Senin, 22 November 2010

Menangkal Rayuan Susu Formula


  
Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Air Susu Ibu sudah harus disahkan pemerintah pada Oktober tahun ini. Salah satu poin pentingnya adalah membatasi promosi susu formula melalui tenaga kesehatan. Prakteknya, iming-iming itu masih terjadi hingga kini. Para ibu dan dokter yang sadar pentingnya air susu ibu untuk bayi bersatu melawan “pemaksaan” pemberian susu formula.
 
Desi Sudaryanti dan Eva Riskiya sibuk membagikan masing-masing sebungkus susu formula kepada ibu-ibu yang memeriksakan bayinya di Posyandu Mawar Melati, Kelurahan Kejambon, Tegal, Jawa Tengah, akhir Agustus lalu. Dua perempuan berusia 23 tahun ini dengan ramah menjelaskan kandungan susu formula yang mereka klaim bermanfaat untuk kesehatan anak usia di bawah lima tahun. “Ini sangat baik buat pertumbuhan lho, Bu, karena mengandung kolostrum, zat yang baik bagi kecerdasan otak anak,” ujar mereka meyakinkan para ibu muda yang tampak senang menerima sebungkus susu formula gratis.

Stok yang dibagikan tak banyak, cuma belasan kotak. Menurut kedua staf pemasaran itu, memang perusahaan tak mempermasalahkan apakah si ibu kemudian akan tertarik membeli susu merek tersebut atau tidak. Target mereka hanya memperkenalkan produk baru salah satu produsen susu nasional.

Desi dan Eva bukan tenaga penjualan “ilegal”. Menurut Desi, perusahaan yang dia wakili sudah memiliki kesepakatan dengan kepala puskesmas yang membawahkan pos itu. “Toh, ibu-ibu beserta anaknya diuntungkan dengan program ini,” ujar Desi. Setiap hari Desi dan Eva berkeliling dari satu pos ke pos lainnya.

Menurut Kepala Bidang Layanan Kesehatan Farmasi Dinas Kesehatan Kota Tegal, Karta, upaya memperkenalkan produk itu dianggap wajar karena susu formula yang ditawarkan untuk kebutuhan bayi di atas satu tahun. “Bukan untuk bayi nol hingga enam bulan yang disarankan untuk minum air susu ibu,” katanya kepada koresponden Tempo, Edi Faisol.

                                           ***

Mintarsih, seorang bidan di Bale Endah, Kabupaten Bandung, menjadikan ruang prakteknya bak toko susu formula. Berbagai merek susu terpajang di lemari etalase. Ruang pamer itu hasil pemberian sebuah produsen susu. “Tapi saya bebas, tak terikat, bermacam-macam produk susu saya taruh di sana,” katanya.

Begitupun yang terjadi di ruang praktek bidan Lili Suweli, 54 tahun. Bidan yang sudah berpengalaman lebih dari 20 tahun itu mengaku tak mendapat keuntungan langsung dari penjualan susu kaleng. Sesekali hanya mendapat contoh susu saja. "Paling produsen jadi sponsor kalau Ikatan Bidan Indonesia berulang tahun," ujarnya.

Kini, setelah mengetahui adanya peraturan Menteri Kesehatan yang melarang penjualan susu formula oleh tenaga kesehatan, Lili dan Mintarsih agak takut. Mereka tak lagi memajang deretan susu formula untuk bayi di ruang praktek.

Namun Lili mengaku pendekatan para penjual susu masih terjadi--bidan itu menyebutnya kunjungan. "Ya, wajar saja. Lagi pula sekarang hanya memberikan brosur," katanya. Selain itu, Lili mengaku tak enak hati kepada ibu-ibu yang datang. "Katanya ASI penting, tapi kok masih ada yang menawarkan susu formula," ujar para ibu yang komplain kepadanya.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Yudinia Amelia, mengakui masih terjadi praktek iming-iming produsen susu formula bayi kepada bidan dan rumah sakit. Misalnya, untuk satu kelahiran anak yang diberi susu formula, bidan atau rumah bersalin mendapat bonus Rp 10 ribu. Ada juga yang memakai bonus bertingkat, semakin banyak menggunakan susu formula tertentu, bonus semakin banyak. Bahkan ada yang menggratiskan umrah. “Praktek seperti itu masih ada, meskipun kalau bidan ditanya tidak mengaku,” katanya.

