang mengakui tempatnya sebagai Warnet Islami.
Aku jadi teringat lagu country Rita Rubi Harland, jangan ajari anak main senjata, hanya akan menghilangkan nyawa (tidak tepat benar sih). Tapi ajari anak main cinta, mkarena akan menghasilkan kehidupan. Cintah kasih dijauhkan dari anak-anak, tapi kekerasan diakrabi. Aku yakin bukan itu yang diajari nabi pembawa agama Islam. Lalu kenapa Warnet yang mengaku islami, mengajarkan kekerasan. Islami yang ditawarkan pada warnet itu cuma, mau menarik pelanggan atau kawatir dirazia atau ya, cuma itu pemahamannya tentang Islam?
Memang bisnis mengatasnamakan agama, kini laku dijual. Segala sesuatu dilabeli syariah. Bahkan mereka tak jelas lagi batas bercampurnya haram, halal dan subhat. Misalnya bank yang jelas-jelas menjalankan bunga bank (yang dipercaya banyak orang sebagai riba) memiliki divisi syariah. Hanya untuk menampung orang-orang yang bergaya dan berdsaya pikir syariah. Organisasi preman berlabel agama juga diminati untuk menakut-nakuti kelompok lain. Dai-dai berkeliling dakwah ujungu-ujungnya hanya untuk memuaskan nafsu birahinya. Agama di atas namakan dan dijual begitu murah, sayang, memang.
Kembali ke negeri ini, Indonesia yang cinta damai, yang tongkat dan batu ditanam jadi tanaman. Bukan gurun pasir yang sukunya berebut kekuasaan dan sumber daya alam untuk hidup survival. Disana cuma ada hidup ikut jadi budak, atau mati saja. Kekuasaan hanya ada pada kepala suku (pada masa modern disebut Raja). Janganlah kekerasan dikedepankan bahkan diajarkan lebih dini kepada anak-anak, lewat games yang bertebaran lewat warung internet di sekitarmu. Jika tak mencegah dari sekarang kekerasan akan dituai di masa mendatang. Indonesia bukan lagi negeri yang harmonis, cinta kasih, gotong royong dan menghargai keberagaman (pluralitas).
Jakarta, 15-17 Januari 2011
Ate
Minggu, 09 Januari 2011
Harjo Bela Wong Cilik
Pak Harjo, memang cuma seorang supir, tetapi keberaniannya bisa menakutkan polisi keamanan bandar udara Juanda, Surabaya. Saat warga Malang, Jawa Timur itu sedang nikmat makan nasi bungkus yang dijajakan seorang ibu tua di kawasan parkir bandara. Tiba-tiba seorang polisi lengkap dengan atribut keamanan bandara, menyepak dagangan sang ibu penjual nasi bungkus itu. Nasi bungkus dalam tas plastik pun berantakan, kena sepakan dengan sepatu lars sang petugas keamanan bandara itu.
Harjo langsung naik darah. “Hei, kamu tidak sopan tidak lihat saya sedang makan, ya?”katanya. Polisi yang dimarahi hanya bengong.
“Hayo, ambil barang-barang ibu itu kembalikan dan bayar yang kamu rusak. Kalau tidak ta’ pukuli sampeyan,"katanya dengan aksen jawatimuran. Polisi itu seperti tersihir mengambil nasi bungkus yang masih utuh, dan membayar, beberapa nasi bungkus yang terlempar dan rusak bertebaran di rumput halaman parkir itu.
“Kamu itu kayak dilahirkan dari patung. Ibu itu kesini cuma cari bati seribu dua ribu perak, masak tega kamu gituin,”ujarnya masih dengan nada tinggi. Polisi itu ketakutan dan minta maaf bukan hanya kepada Harjo juga kepada ibu penjual nasi tersebut.
Menjual nasi selain di restoran dengan sewa yang mahal, selama ini dilarang. Karena tidak boleh mereka berjualan secara diam-diam, dengan tas berisi nasi bungkus dan kopi panas dalam plastik. Walaupun, sebenarnya para petugas tahu. Karena para sopir yang menunggu kedatangan atau usai mengantar majikan tentu perlu rehat, mengisi perut atau sekedar ngopi penghilang rasa kantuk. Atau orang seperti saya yang kadang cuma punya uang pas-pasan buat naik bus damri dari dan ke bandara, walaupun pulang pergi naik pesawat terbang. Lagi pula, memesan kopi dari pedagang “liar” rasanya lebih nikmat dibanding yang dijual di restoran di bandara. Bahkan bisa kongkow-kongkow dengan para sopir dan penjual itu.
Nah, sebagai seorang sopir, tentu tak mampu makan di restoran yang bertebaran di bandara, harganya selangit, sekali makan plus minum bisa seperssepuluh gajinya. Mendingan juga uang buat anak isteri yang lebih membutuhkan. Lagi pula tidak efektif harus meninggalkan mobil majikannya.
Walaupun begitu, Pak Harjo bukan orang sembarangan. Anaknya pernah ikut casting sebuah rumah produksi sinetron di Jakarta. Bahkan menginap di hotel di kawasan Sawangan Golf, Depok, seminggu. Anaknya, bahkan diminta tinggal di Jakarta untuk tiba-tiba dipanggil untuk stripping. Tapi, Harjo tak mau, karena yang ditanggung hidup cuma anaknya, orang tuanya tidak. “Bagaimana pun anak musti di dampingi,”katanya.
Akhirnya anak yang masih sekolah menengah pertama itu meneruskan sekolah di Malang. Harjo juga banyak kenal orang hebat di Jakarta, seorang pemilik kawasan perindustrian di pinggiran Timur Jakarta.
Saat ini anaknya kandas menjadi bintang sinetron. Harjo tetap menjadi sopir. Ahad, 9 Januari 2011, aku bertemu dia masih menunggui majikannnya yang datang dengan penerbangan malam dari Jakarta. Dia masih menikmati nasi bungkus dan kopi panas dalam plastik. Kami duduk berdua, aku menikmati kopi sambil senderan di tembok sebuah ponten dalam kawasan parkir bandara Juanda. Bravo Harjo!
Surabaya, 9 Januari 2011
Ate
Langganan:
Entri (Atom)








