Minggu, 30 Agustus 2009

Melawan dengan Senjata Sementara


Penjualan vaksin flu meningkat sejak flu babi mewabah. Vaksin flu babi sendiri sampai kini belum selesai dibuat.


Lia Hidayah, karyawan swasta di Jakarta, bimbang. Perusahaannya menugasi perempuan 25 tahun ini ke Singapura. Biasanya, perempuan yang punya hobi belanja ini tak pernah berpikir dua kali bila ada tawaran ke negeri jiran itu--sekalian berbelanja. “Aku ngeri gara-gara baca berita ratusan warga Singapura mengidap flu babi,” katanya.

Toh, Lia akhirnya memilih berangkat. Namun, sebelumnya, dia bersiap diri dengan disuntik vaksin flu. Lia mendatangi klinik tak jauh dari tempatnya bekerja di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. Sejak flu babi (swine flu) menyebar dari Meksiko, Maret lalu, ke Benua Amerika, lalu melebar ke belahan dunia lain, termasuk Indonesia, marak pula rumah sakit dan klinik menyediakan vaksin flu jenis A. Flu babi masuk jenis flu ini.

Carepoint Clinic Medic One, salah satu tempat penyedia vaksin flu merek Fluarix, produk pabrik farmasi Glaxo Smith Kline, Belgia, mencatat permintaan dalam tiga bulan terakhir terus meningkat. Vaksin itu diyakini dapat mencegah orang tertular flu babi. Konsumennya kebanyakan orang yang akan bepergian ke luar negeri.

“Setelah marak wabah flu babi, klinik rata-rata memberikan 20-30 vaksin per bulan. Dulu jarang,” ujar Surya, petugas klinik itu. Klinik tersebut juga melayani pemberian vaksin bagi karyawan perusahaan. Tercatat 20 perusahaan yang menjadi anggota klinik itu. “Sekali datang bisa 80 vaksin,” katanya.

Isnaeni Fajri dari bagian pimpinan bisnis vaksin Glaxo Smith Kline mengakui ada lonjakan permintaan vaksin flu. Sebelum flu babi mewabah, 1.500 vaksin diedarkan untuk seluruh Indonesia, sedangkan kini 2.000 vaksin dihabiskan dalam sebulan. “Kesadaran masyarakat kita masih rendah. Kalau ada yang meninggal, baru ramai,” katanya.

Dokter Harman Nasution, yang juga berpraktek di klinik itu, menjamin kliniknya memberikan vaksin secara benar. Vaksin tidak akan diberikan kepada orang yang demam. Sebab, demam itu berindikasi infeksi, bisa karena virus, alergi, atau jamur. “Kalau dipaksakan, seperti menyiram api dengan bensin, tambah berbahaya,” katanya.

Informasi masa kerja vaksin pun disebutkan secara gamblang. Fluarix seperti vaksin lainnya secara umum bekerja setelah dua minggu disuntikkan, tapi bisa bertahan selama setahun. Menurut Isnaeni, vaksin Fluarix bekerja secara tidak langsung. “Sebab, vaksin ini bukan vaksin khusus untuk flu babi, melainkan hanya untuk strain virus yang mirip,” ujarnya. Vaksin Fluarix ini berisi virus yang sudah dimatikan untuk membentuk antibodi. Selain Fluarix, di Indonesia beredar vaksin sejenis dari produsen farmasi berbeda, seperti Vaxigrip, Agrippal, dan Influtac.

Strain atau turunan virus itu mengikuti rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO). Untuk tahun ini, menurut rekomendasi WHO, di belahan dunia utara dan selatan ada tiga strain virus, yakni jenis A H1N1, A H1N2, dan jenis B. “Jadi tiap tahun vaksin ini berganti fungsi sesuai dengan rekomendasi strain tahunan,” kata Isnaeni.

Ketua Tim Dokter Penyakit Khusus dan Isolasi Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, dokter Hadi Yusuf, juga memastikan vaksin yang ramai diminati masyarakat kini bukanlah vaksin khusus flu babi. “Itu vaksin tahunan. Di Amerika Serikat saja mungkin vaksin buat flu babi itu baru ada pada Oktober nanti,” katanya. Vaksin flu tidak serta-merta ditemukan karena strain virus flu berbeda-beda, tergantung tempat dan waktu. Flu tahun lalu di suatu tempat berbeda strain-nya dengan flu tahun ini di tempat yang sama, lebih-lebih di tempat lain. “Apalagi flu babi ini belum diketahui jelas strain virusnya,” ujarnya.

