Senin, 17 Januari 2011

Sawahlunto : Menghidupkan Kembali Belanda Kecil



Transformasi terbesar kota ini adalah perubahan dari kota mati menjadi hidup. Bekas-bekas tambang yang suram menjadi museum yang bercerita.

“Kota ini aman, tak ada pencurian mobil atau motor,” ujar Dahmar Sutan Putih, 72 tahun. Warga Bukittinggi itu hijrah sepuluh tahun lalu ke bekas kota tambang batu bara, mengikuti anaknya yang menjadi dokter di rumah sakit daerah itu. Saat ditemui Tempo, ia sedang “mengangon” empat cucunya, menikmati sate daging sapi tipis Wak Empit dalam acara perayaan ulang tahun ke-122 Sawahlunto di pusat kota, awal Desember lalu.

Dahmar bertutur, ketika ia baru pindah, pernah ada pancilok, tapi pelakunya dikejar massa. Pencuri sial itu tertangkap, bukan diserahkan ke polisi, massa malah menghukum sendiri dengan cara menyeretnya dengan mobil hingga tewas. “Mungkin pencuri lain jera, mikir-mikir berani mencuri di Sawahlunto ini,” kata Dahmar dengan aksen Bukittinggi kental. Seram ya?

Memang banyak cerita seram di Sawahlunto. Maklum, kota tersebut dihidupkan dari orang rante, narapidana yang dirantai kaki dan tangannya, dari berbagai pelosok Nusantara, sebagai penggali tambang batu bara. Ada kisah tentang pekerja tambang yang sakit dibuang begitu saja di sudut-sudut kota. Tak mengherankan jika di pusat kota yang dikelilingi bukit itu banyak didengar cerita tentang hantu bergentayangan.
Tapi cerita seram tidak membuat takut banyak orang. Nyatanya, kota itu hidup hingga larut malam. Tak sulit mencari makanan sampai tengah malam, mulai dari pecel lele Lamongan, jagung bakar, sampai martabak Mesir kubang. Memang, dulu kota itu mati. Namun, sejak kota dipimpin Amran Nur, pada awal 2000-an Sawahlunto mulai hidup. “Dulu ini kota mati setelah ditinggal pekerja tambang,” kata Willy Zon, penduduk kota berusia 56 tahun.

Awal kota ini bermula saat ditemukan cadangan tambang batu bara oleh William Hendrik de Greve, insinyur pertambangan asal Belanda. Pada 1 Desember 1888 pemerintah Hindia Belanda mulai menanam investasi 5,5 juta gulden untuk membangun infrastruktur dan fasilitas penunjang bisnis pertambangan itu, mulai dari pemukiman, dapur umum, sampai jalur kereta api. Kota itu berkembang menjadi kota pertambangan batu bara, pekerjanya kebanyakan narapidana yang didatangkan dari pelbagai daerah, termasuk Singapura dan Malaysia, yang dikenal sebagai orang rante.

Pada 1930, produksi batu bara memberikan keuntungan 4,6 juta gulden setahun. Walaupun luas kota cuma 778 hektare, penduduknya mencapai 43.576 jiwa, dengan lebih dari 500 orang Belanda. Setelah Indonesia merdeka, tambang Ombilin diambil pemerintah. Wilayahnya diperluas menjadi 27 ribu hektare lebih. Namun eksploitasi berlebih membuat tambang tak lagi bisa diproduksi massal sejak 2000. Tambang negara pun dilikuidasi PT Bukit Asam, Sumatera Selatan. Para pekerja meninggalkan Sawahlunto. Kota pun semakin ditinggalkan penduduknya, karena tak ada lagi yang bisa diandalkan sebagai sumber penghidupan. Kota “sawah” yang dialiri Sungai Batang Lunto itu pun bak kota mati.

Amran Nur, insinyur asal Institut Teknologi Bandung, yang malang-melintang di berbagai bisnis di Jakarta, pulang kampung. Terpilih menjadi wali kota pada 2003, ia sempat bingung tak tahu harus berbuat apa untuk Sawahlunto. Setelah berdiskusi dengan banyak kawan dan pakar, akhirnya lelaki kelahiran Desa Talawi, 13 Oktober 1945 itu memulainya dengan menghidupkan kota dari bekas-bekas tambang. “Rongsokan” diubah menjadi museum. Lubang Mbah Suro, Museum Gudang Ransoem, bangunan-bangunan tua di pusat kota, silo, belakangan dia juga menghidupkan kembali kereta Mak Itam sebagai kereta wisata, plus membuat museum kereta api di stasiun. Sawahlunto diubah menjadi museum hidup. “Kota ini sempat membiayai Negeri Belanda, tak salah kalau kami menyebut kota ini sebagai Belanda Kecil,” katanya.

