Pasien sering tak puas dengan perawatan kecantikan yang pernah dijalani. Lalu mereka akan mencoba di tempat dan dengan cara lain, yang akhirnya celaka.
***
Semulus pantat bayi. Itulah yang ada dalam pikiran Ririn Darmawan, 27 tahun, saat membayangkan kulit mukanya. Kenyal, segar, mulus, berwarna putih kemerah-merahan. “Lucu dan cantik,” katanya.
Tuntutan selalu tampil cantik memang sesuai dengan profesinya sebagai pramugari sebuah penerbangan swasta di Jakarta. Ririn pun berburu informasi untuk mewujudkan keinginannya. Beberapa klinik kecantikan didatangi. Dokter-dokter ahli bidang estetik juga ditemui untuk konsultasi. “Kulitku sensitif. Pernah sekali mencoba kosmetik yang ditawarkan, malah bentol-bentol dan gatal. Padahal harganya tak murah,” katanya.
Ririn mengerti benar sifat wajahnya yang seperti kadar minyak dengan derajat kelembapan yang tinggi. Akhirnya, Ririn memutuskan berlabuh pada dokter ahli di sebuah klinik kecantikan. Klinik itu menyediakan, salah satunya, layanan perawatan wajah yang membuat kulit muka berwarna merah muda dan segar (blossom). Sejak itu, dia pun menjalani perawatan, yang diawali konsultasi dengan dokter di klinik tersebut.
Ririn mendapat beragam salep untuk dioleskan di wajahnya. Tidak hanya satu, beberapa salep dioleskan hingga empat lapis. Juga serum vitamin. Tahap pertama dari pemakaian salep dan serum itu membuat kulit-kulit mati. Komedo dan vlek-vlek yang melekat terkelupas dan digantikan kulit baru. Setiap pagi dan malam, Ririn menjalani ritual itu, mengoleskan salep hingga empat lapis.
Tahap selanjutnya adalah proses pelicinan kulit wajah. Masih dengan salep juga, sesekali dibantu dengan laser kecantikan. Pada titik ini, Ririn bak vampir, tak boleh tersentuh sengatan matahari meski sebentar saja. Jangankan sinar matahari langsung, hawa panas saja jadi pantangan. “Panas sedikit, muka seperti udang rebus,” katanya. Selama sebulan di tahap ini, setiap kali sampai kantor, perempuan langsing itu langsung bergegas ke ruangan berpenyejuk udara.
Selama menjalani perawatan, paling lama sebulan sekali Ririn harus memeriksakan perkembangan wajahnya ke dokter, mengontrol agar tidak ada gangguan di kulit mukanya. “Jangan ada yang aneh-aneh seperti jerawat kecil,” katanya.
Sepanjang proses perbaikan wajah, Ririn benar-benar dimanjakan laiknya bayi. Wajahnya diolesi salep-salep, mendapat vitamin, dibersihkan dengan laser, juga mendapat obat-obatan. Jelas itu semua tidak murah. “Sebulan bisa habis Rp 5 juta,” katanya. Untuk penggunaan laser saja, misalnya, sekali pemakaian menghabiskan Rp 2 juta. Belum perawatan lainnya.
Tapi semua usaha dan biaya itu impas dengan hasil yang diperoleh. Wajah Ririn sungguh menggoda: segar, kenyal, putih kemerahan, sesuai dengan keinginannya--ya, seperti pantat bayi. Namun, meski wajah sudah menjadi seperti harapannya, Ririn tak otomatis menghentikan perawatan. Dia tetap menjaganya agar tidak rusak. Sekali terlambat melakukan perawatan rutin, Ririn merasa ada yang kurang. Ia pun gelisah. “Mungkin sugesti saja,” katanya.
Ririn lebih beruntung, “ketakutan” kembali berwajah bermasalah tidak berlebihan. Amelia, 34 tahun, figuran sinetron televisi, karena tuntutan profesi, juga memburu kesempurnaan “pantat bayi”. Sayang, bukan mendapat kesempurnaan, Amelia malah celaka.