Meskipun vaksin yang ada saat ini bukan khusus untuk flu babi, zat di dalamnya sudah dapat digunakan buat melindungi diri dari serangan flu tersebut. Menurut Hadi, vaksin yang mengandung virus, bakteri, atau organisme lain yang telah mati atau dilemahkan itu disuntikkan ke dalam tubuh. Lalu vaksin merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi melawan organisme tersebut. Saat organisme jahat kembali menyerang tubuh, antibodi dari sistem kekebalan akan balik menyerang dan menghentikan infeksi.

Vaksin berisi kuman yang dimatikan itu, bila diberikan kepada orang sehat, akan memicu respons kekebalan tubuh. Vaksin memaksa tubuh berpikir bahwa tubuh tengah diserang organisme spesifik, sehingga sistem kekebalan bekerja untuk memusnahkan penyerbu dan mencegahnya menginfeksi lagi. Kekebalan yang dibangun vaksin mirip kekebalan yang diperoleh dari infeksi alami.

Agar kekebalan penuh diperoleh, mungkin diperlukan beberapa dosis vaksin. Beberapa orang bisa saja gagal mendapatkan pertahanan penuh setelah diinjeksi pertama kali tapi berhasil pada dosis lanjutan. Kekebalan tubuh juga mungkin berkurang dengan berjalannya waktu, sehingga perlu dosis vaksin tambahan untuk menambah kekebalan.

Influenza atau sering disebut flu adalah sejenis virus yang merupakan paket protein dan DNA yang tidak memiliki cukup kemampuan untuk bereproduksi sendiri. Virus ini perlu menginfeksi sebuah sel, lalu menggandakan diri. Virus berkembang biak sehingga ada begitu banyak salinannya tumpah menyebar ke sel-sel yang masih sehat.

Virus flu dari babi (H1N1), sama dengan virus flu dari burung (H5N1), tergolong virus influenza tipe A. Manusia, kuda, anjing laut, dan paus juga bisa terinfeksi virus flu tipe itu. Saat ini ada tiga subtipe yang paling banyak bersirkulasi dalam tubuh manusia, termasuk H1N1. Virus influenza tipe A dan B (hanya bersirkulasi di antara manusia) dikarakterkan ke dalam varian genetik yang disebut strain atau turunan. Turunan baru terus tumbuh secara konstan menggantikan turunan-turunan lama.

Ketika tubuh sudah membangun resistensi terhadap salah satu turunan, turunan yang lebih baru bisa menyusup mengganggu kekebalan tubuh. Bila hal ini terjadi, bermunculanlah insiden penyakit yang cukup tinggi di sebuah area dan menyebar ke wilayah lain, seperti yang terjadi kini.

Senin pekan lalu, WHO mencatat 94.512 kasus flu babi di sejumlah negara, dan 429 penderita di antaranya meninggal. Di Indonesia terdeteksi 112 kasus. Dua pasien meninggal di Padang dan Denpasar.

Karena flu babi sangat cepat menyebar, dan perpindahan orang antarnegara begitu mudah, menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, untuk menangkalnya, pemerintah berkonsentrasi menjaga pintu-pintu masuk internasional, yakni pelabuhan udara dan laut serta lintas batas darat. Caranya: dilakukan pemasangan pemindai panas tubuh, pengamatan oleh petugas, dan pelaporan. Selain itu, Departemen Kesehatan sudah mempersiapkan logistik, obat Tamiflu, dan lebih dari 100 rumah sakit untuk merawat pasien flu ini. “Kami juga sudah merancang metode pemantauan. Semua rumah sakit dan puskesmas harus memberikan data influenza-like illness (penyakit mirip influenza) setiap minggu ke Jakarta,” ujar Tjandra.

Ahmad Taufik, Harun Mahbub

---

BOKS

Gejala dan Pencegahan

Flu babi adalah penyakit influenza yang disebabkan oleh virus influenza A subtipe H1N1. Virus ini ditularkan melalui binatang, terutama babi, dan dapat menular antarmanusia.