Perekonomian mulai bangkit dengan pariwisata museum yang dibangun Amran. Agar wisatawan lebih lama tinggal dan menghabiskan uangnya untuk Sawahlunto, Wali Kota juga mengembangkan waterboom di Muaro Klaban, taman safari, pacuan kuda, dan arena motocross di kawasan Kandi. Masyarakat pun diikutsertakan dalam membangun kota.
Cara Amran memimpin kota dikhawatirkan tidak diikuti aparat birokrasi lain. Namun Amran sudah berjaga-jaga. “Saya datangi warga langsung,” katanya. Dengan harapan, jika terjadi penyelewengan, warga yang akan menuntut pemimpin kota sesudah Amran, yang dua tahun lagi usai. Karena dia sudah dua kali terpilih.

Warga mulai tampak antusias memberi perhatian pada kotanya. Pada Sabtu awal Desember lalu, di kantor Dinas Pariwisata, Tempo mengikuti pertemuan antara kelompok masyarakat dan kantor Dinas Pemerintah Daerah. Mereka--dibagi dalam dua kelompok amatan, yaitu Pasar Remaja dan Museum--berencana membuat peta hijau Sawahlunto. Dengan berjalan kaki, mereka menyusuri kota berbekal peta perencanaan yang sudah mereka buat. Dibantu ahli lanskap kota dari Universitas Trisakti, Jakarta, Nirwono Joga, budayawan Eka Budianta, dan guru besar lain, mereka turun ke jalan.

Pasar Remaja sebagai jantung ekonomi bisa disusuri hanya dalam 10 menit berjalan kaki. Kawasan itu diapit dua jalan, Kompleks Puskesmas dan Imam Bonjol, selain jalur tengah, Jalan Ahmad Yani. Mulai dari ujung berdiri bangunan besar tradisional Sumatera Barat, bagonjong, kantor Bank Nagari, pedagang buah, sandal, dan barang kelontong berada di sekitarnya. Hanya berbatas tiga rumah, ada Perpustakaan Adinegoro. “Buat sebuah kota kecil, adanya perpustakaan sebuah kejutan,” kata Nurdin Koto, yang beberapa kali mengunjungi kota itu.

Sesudah itu di dua jalan sisi berderet sejumlah rumah toko, ada rumah makan, bengkel motor, dan warung kebutuhan sehari-hari. Muncul gedung dengan arsitektur pecinan buatan 1917 yang kini dimanfaatkan sebagai gedung Pegadaian. Bangunan itu dulu pernah digunakan sebagai gedung pertunjukan seni dan komedi. Lalu, hanya tiga menit berjalan kaki, ketemu bangunan berarsitektur Cina lainnya, Rumah Pek Sin Kek, yang dibangun pada 1906, pernah berfungsi sebagai gedung teater, tempat perhimpunan masyarakat Melayu dan pabrik es. Pada 2005-2006 gedung ini direvitalisasi dan dijadikan warisan kekayaan kota.

Hanya sepelemparan batu dari Rumah Pek Sin Kek, sampai di Gedung Pusat Kebudayaan, Societeit, dulu disebut Gluck Auf, yang dibangun pada 1910. Dulunya gedung itu tempat bermain bowling dan biliar para pejabat Belanda. Di seberangnya bangunan tua lainnya dijadikan Hotel Ombilin, satu-satunya hotel besar di kota itu. Masih dalam segitiga kawasan itu, ada bangunan tua bergaya Belanda buatan 1916 yang kini menjadi kantor PT Bukit Asam Unit Pertambangan Ombilin. Di sekitar itu tertata beberapa kursi besi. Tampak anak SD duduk santai melepas lelah berangin-angin.
Buat menghijaukan kota, Wali Kota membagikan gratis pohon kakao. Di sepanjang jalan dalam kota, pohon-pohon itu sudah berbuah menguning. “Tidak hanya menghijaukan, tapi juga meningkatkan ekonomi masyarakat,” kata Wali Kota Amran. Mak Inah, 55 tahun, pemilik warung dekat kuburan Belanda, mengakui manfaat kakao. “Saya dapat tambahan modal dari hasil jualan kakao pembagian itu,” katanya.

Kreativitas menghidupkan kota tak berhenti. Sementara di Den Haag, Belanda, ada North Sea Jazz, mulai tahun ini, setiap awal Desember, Amran memprakarsai Sawahlunto International Music Festival. Untuk yang pertama, Desember lalu, tampil pemusik dari Afrika, Mongolia, Jerman, Singapura, Malaysia, Jakarta, dan sejumlah seniman lokal Sumatera Barat. “Sesuai dengan visi kota, Sawahlunto kota wisata tambang yang berbudaya,” ujar Amran berpromosi. Tak ada lagi cerita maling atau hantu, yang ada keramaian dan keramahan.

Ahmad Taufik

Sawahlunto, Sumatera Barat

Luas: 273,45 kilometer persegi
Penduduk: 58.310 jiwa
Kepadatan: 199 jiwa per kilometer persegi
Memiliki 4 kecamatan, 10 kelurahan, dan 27 desa
Hari jadi: 1 Desember 1888
Wali Kota: Amran Nur
---diambil dari Majalah TEMPO 3-10 Januari 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...