Menurut Yudinia, agresivitas promosi susu formula untuk bayi itulah yang menjadi salah satu faktor penyebab gagalnya kampanye Inisiasi Menyusu Dini. Di Yogyakarta, sejak kampanye tersebut digulirkan dua tahun lalu, hanya tercapai 30 persen ibu melahirkan yang mengikuti program itu. Padahal targetnya 80 persen. “Iklan susu formula untuk bayi dan balita, terutama di televisi, harus segera ditiadakan. Itu menyesatkan,” ujarnya. Para ibu tergiur rayuan iklan. Padahal produsen mencantumkan komposisi produk susu yang belum teruji secara klinis.

Memang tak semua rumah sakit tergoda rayuan. Di rumah sakit khusus ibu dan anak Bakti Ibu di Umbulharjo, Yogyakarta, misalnya, sejak ada program Inisiasi Menyusu Dini, baner atau iklan susu formula dicopot. “Memang ada tawaran dari produsen susu yang akan memberikan bonus jika bisa memasarkan susu, tetapi kami tidak tertarik,” kata Manajer Bakti Ibu, Bambang Bimo.

Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta mengaku juga tidak lagi memberikan susu formula kepada bayi, kecuali atas anjuran dokter. Dokter menganjurkan karena terpaksa, seperti air susu ibu tidak keluar atau kondisi ibu yang tidak memungkinkan untuk menyusui.

Namun seorang dokter spesialis anak di salah satu rumah sakit di Yogyakarta yang tidak mau disebut namanya menyatakan, praktek kerja sama rumah bersalin atau bidan dengan produsen susu masih ada. “Produsen susu itu juga menjadi salah satu sumber pemasukan bidan. Kalau ditanya, pasti jawabannya tidak,” kata alumni Fakultas Kedokteran Umum Universitas Gadjah Mada itu.

Menurut corporate affairs & legal director salah satu produsen susu formula, PT Sari Husada, Yeni Fatmawati, pihaknya sudah tidak memasang spanduk, baner, dan iklan di rumah sakit dan rumah bersalin atau bidan. Karena hal itu dilarang pemerintah. “Kami sudah punya gerai khusus untuk memasarkan produk,” katanya ketika berada di Yogyakarta.

                                            ***

Sejarah keberadaan susu formula bermula pada 1867. Saat itu Henri Nestle berniat menolong bayi agar lebih sehat. Namun tak disangka-sangka pemasarannya menjadi tidak terkendali. Seorang dokter asal Singapura, Cecille, 72 tahun, menemukan bahaya susu formula pada bayi, bahkan sampai berakibat kematian. Lalu berbagai tuntutan pada produsen susu formula terjadi di Swiss dan negara-negara lain. Mereka dituding sebagai penyebab banyak kematian bayi.

Karena banyaknya tuntutan hukum itulah, lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada kesehatan bayi dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) duduk bersama untuk meneliti dan membicarakan jalan keluarnya. Pada 1981, WHO berhasil membuat kode internasional yang membatasi pemasaran susu formula, bukan pembuatannya. Dalam Pasal 5.5 Kode WHO menyatakan: personel pemasaran dalam kapasitas bisnisnya hendaknya tidak melakukan kontak langsung atau tidak langsung dalam bentuk apa pun dengan perempuan hamil atau dengan ibu dari bayi atau anak (balita). Kode WHO itu diadopsi dengan Keputusan Menteri Kesehatan Tahun 1997 mengenai pemasaran pengganti air susu ibu.

Dua belas tahun kemudian Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 memperkuat hak setiap anak untuk mendapatkan air susu ibu secara eksklusif selama enam bulan. Sanksinya, jika ada pihak yang mengganggu, bisa dipidanakan penjara 1 tahun atau denda Rp 100 juta. “Jika itu dilakukan oleh korporasi seperti tempat kerja ibu, rumah sakit, produsen susu, si pelaku bisa terancam pidana tiga tahun penjara,” kata Ketua Sentra Laktasi Indonesia, dokter Utami Roesli.