Gejala penderitanya mirip influenza dengan gejala klinis seperti demam, batuk, pilek, lesu, letih, nyeri tenggorokan, napas cepat, atau sesak napas, disertai mual, muntah, dan diare. Kematian akibat flu babi terjadi antara lain karena gangguan paru atau pneumonia.

Masa inkubasinya 3-5 hari. Cara penularan bisa melalui udara atau kontak dengan penderita. Menurut dokter Hadi Yusuf, flu babi dapat dicegah dengan pola hidup bersih dan sehat, misalnya cuci tangan sebelum makan, setelah buang air, dan sesudah kontak dengan binatang. “Juga istirahat yang cukup dan makan makanan yang cukup gizi,” ujarnya.
(dimuat Majalah Tempo, edisi 20 Juli 2009)

Waspada Demi Si Buah Hati


Leukemia paling banyak menyerang anak. Dalam Bulan Kesadaran Leukemia, September ini, orang tua diajak lebih mengenal penyakit yang belum diketahui penyebabnya dan gejalanya pun tak terlalu kentara ini.


Wandi sering terserang demam disertai nyeri di persendian tangan dan kaki. Pada awalnya, dokter hanya mendiagnosis anak lelaki empat tahun ini terkena flu. Setelah serangan demam keempat, orang tuanya melihat Wandi makin pucat. Buru-buru sang ibu membawa buah hatinya ke rumah sakit.

Setelah dilakukan periksa darah menyeluruh, diketahui bahwa limfosit atau sel darah putih Wandi sangat tinggi. Sedangkan trombosit atau keping darah yang menggumpalkan darah dan zat besi yang mengandung oksigen dalam sel darah merah (hemoglobin) rendah. Wandi divonis dokter menderita leukemia limfoblastik akut.

Leukemia limfoblastik akut adalah penyakit fatal, karena sel-sel yang dalam keadaan normal berkembang menjadi limfosit justru berubah menjadi ganas dan segera menggantikan sel-sel normal di dalam sumsum tulang. “Pusat kejadian leukemia itu di sumsum tulang,” ujar Edi Setiawan Tehuteru, dokter spesialis anak di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta.

Sel darah putih yang ganas itu akan memperbanyak diri tak terkendali menjadi sel tidak normal dan tidak berfungsi. Sel-sel itu mendesak pertumbuhan sel darah putih normal maupun sel darah merah dan keping darah.

Menurut dokter yang pernah mendapat kursus leukemia di Fakultas Kedokteran Universiteit of Amsterdam, Belanda itu, menurunnya sel darah putih menyebabkan anak mudah terkena infeksi. Sedangkan rendahnya sel darah merah menyebabkan anak pucat dan lemah. Adapun berkurangnya keping darah membuat anak mudah mengalami perdarahan yang sulit berhenti. Selain di permukaan tubuh, perdarahan bisa terjadi di saluran pencernaan, otak, ataupun organ tubuh lain, dan mengakibatkan kematian. Sel ganas bisa menyebar ke hati, limfa, kelenjar getah bening, gusi, otak, dan tulang.

Leukemia limfoblastik ini paling banyak diderita anak-anak. Penyakit ini menempati urutan teratas (30-40 persen) jenis kanker yang paling banyak menimpa anak. Sebanyak 130 dari satu juta anak di dunia menderita kanker ini. Biasanya menyerang anak-anak di bawah 15 tahun, paling sering terjadi pada usia tiga sampai lima tahun, dan ada juga yang menyerang bayi.

Di Rumah Sakit Kanker Dharmais, peningkatan penderita leukemia anak cukup tinggi, dari 6 pasien pada 2007 menjadi 16 anak pada 2008. “Pasien leukemia anak-anak memang paling banyak yang dirawat di sini,” ujar Edi.

Gejala klinis khas yang mudah dikenali adalah pucat, panas, dan adanya perdarahan. Menurut Edi, orang tua perlu mewaspadai jika anak sering lesu dan lelah disertai pucat, demam yang tak jelas penyebabnya, perdarahan abnormal--seperti mimisan--bercak-bercak biru di kulit, serta rewel karena merasa nyeri pada tulang, dan perut teraba keras atau membengkak. Kadang-kadang ditemukan benjolan pada kulit, pembengkakan gusi, kelumpuhan otot wajah atau tungkai tanpa sebab jelas.