Dia tidak hanya memermak wajah, tapi juga payudara dan bokong. Namun, karena sudah kelebihan dosis, bagian vital tubuhnya itu awalnya terasa nyeri. Setelah diperiksa di rumah sakit, ternyata infeksi. Penyebabnya adalah jarum suntik dan obat-obatan kecantikan yang berupa kolagen. Padahal tidak sedikit uang yang dikeluarkan Amelia untuk perawatannya itu, lebih dari Rp 100 juta.
Kesalahan pada Amelia bukan sepenuhnya tanggung jawab dokter. Sebab, perempuan yang membintangi beberapa sinetron itulah yang memaksakan kehendak. Di klinik-klinik kecantikan, memang banyak pasien melakukan hal seperti itu. Misalnya, suntikan botoks baru bisa dilakukan empat bulan sekali, tapi selalu ada pasien yang baru dua bulan--bahkan sebulan--disuntik sudah datang lagi untuk minta suntikan itu.
Ada lagi pasien yang kecanduan perawatan, tidak pernah puas. “Sudah kurus masih ingin lebih kurus, sudah cantik ingin lebih cantik. Hidung sudah serasi dengan wajah, tapi tetap ingin diperbaiki,” kata dokter kecantikan Ira Indriasari.
Kecanduan semacam itu, bila terjadi pada selebritas, pasti menjadi berita panas media. Bintang The Hills, Heidi Montag, misalnya, menurut The People edisi terbaru, tengah kecanduan bedah plastik. Bukan kecanduan biasa, istri Spencer Pratt yang baru berusia 23 tahun itu sudah 10 kali menjalani prosedur operasi plastik dalam sehari. Heidi mengungkapkan telah memermak beberapa bagian tubuhnya, dan dia tidak akan berhenti di situ saja. Sebab, dia merasa masih memerlukan perbaikan di bagian-bagian tubuhnya yang lain.
Menghadapi pasien seperti itu, menurut Ira, dokter harus berani bernegosiasi. “Kami ini dokter, profesional, bukan tukang,” ujarnya. Jika pasien tetap ngotot, Ira mempersiapkan lembar pernyataan tertulis (inform consent) bahwa risiko ditanggung pasien--dokter tak bertanggung jawab. Menurut Ira, pasien yang kecanduan itu bukan diobati mukanya atau tubuhnya, melainkan jiwanya. “Kami harus bekerja sama dengan psikiater untuk itu,” ujarnya.
Pasien kecanduan perawatan kecantikan juga terjadi di Klinik Miracle, Surabaya. Menurut Pipiet dari bagian hubungan masyarakat klinik tersebut, perawatan kesehatan kulit seseorang normalnya dilakukan dua minggu sekali. Namun tak jarang pasien datang setiap hari. "Hari ini mereka mengeluhkan satu jerawat dan minta diinjeksi. Hari berikutnya orang itu datang kembali untuk meminta injeksi lagi pada jerawat yang sama,” katanya.
Menurut dokter kecantikan di klinik Miracle, Ratna Yuliarviana, pasien yang panik harus diberi dukungan dan solusi atas masalah yang dihadapinya. Satu per satu permasalahan yang dihadapi pasien harus dijelaskan secara terperinci. Tujuannya agar mengerti kondisinya dan memahami saran dokter.
Biasanya, pasien yang panik diutamakan mendapat terapi hanya agar yang bersangkutan tidak menjadi terlalu agresif. "Setelah pasien mulai tenang dan stabil, kami treatment sesuai dengan problemnya, misalnya botoks, filler, atau laser, tergantung kebutuhannya," ujarnya.
Dengan sabar menjelaskan kondisi kulit dan pilihan tindakan, itulah kuncinya menurut dokter spesialis kecantikan Klinik Lilly Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, Inne Arline Diana, dalam menghadapi pasien yang panik. Pasien seperti itu umumnya perempuan yang resah karena mukanya dianggap lebih keriput dibanding suaminya, atau merasa wajahnya kendur. “Wajar sih, semua wanita pasti ingin cantik. Lebih cantik, hidup menjadi lebih bersemangat," ujarnya.
Memahami kondisi psikologis pasien, menurut dokter Inne, menjadi penting dalam hal seperti itu. Sebab, tentu saja, wajah tak bisa seperti pantat bayi selamanya.
Ahmad Taufik, Harun Mahbub (Jakarta), Anwar Siswadi (Bandung), Dini Mawuntyas (Surabaya)
0 komentar:
Poskan Komentar