Kini tengah dibahas rancangan peraturan pemerintah yang mendukung penggunaan ASI eksklusif. Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, dalam puncak acara Pekan ASI Sedunia pada awal Agustus lalu, memastikan bahwa pada awal Oktober rancangan itu disahkan. Dalam rancangan itu disebutkan pelayanan kesehatan tidak boleh menyediakan susu formula dan dot, serta tidak boleh memberikan makanan dan minuman selain ASI.

Peluang itu ditanggapi sejumlah organisasi yang peduli pada ibu menyusui. Salah satunya Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, yang berjuang memantau jika ada pihak yang merayu ibu menyusui menggunakan susu formula. “Karena produsen susu sudah membidik sejak ibu masih mengandung, menggunakan susu selama kehamilan, dengan harapan nantinya juga terjadi pada bayi yang dilahirkan,” ujar ketua asosiasi, Mia Sutanto.

Ibu dua anak ini berharap masyarakat melaporkan jika ada pelayan kesehatan membujuk, menyuruh, atau mengiming-imingi agar ibu memberikan susu formula selain air susunya. “Kami akan berjuang di level kebijakan agar tak hanya dijadikan tempat sampah untuk mengobati bayi korban susu formula,” ujar seorang pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia cabang Jakarta, Asti Praborini.

Ahmad Taufik, Muhammad Syaifullah (Yogyakarta), dan Anwar Siswadi (Bandung)

 ---Inilah tulisan yang dinilai oleh Kementerian Kesehatan dan mendapat hadiah pertama jurnalistik dalam Dirgahayu Hari kesehatan Nasional ke-46, 12 November 2010---

catatan : menurut orang Nestle, yang diberikan henri nestle bukan susu formula, tapi beras atau makanan bayi (ada surat pembanyanya di Majalah Tempo  berikutnya)

Minggu, 21 November 2010

Banyak Omong Untungkan Provider


   Di manapun di tempat-tempat umum maupun yang tak umum kita sering melihat orang bertelepon ria. Adanya telepon genggam memudahkan orang berkomunikasi. Kadang kalau kita menguping pembicaraan penelepon, mereka membicarakan sesuatu yang menurut kita kurang penting. Padahal saat mereka bertelepon kadang mengganggu orang di sekitarnya. Tapi mereka tidak peduli.

 Budaya banyak omong membuat perusahaan telepon jor joran menawarkan telepon genggam murah. Begitu juga provider jaringan telepon seluler menawarkan berbagai program murah untuk berbicara. Bahkan dengan berbagai tambahan bonus mulai dari sms sampai pelayanan jaringan multimedia dan sosial. Karena sampai saat ini terbukti budaya banyak omong lewat telepon seluler yang paling menguntungkan dalam bisnis tersebut.

   Nah, agar jangan budaya banyak omong hanya berhenti pada omong doang, perusahaan telepon seluler maupun jaringan provider wajib membayar kompensasi. Bentuknya? Tentu melalui CSR, tanggung jawab sosial perusahaan, dengan cara mengisi otak masyarakat. CSR, perusahaan-perusahaan itu harus diarahkan kepada pendidikan dan perbuatan nyata. Berupa penyelamatan lingkungan dan pelayanan kesehatan.

   Kedua jenis perbuatan nyata itu berhubungan dengan kedua jenis usaha tersebut. Perusahaan telepon seluler menyebabkan kerusakan lingkungan baik pada pembuatan handset maupun radiasi suara yang ditimbulkannya. Beberapa penelitian membuktikan telepon seluler penyebab gangguan kesehatan karena radiasi maupun karena kelengahan saat menggunakan telepon genggam bukan pada waktu dan tempat yang tepat.

  Dengan harapan, budaya banyak omong plus pendidikan dan karya nyata berupa peduli pada lingkungan dan kesehatan, akan membawa manfaat dan kelebihan pada masyarakat Indonesia ke depan.