Pengobatan yang bisa dilakukan untuk leukemia di Indonesia adalah kemoterapi. “Lebih dini diketahui ada leukemia pada anak, lebih mungkin disembuhkan,” ujar Edi. Berdasarkan protokol pengobatan leukemia pada anak, minimal seorang anak menjalani kemoterapi seminggu sekali, selama dua tahun, tanpa henti. “Jangka waktu dua tahun tak bisa ditawar,” ujar Edi sambil memperlihatkan jadwal kemoterapi selama dua tahun pada Tempo, Rabu pekan lalu.

Kemoterapi terdiri dari beberapa fase: tahap induksi, profiaksis, intensifikasi, dan pemeliharaan. Dalam tahap induksi, yang merupakan masa terberat, terjadi tindakan mengebom sel kanker dengan berbagai jenis obat selama enam pekan. Obat-obatan yang diberikan pada tahap ini sangat keras hingga mempengaruhi sel-sel normal dan menimbulkan efek samping seperti rambut rontok, daya tahan tubuh menurun, mudah terinfeksi, dan diare.

Setelah lewat tahap induksi, pengobatan selanjutnya adalah mengejar sel kanker yang beredar sampai ke otak. “Dua tahap awal ini masa yang paling kritis dan perlu konsistensi,” ujar Edi.

Agar lebih tidak menakutkan, kemoterapi pada anak tidak dilakukan sembari berbaring. Si anak bisa sambil berkegiatan, seperti menggambar. Kamar perawatannya juga diberi dekorasi yang sesuai seperti dengan memasang gambar tokoh-tokoh kartun. ”Sambil diterapi bisa bermain dan belajar. Konsep ini dirancang dokter Edi,” kata Erwin Fauzi, koordinator relawan anak-anak penderita kanker Rumah Sakit Dharmais, “Pita Kuning” (baca: Bangsal Ceria Penyandang Kanker, majalah Tempo edisi 17 Agustus 2008).

Menurut Edi, dukungan keluarga dan masyarakat pada penyandang leukemia sangat menunjang keberhasilan pengobatan. “Karena biaya pengobatan ini cukup besar, tak semua orang mampu,” ujarnya.

Dokter Edi berharap dalam Bulan Peduli Leukemia pada September ini, perhatian publik bisa fokus pada pengobatan untuk anak-anak. Sejumlah kegiatan akan diadakan relawan Peta Kuning di Rumah Sakit Dharmais.

Selain kemoterapi, pengobatan leukemia bisa dilakukan dengan transplantasi sumsum tulang. Transplantasi ini dengan cara mencangkok sel induk yang diambil dari sumsum tulang atau sel darah tali pusat bayi baru lahir. Namun di Indonesia model pengobatan ini belum digunakan.

Karena penyebab leukemia juga belum jelas, satu-satunya cara menghadapinya adalah waspada dan siaga.


Infografik
Kanker pada Anak

Leukemia menempati urutan teratas dalam daftar penderita kanker anak. Selain itu, ada jenis kanker lain yang biasa diderita anak:

Kanker otak:

Biasanya terjadi pada anak yang sudah lebih besar. Tumor pada otak dapat mengganggu fungsi dan merusak struktur susunan saraf pusat, karena terletak dalam rongga yang terbatas (rongga tengkorak). Gejala tumor otak yang harus diwaspadai adalah sakit kepala yang makin lama makin berat, disertai mual sampai muntah yang menyemprot akibat tekanan dari dalam kepala yang meningkat. Daya penglihatan berkurang serta penurunan kesadaran, bahkan bisa terjadi perubahan perilaku, misalnya marah-marah dan mengamuk. Bahkan, jika sudah stadium berat, bisa menimbulkan kelumpuhan dan kejang.

Retinoblastoma (tumor mata):

Gejala yang perlu diwaspadai adalah adanya bercak putih di bagian tengah mata yang seolah bersinar bila kena cahaya--seperti mata kucing pada malam hari. Gejala lain, penglihatan terganggu, juling mendadak, dan bila telah lanjut, bola mata menonjol. Retinoblastoma menjadi salah satu penyebab kematian pada anak, apalagi jika orang tua tidak mewaspadai gejala awalnya. Bisa disembuhkan, meskipun kadang-kadang harus mengorbankan sebelah mata.