Jakarta-batu, 17-18 nov 2010

‘Cumi-cumi’ dalam Pembuluh Darah

Senin, 08 November 2010

Pasien Cerdas, Dokter pun Rajin



Effendi Rasyid, 42 tahun, sibuk membuka beberapa situs kesehatan luar dan dalam negeri, sebelum memeriksakan diri atau keluarganya ke dokter. “Untuk bekal dan mengurangi rasa curiga terhadap dokter,” katanya. Karena itu, ketika berada di ruang praktek dokter, Effendi bisa leluasa menanyakan pengobatan terbaik. “Selama ini, yang saya temui, dokter yang saling mengerti.”

Internet memang telah mengubah pola hubungan dokter dan pasien. Dalam survei kesehatan yang diadakan Unit Riset dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dengan Konsultan Informasi IndoPacific Edelman, terungkap bahwa pasien sekarang lebih kritis dan memakan waktu lebih lama manakala bertemu dengan dokter. “Ini positif, sekaligus mengingatkan dokter agar lebih update terhadap penemuan pengobatan teranyar,” kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia, Prijo Sidipratomo, kepada Tempo, Rabu pekan lalu.

Menurut survei yang melibatkan lebih dari 300 dokter yang berpraktek tiga tahun lebih di klinik dan rumah sakit di Jakarta, Depok, Bogor, dan Tangerang, 85 persen dokter merasa pasiennya banyak bertanya. “Ini bisa membuat komunikasi antara pasien dan dokter semakin efektif," kata guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, Profesor Hasbullah Thabrany. Survei yang dilansir dua pekan lalu ini baru melibatkan dokter. Tahun depan, menurut Thabrany, pasien akan disertakan.

Terbukti, 79 persen dokter mengandalkan informasi dari Internet untuk mengimbangi kecerewetan pasien. “Kami tidak menyangka hasil itu cukup tinggi,” kata Prijo Sidipratomo. Pasalnya, asosiasi yang dipimpinnya baru melakukan sosialisasi agar para dokter menggunakan Internet sebagai sarana pencarian informasi.

Menurut Prijo, hasil survei itu menjadi bekal asosiasinya mengajukan usul agar pemerintah memperkuat jaringan dan memperbesar band with. “Dalam kondisi negara kepulauan semacam Indonesia, hal itu semakin diperlukan untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat,” katanya.

Meningkatnya penggunaan Internet di kalangan dokter, menurut Thabrany, terasa menggembirakan. Sebab, pada saat dia menjadi dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI dua tahun lalu, minat mahasiswa terhadap informasi kesehatan di Internet masih kecil. “Padahal sudah dikeluarkan biaya Rp 6 miliar setahun buat langganan jurnal ilmiah kedokteran,” katanya. Jikapun ada, mahasiswa lebih suka mengunduh informasi yang berbahasa Indonesia. Padahal, menurut dia, informasi terbaru kebanyakan berasal dari situs kedokteran yang berbahasa Inggris.

Survei yang dilaksanakan sepanjang enam bulan, sejak awal tahun ini, menurut Thabrany, sekaligus mengubah pola penerimaan informasi dokter. “Selama ini informasi obat baru, misalnya, hanya diterima dari medical representative atau detailer, yang kadang pula hanya menonjolkan produk perusahaannya,” katanya. Akibatnya, dokter sering tergiring pada informasi yang diberikan itu saat menangani pasien. “Nah, dengan peningkatan penggunaan Internet di kalangan dokter, semakin beragam pula informasi.”

Hanya, ada risiko konflik manakala si pasien mendapatkan informasi yang salah dari Internet tapi tetap ngotot bahwa dialah yang benar. Karena itu bekas Sekretaris Jenderal IDI itu berharap ada situs kesehatan yang bisa dipercaya dan akurat. “Untuk menghindari mispersepsi antara dokter dan pasien,” ujarnya.

Menurut Vice President IndoPacific Edelman, Mayang Schreiber, survei praktisi kesehatan ini merupakan kontribusi pada industri kesehatan untuk menanggapi berbagai permasalahan kesehatan mendasar di Indonesia. “Komunikasi kesehatan yang akurat dan terarah memainkan peranan penting dalam setiap usaha untuk meningkatkan pemahaman dan tingkat kesehatan di Indonesia,” katanya ketika mempublikasikan hasil survei ini di Jakarta.