Limfoma maligna (kanker kelenjar getah bening):

Kadang-kadang, gejala limfoma maligna sulit terdeteksi. Salah satu gejala yang harus diwaspadai, bila terjadi pembengkakan progresif pada kelenjar getah bening di leher, ketiak, dan usus, tanpa disertai radang dan rasa nyeri. Bila timbul di kelenjar getah bening usus, dapat menyebabkan sumbatan pada usus dengan gejala sakit perut, muntah, tidak bisa buang air besar, dan demam. Bila tumbuh di daerah dada, dapat mendorong atau menekan saluran napas, sehingga penderita mengalami sesak napas dan muka membiru.

Neuroblastoma (kanker saraf):

Paling sering terjadi di dekat ginjal, daerah pinggang. Karena letaknya di dalam, deteksi dini kanker saraf ini sulit. Umumnya, pasien datang dalam keadaan agak lanjut. Selain di dekat ginjal, neuroblastoma dapat terjadi di daerah leher atau rongga dada, dan mata. Bila terdapat di daerah mata, dapat membuat bola mata menonjol, kelopak mata turun, dan pupil melebar. Bila terdapat di tulang belakang, dapat menekan saraf tulang belakang dan mengakibatkan kelumpuhan yang cepat. Tumor di daerah perut akan teraba bila sudah cukup besar. Penyebaran pada tulang dapat menyebabkan patah tulang tanpa sebab, tanpa nyeri, sehingga penderita pincang mendadak.

Rabdomiosarkoma (kanker kelenjar otot):

Pada anak biasanya menyerang daerah kepala, leher, kandung kemih, prostat (kelenjar kelamin pria), dan vagina. Gejala yang ditimbulkan tergantung letak kanker. Pada rongga mata, dapat menyebabkan mata menonjol, benjolan di mata. Di telinga, menyebabkan nyeri atau keluarnya darah dari lubang telinga. Di tenggorokan, menyebabkan sumbatan jalan napas, radang sinus (rongga-rongga di sekitar hidung), keluar darah dari hidung (mimisan) atau sulit menelan. Di saluran kemih, menyebabkan gangguan berkemih. Bila menyerang otot anggota gerak, akan menimbulkan pembengkakan.

Osteosarkoma (kanker tulang):

Khususnya menyerang anak yang agak lebih besar adalah kanker tulang primer, artinya timbul dari tulang, bukan dari tempat lain yang masuk ke tulang. Biasanya ditandai nyeri dan pembengkakan pada tulang. Kanker tulang dapat menyerang setiap bagian tulang, tetapi yang terbanyak ditemukan pada tungkai, lengan, dan pinggul. Kadang-kadang didahului benturan keras seperti jatuh.
***-/** (dimuat di Majalah Tempo edisi 31 Agustus 2009)

Kamis, 27 Agustus 2009

Yang Menolak Perintah Otak


Penyakit degeneratif saraf otak belum ada obatnya hingga kini. Bila sampai akut, sepanjang hidup tergantung orang lain.

***

Henry, 43 tahun, tak kuasa menahan geli. Melihat pertunjukan Srimulat di layar televisi, ia terkakak lebih keras daripada orang lain. Henry seolah-olah menyaksikan dirinya sendiri manakala seorang aktor memperlihatkan dagelan favorit Srimulat: ketidakkompakan antara keinginan dan tindakan. Tangan yang menggenggam sendok tiba-tiba bergerak ke “alamat” yang salah, dari mulut nyelonong ke mata.

“Saya jadi kayak (almarhum) Timbul. Baru akan menyuap, mulut sudah terkatup, he-he-he…,” katanya. Sudah delapan tahun Henry punya masalah dalam menyelaraskan niat atau pikiran di kepalanya dengan gerak anggota tubuhnya. Ia mengaku, akhir-akhir ini, ia sering berjalan terhuyung-huyung dan bicaranya melantur. “Jika orang enggak tahu, saya dipikir seorang pemabuk,” ujarnya seraya tertawa.

Ya, Henry, warga Kembangan, Jakarta Barat, adalah penderita spino cerebellar ataxia atau penyakit degeneratif saraf otak kecil--lebih dikenal dengan sebutan ataksia saja. “Ketika saya didiagnosis seperti itu, rasanya putus asa,” katanya.

Ataksia merupakan penyakit degeneratif yang belum ada obatnya. Dan hingga kini ilmu kedokteran modern belum dapat memperlambat gejalanya. Ataksia terjadi karena otak kecil atau cerebellum, salah satu bagian otak, mengecil volumenya, yang menyebabkan penderita akan kesulitan dalam mengontrol gerak tubuhnya. Gerakannya semakin lama semakin tak terkontrol, Dengan kata lain, perintah yang dikirimkan ke otak tidak bisa diproses dengan baik.

Seperti hemofilia (gangguan pembekuan darah) atau albino (kekurangan pigmen), gangguan fungsi otak ini antara lain disebabkan oleh faktor keturunan. “Ataksia karena keturunan umumnya diketahui pada usia 10 tahun pertama seorang anak,” ujar dokter spesialis saraf Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Abdulbar Hamid. Salah satu cara mengetes apakah seorang anak terkena gejala ataksia atau tidak adalah dengan mengetuk dengkulnya. “Jika diketuk tak ada reaksi, refleks, kemungkinan terkena ataksia,” ujarnya.

Cara lain adalah uji mata pada pasien anak. Ia disuruh menunjuk, lalu dokter atau perawat di depannya memegang boneka. Dalam jarak sekitar setengah meter itu, si anak yang matanya terfokus pada boneka disuruh berjalan mengelilingi sang boneka. Jika telunjuknya tak tepat mengenai boneka, diperkirakan ia terkena ataksia.

Ada berbagai jenis dan nama penyakit ini, dari Friedreich ataxia, athropy, sampai tipe spino cerebellar ataxia yang diberi nomor--terakhir sampai nomor 30. Ada yang berjalan limbung, ada juga yang kesulitan menggerakkan jari, tangan, lengan, dan mata. “Penderita juga akan kesulitan melafalkan kata-kata, pelo, sampai akhirnya tak bisa berbicara sama sekali,” kata dokter Abdulbar.

Masih banyak lagi tanda-tanda ataksia. Menurut alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu, penderita juga kesulitan menelan makanan dan tersedak saat minum air. “Bahkan, saat menelan, air liurnya sendiri keselek,” ujar Abdulbar. Semua gejala ini akan muncul perlahan tapi pasti; dan sesuai dengan kemampuan geraknya, si penderita harus duduk di kursi roda, dan akhirnya hanya bisa berbaring.

Selain oleh faktor keturunan, ataksia bisa disebabkan antara lain oleh tumor, gangguan metabolisme, mengkonsumsi alkohol berlebihan, kekurangan vitamin E, dan mengkonsumsi atau menghirup bahan copper (tembaga). Ataksia bisa menyerang berbagai kalangan usia, dari anak-anak sampai orang dewasa. “Pada umur 60-70 tahun, ataksia biasa menyerang lewat stroke atau hipertensi,” ujar Ketua Persatuan Dokter Emergensi Indonesia itu.

Akibat-akibat yang timbul karena ataksia itu nantinya merembet ke bagian organ tubuh lain dan menimbulkan kelainan jantung (jantung membesar), gangguan pembuluh darah, otot kaku (gangguan gerak), tulang melengkung (skoliosis), keganasan infeksi pada sistem paru-paru, dan sebagainya. “Pada tingkat lain, penderita mengalami depresi dan gangguan kejiwaan lain seperti ingin bunuh diri,” kata Abdulbar.

Di Inggris, tujuh persen warga Kerajaan Uncle Jack itu terimbas penyakit ini. “Di Indonesia tak ada data yang pasti. Saya yakin banyak jika melihat gejala yang ada dalam masyarakat. Sayangnya, penderita atau keluarga penderita kurang aware terhadap penyakit itu,” kata Abdulbar, yang juga pengurus Persatuan Dokter Spesialis Saraf Indonesia.