Penggunaan informasi dari Internet oleh dokter dan pasien, menurut Profesor Thabrany, juga untuk meminimalkan malpraktek, baik dalam hal terapi maupun pemberian obat.

Ahmad Taufik

(dimuat di majalah Tempo edisi 14 Nov 2010)

Ustad Ali Assegaf : Gurunya Anak Yatim


Berkunjung ke rumahnya, terasa ada kerinduan. Maka saat seorang kerabat mengajak ke rumahnya, aku tak mampu menolak. Memang ada kepentingan, menulis soal Habib di Nusantara, tapi bukan hanya sebatas itu.

Menerabas pinggir kali di kawasan kumuh dari Tanah Abang menuju daerah Grogol dengan dua sepeda motor kami sempat bertanya-tanya rumahnya. Kawan yang mengetahui letak rumah itu sudah lupa. Pada rumah yang kami kira rumahnya, keluar sang tuan rumah dan bertanya tentang tempat tinggalnya. Kami keliru, karena disambut gonggongan anjing, saat mengetuk pagar rumah tersebut. “O…Ustad Ali…rumah yang paling pojok,”ujar sang punya rumah. Kami langsung cabut. Teman itu langsung mengenali rumahnya, “ya…ya..yang paling pojok ini.”

Rumah sederhana, terasa adem. Dari balik pagar kami melihat seorang tua tampak bungkuk, tak berpakaian, hanya celana pendek. Tampak keriput memenuhi tubuhnya. Saat kami bertanya dari balik pagar, dia buru-buru masuk dan mengenakan pakaian. “Masuk…masuk,” teriaknya.

Aku masih mengingat-ingat tentangnya. Dulu, saat aku masih duduk di sekolah dasar, aku termasuk “anak mesjid”. Sehari-hari jika tak main dengan kawan-kawan, tongkronganku di masjid Nurul Yaqin. Masjid yang berada di gang, deket rumah gedong. Enkong Ili (nama aslinya kalau gak salah Rohili), tetangga depan rumah yang selalu mengajakku ke masjid itu. Nah, sosok yang aku datangi ini, adalah ustad atau guru yang memberi pelajaran fiqih tiap Senin malam. Suaranya tidak menggelegar seperti para penceramah yang suka membakar massa. Tapi ilmunya bermanfaat dan terasa dengan kelembutan kata-katanya. Lebut, namun tegas dan tangkas menjawab pertanyaan hadirin masjid itu.

Nah, sosok inilah yang kini kudatangi. Kami cium tangan, beliau mencoba melepaskan tangannya. Masih ceria, beliau bercerita banyak, soal warisan buku-buku dari (ustad) Diya Shahab. “Ini lemari juga dari beliau,”katanya. Dulu buku-buku salah satu tokoh intelektual di kalangan jamaah (Alawiyin) itu, menurut Ustad Ali, penuh satu lemari. “Tiap yang datang kesini minta, dan tak mengembalikannya,” katanya.

Tampaknya, hal itu bukan persoalan baginya. Malah kami ditawari buku-buku. “Silakan ambil yang perlu nte Assegaf boleh ambil tiga atau dua buku, dan ente aljufri dua aja, ya,”katanya berseloroh. Buku-buku di dalam lemari itu banyak yang berbahasa Arab, ada juga bahasa Inggris, Belanda dan Indonesia. Temanku, seorang luilusan hadramaut, tahu penmtingnya buku-buku itu, segera mengubek-ngubek lemari yang berada di ruang tamu.

Tak puas dengan itu,temanku minta koleksi di temopat lain. Ustad Ali, yang menolak dipanggil Habib Ali. “Habib itu buat orang-orang yang alim aja,”katanya sederhana, mengajak kami ke kamar tidur. Dia membuka lebar-lebar lemarinya. Banyak foto-foto lama di lemarinya, aku minta beberapa. Di antara lipatan berkas-berkas, kami menemukan uang puluhan ribu rupiah. Saat kami berikan kepadanya dia sangat senang sekali.