Dalam bulan kesadaran ataksia internasional, yang puncaknya jatuh pada Hari Ataksia Internasional, 25 September, sejumlah kegiatan diadakan di berbagai belahan dunia. Dari saling memberikan informasi perihal penyakit tersebut, mengadakan seminar, sampai mengorganisasi pasien untuk membantu pasien lainnya. “Seperti yang dilakukan Pepeng, yang menderita multiple sclerosis--penyakit yang menyerang sistem saraf pusat--dan mengorganisasi sesama penderita, saya berharap, begitu juga para penderita ataksia,” ujar dokter kelahiran Krukut, Jakarta, 63 tahun lalu itu.

Untuk mengobati pasien ataksia yang bukan karena faktor keturunan, dokter Abdulbar biasanya memberikan obat-obatan yang mendekati gejalanya. Misalnya, pada otot yang kaku, diberikan obat-obatan untuk melemaskan otot, atau obat-obatan untuk virus influenza A seperti amantadine. Pada gejala depresi atau masalah kejiwaan, diberikan obat seperti buspirone.

Tak mudah mendeteksi ataksia dalam tes yang dilakukan dokter saat diagnosis awal. Jika dari diagnosis diduga pasien terkena ataksia, dokter akan meminta tubuh pasien dipindai dengan magnetic resonance imaging (MRI), tes darah, dan wawancara. “Saya jelas menderita ataksia juga dari hasil MRI. Ada pengecilan pada otak bagian bawah,” ujar Henry.

Beruntung, setelah didiagnosis terkena ataksia, Henry mencari informasi dan berhubungan dengan sesama penderita di mancanegara. Ia ikut serta dalam grup Living with Ataxia. Dengan informasi yang banyak, dan tahu bahwa ia tak sendirian menderita penyakit ini, Henry merasa lebih tenang. “Ketenangan tampaknya memperlambat progres penyakit saya,” ujarnya.

(dimuat di Majalah TEMPO, edisi 24 Agustus 2009)

Senin, 10 Agustus 2009

Rendra, Domba dan Petai Cina

Bagi mantan aktivis mahasiswa Univeristas Islam Bandung, ingat WS Rendra ingat peringatan hari hak Asasi Manusia, 10 Desember, Rendra dan Yosrizal Manua, dua orang itu sering mengisi acara di ruang terbuka kampus di Jalan Taman Sari No.1 Bandung itu.

Harlan M.Fachra, mantan aktivis Forum Aktivis Mahasiswa Unisba (FAMU) lembaga pergerakan tak resmi di kampus itu, masih ingat pertama kali mengundang Rendra. Saat itu pada 1993, Rendra baru saja diperbolehkan tampil kembali oleh penguasa orde baru. Pertama kali muncul di Lapangan Kridosono Yogyakarta, para aktivis itu lalu meluncur ke Yogya melobi dan mengundang Rendra.

Rendra, oke saja, tak perlu dibayar dia hanya minta sepasang domba. “Jadi Rendra tampil kedua setelah lepas dari cekal, ya di Kampus Unisba,”kata Harlan, yang saat itu Ketua Pelaksana hari Hak Asasi Manusia FAMU.

Para aktivis itu bantingan untuk beli domba yang tidak murah Sejuta rupiah sepasang. Sedangkan untuk Yosrizal, bayarannya ayam, para mahsiswa itu mengambil belasan ayam dari kampung masing-masing di Priangan (Garut dan Tasikmalaya).

Seusai tampil membacakan puisi dan orasi, para aktivis mahasiswa Unisba, memberikan sepasang domba, yang diberi nama Sudomo dan Siska (saat itu, nama keduanya lagi ngetop) kepada Rendra. Para aktivis itu lalu mengantarkan sepasang domba ke Bengkel Teater di Citayam Depok. “Kami banfgga bisa mengundang orang besar seperti Rendra dan memberi semangat kepada kami, dengan imbalan hanya sepasang domba,”katanya.

Penerus Harlan di FAMU, Ade Jauhari punya kenangan yang hampir sama saat mengundang Rendra ke kampus Unisba. “Dia hanya minta domba dan pohon petai cina untuk ditanam di Citayam ini,”katanya. Ade datang dengan para aktivis mahasiswa dan seniman-seniman Bandung dari Gedung Indonesia Menggugat, semalam dan hadir mengantarkan Rendra ke liang lahat. “Rendra menginspirasi kami mencintai kemanusiaan dan alam,”ujar Ade. (A.T)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...