Ustad Ali di kalangan kami adalah gudang ilmu, tapi tidak sombong dengan ilmu yang dimilikinya. Lelaki , kelahiran Solo, Jawa Tengah 25 Desember 1928 itu, sempat menjadi “bapaknya” anak-anak yatim. Beliau mengurusi anak-anak di rumah panti asuhan Daarul Aitam, Tenabang, Jakarta Pusat. Penulis Lintasan Sejarah 3 Mata Rantai ; Jamiat Kheir, AlArabitoh Al Alawiyah, Daarul Aitam yang bernama lengkap Ali Ahmad Assegaf ini alumni Daarul Aitam/Jamiat Kheir. Masuk panti asuhan Daarul Aitam yang didirikan Habib Abubakar bin Muhammad Alhabsyi, tahun 1932, belajar di Madrasah Jamiat Kheir tamat 1944. Lalu mengajar di Jamiat Kheir sejak 1944 sampai 1949.

Ustad Ali sempat mengajar di Madrahsah Saadatud-Daraen, Pasar Jumat Jakarta, guru di Solo, Lugatul Qur’an Malaysia dan kembali mengjar di jamiat Kheir tahun 1961-1980.

Tak banyak yang bisa kugali tentang dirinya, karena ingatan dan komunikasi yang kurang lancar akibat sakitnya. Ustad Ali menulis belasan buku dalam Bahasa Indonesia dan Arab, antara lain Perkawinan dalam islam yang dicetak di Singapura 1961, Al Wasoya (wasoya al-Itrali nabawiyah), Al_Insan Fil Qur’an, Al –Amsal fil Qur’an dan Lintasa sejarah Hidup Al-Habib Abubakar bin Muhammad bin Abdurahman Al-habsy, dan lain lain.

Pertemuan itu buatku, rasa kerinduan, pada sosok guru sederhana, dan membuat hati adem, terobati. (AT)

Kamis, 04 November 2010

Bantu SIGI SCTV Disiksa Sipir

Kebebasan pers bukan hanya milik jurnalis, tapi juga masyarakat termasuk tahanan atau narapidana. Proses pemerintahan yang baik (good governance) di dambakan semua pihak. Media adalah salah satu penyalur aspirasi masyarakat itu.

Tahanan atau narapidana dapat mengambil peran dalam proses pemerintahan yang baik dan kebebasan pers. Sayangnya, masih ada pihak-pihak yang terganggu jika proses pemerintahan yang baik dan kebebasan pers terwujud di Indonesia. Lahan mereka rasanya terganggu.

Buktinya yang terjadi terhadap dua narapidana di Rumah Tahanan Salemba, Jakarta Pusat. Siang tadi, penulis mendapat info tentang dua narapidana yang disiksa sipir petugas rumah tahanan Salemba. Info ini diteruskan ke Koran Tempo.

Inilah beritanya :

Dua napi Rumah Tahanan Salemba yang menjadi informan program investigasi SIGI SCTV berjudul "Bisnis Seks Dibalik Jeruji" disiksa dan diasingkan tanpa sebab oleh sipir. Keduanya, Herry Januar dan Herry Kiswanto, yang merupakan tahanan kasus narkoba membawa kamera tersembunyi yang mengungkap adanya bisnis haram dalam rutan.

"Setelah penayangan SIGI dengan tema itu pada Rabu (27/10) lalu, sipir rutan
melakukan razia kepada para napi. Sehingga identitas keduanya terungkap," tutur anggota Tim investigasi SIGI SCTV, Malik, Kamis (4/11) malam. Setelah ketahuan, tambah dia, keduanya disiksa dan diasingkan ke ruangan khusus pada Kamis (28/10) silam.

Akibat siksaan itu, kata Malik, Herry Kiswanto sampai dilarikan ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Hingga kini belum ada kabar yang pasti mengenai keadaannya. "Saat saya mau mengunjungi dia, saya tidak bisa masuk untuk melihat keadaannya," kata Malik.

Terungkapnya identitas dua napi informan ini, menurut dia, bisa jadi karena pengecekan yang dilakukan sipir pada data kunjungan terhadap keduanya. Dari info yang Malik dapatkan, dua informan itu disiksa karena tidak mau membuka identitas mereka.

Malik yakin, penyiksaan ini merupakan intruksi Menteri Hukum dan HAM, Patrialis Akbar. Apalagi, dalam tayangan itu, diperlihatkan secara visual bagaimana suburnya bisnis esek esek di dalam sel. "Saya rasa dia amat terganggu posisinya karena tayangan ini," terangnya.

Herry Kiswanto merupakan tahanan kasus narkoba jenis ganja yang baru satu tahun

menghuni rutan tersebut. Sementara Herry Januar adalah tahanan kasus narkoba jenis sabu yang baru sembilan bulan menjalani hukuman. "Keduanya menghuni kamar Blok S."
Yang ditakuti Malik, keduanya bisa saja dibunuh dengan skenario bunuh diri yang diatur para petugas sipir, seperti kasus yang banyak terjadi...

HERU TRIYONO

Selasa, 02 November 2010

Misteri Mbah Marijan (2)


(sambungan....)
Pagi hari saat bangun tidur di rumah menyetel televisi, dikabarkan Mbah Marijan, ditemukan tewas. Ada rasa tak percaya, apalagi ingat kata temenku si penjaga Merapi itu, sakti. Walhasil, kabar itu, bener adanya setelah otopsi di rumah sakit. Mbah Marijan tewas karena sedang sujud di dalam masjid samping rumahnya. Terlintas Mbah Marijan yang tewas taat pada tuhan, sampai akhir hayatnya masih sujud, dan juga memegang teguh amanah Sultan HB IX, menjaga Merapi. Bukankah perintah umaro, juga wujud perintah Tuhan. Kematian saat sujud itu, menghapus hujatan para salafi Wahabi selama ini yang menghukum, Mbah Marijan, musyrik.

Terlintas dalam pikiran pula, Mbah Marrijan sujud, bukan karena solat. Tapi dia sujud pada alam, Merapi, yang sedang mengamuk. Marijan pasrah, pada sang merapi, alam itu pula yang merengut nyawanya. Belakangan mendapat informasi, Mbah Marijan ditemukan dalam posisi jongkok, dalam kamar mandi, untuk mencelupkan diri dalam dinginnya air kolam mandi, sehingga bentuknya seperti sujud.

Seorang teman dengan kasar mengatakan, Mbah Marijan itu mati nungging. Menurutnya, Tuhan atau agama tak butuh orang taat tapi bodoh,  seperti Marijan, yang tak mau menyelamatkan diri. Dia membandingkan bagaimana ribuan orang di Pulau Mentawai yang mencoba menyelamatkan diri dari amukan tsunami. Memang temanku itu seorang yang keluarganya pernah menjadi korban saat tsunami menggerus Aceh.

Kita tak bisa memvonis, Mbah Marijan yang tewas di rumahnya sendiri. Di Gunung Merapi yang ditungguinya, karena titah Sultan terdahulu. Biarlah meninggalnya Mbah Marijan menjadi misteri antara Tuhan, alam dan Marijan. Kita hanya bisa mengambil pelajaran (ibrah) dari itu semua, dengan berbagai segi dan pandangan sesuai ilmu dan pengetahuan yang kita miliki. Bagi saya Mbah marijan adalah Pahlawan Alam. (AT)

Sepotong Habib di Nusantara


Indonesia dikenal sebagai tempat hijrah kedua setelah Hadramaut, oleh keturunan Nabi Muhammad. Beberapa orang di antaranya menjadi habib terkenal.

Mencari kehidupan yang lebih baik adalah fitrah manusia. Juga yang terjadi pada keturunan pasangan Fatimah Az-Zahra--anak perempuan Nabi Muhammad SAW--dan Ali bin Abi Thalib. Hussein, cucu Rasulullah, dibantai secara keji pada saat Yazid bin Muawiyah berkuasa, di Karbala, Irak. Keturunan setelah itu juga tak lepas dari ancaman dinasti yang berkuasa. Sampai pada masa kekhalifahan Bani Abbas, yang berkuasa sejak abad ke-8 sampai 13 Masehi.

Ahmad bin Isa, keturunan ke-10 dari pohon keluarga Nabi Muhammad, hijrah dari Basra, Irak, ke Hadramaut, jazirah selatan Arab. Hadramaut dipilih karena tanahnya subur. Ahmad wafat di Hasisah pada 345 Hijriyah. Dua generasi keturunan setelah Ahmad yang beranak-pinak di Hadramaut dinamakan Alawiyin--dari Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa.

Di Hadramaut, keturunan Nabi Muhammad itu juga tidak menjalani kehidupan mudah. Penduduk asli masih mendahulukan kesukuan dan membenci kaum Alawiyin. Kaum pindahan itu lalu terpojok tinggal di tempat-tempat tandus. Mereka mendirikan pesantren (rubat), perpustakaan, masjid, dan majelis taklim. Namun, agar mengikis kebencian penduduk lokal, Muhammad Faih al-Muqaddam, keturunan Ahmad bin Isa, memilih mazhab yang lebih bisa diterima, Syafii. Sepeninggal Muhammad Faqih al-Muqaddam, yang wafat pada 653 Hijriah, keturunannya menyebar melintasi samudra ke Afrika Timur, India, Malaysia, Thailand (Siam), Indonesia, Tiongkok (Cina), Filipina, dan sekitarnya.

Menurut Ali Yahya, seorang peneliti habib, keturunan Ali bin Abi Thalib itu yang menyebar ke seantero kawasan Asia Tenggara, selalu berkaitan dengan Indonesia. “Habib yang berada di Malaysia, Singapura, Kamboja, Thailand Selatan, selalu ada kaitannya dengan Indonesia,” katanya kepada Tempo. Misalnya orang tua, kakek, atau dia dulu lahir di Indonesia. “Indonesia ini menjadi shelter habib di timur jauh yang keluar dari Hadramaut. Sebagian referensi, Indonesia disebut Al-Mahjar at-Tsani, tempat hijrah yang kedua,” kata wakil Pemimpin Redaksi Majalah Alkisah ini. (di ambil dari Majalah TEMPO edisi Karnaval Habib, 13 September 2010).

Misteri Mbah Marijan


Pekan lalu, lewat pukul 12 malam, kami--sekitar lima orang-- berkumpul di depan televisi. Metro TV lengkap dengan gambar mempertontonkan penemuan mayat-mayat tersapu gelombang panas Gunung Merapi. Salah satu korban adalah wartawan Viva News, yang dikenal dengan nama panggilan Wawan. Pria lulusan Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM), sebagaimana pengakuan teman-teman se kampusnya di kantor kami, meninggal. Identitas lengkap diperlihatkan tim penyelamat yang menemukan mayat itu dan dipertontonkan di televisi.
Dalam hal ini, TV One yang kami stel bergantian, terlambat sekali mendapat berita itu. Padahal tadinya kami berharap TV One lebih terdepan, karena yang meninggal adalah salah satu jurnalis dalam grup media yang dibiayai pengusaha Aburizal Bakrie itu. Nyatanya, tidak. TV terdepan soal terorisme, ya. Karena bencana alam, kan, tidak bisa direkayasa, atau diatur sesuai keinginan para pihak.
Wawan, meninggal, tersapu awan panas, kabarnya, karena dia kembali ke rumah Mbah Marijan dan seorang dokter, dari tempat aman karena akan menjemput Marijan yang kabarnya mau turun. Masih kabarnya lagi (karena tak bisa dikonfirmasi), Wawan menunggu, Marijan yang hendak solat dulu. Lalu LEP! Awan sepanas 600 derajat celsius memakan Wawan dan orang-orang yang ada di sekitar itu.
Seorang teman, yang pernah kuliah di Yogya, yakin Marijan selamat. "Aku yakin,"katanya dengan logat Jawa Timuran campuran Mataraman. Bener saja, dalam waktu 15 menit, Metro TV melaporkan, Marijan ditemukan selamat dalam keadaan lemas oleh seorang Kolonel Angkatan Laut. "Kan, aku bilang Mbah Marijan selamat, dia itu sakti,"katanya. (...bersambung)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...