Sabtu, 21 November 2009

Jay A. Levy Dokter Penemu Virus HIV



Siang itu ruang auditorium Departemen Mata Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, lebih dari separo dipenuhi orang. Sebagian besar peneliti, dokter dan mahasiswa kedokteran. Mereka semua ingin mendengarkan yang berjudul"Discovery of HIV and Update on Patophysiology and HIV". dari Profesor Jay A. Levy seorang penemu virus HIV, penyakit penurunan kekebalan (AIDS).

Dokter Levy adalah peneliti kanker dan AIDS dari the School of Medicine di the University of California, San Francisco (UCSF). Sekarang dia guru besar atau professor di the Department of Medicine and research associate pada the Cancer Research Institute. Dia mengepalaui Laboratorium Riset Tumor dan Virus AIDS UCSF. Levy lulus 1960 dari Wesleyan University Connecticut, Amerika Serikat dan mendapat penghargaan Fulbright dan beasiswa dari pemerintah Perancis untuk terlibat riset di Paris.Levy menyabet gelar dokter (MD) pada 1965 dari the College of Physicians and Surgeons Columbia University. Sejak 1965 sampai 1967 bekerja di University of Pennsylvania at Philadelphia.



Sejak 1967 sampai 1970 Levy menjabat staff associate di the National Cancer Institute in Bethesda, Maryland, dimana terlibat penelitian DNA and RNA virus kanker. Pada 1972 Levy menjadi asisten professor di Fakultas Kedokteran at UCSF. Dia juga mendirikan laboratorium untuk virus tumor dan menjadi professor penuh sejak 1985.

Lebih dari 25 tahun Profesor Levy dan para penelitinya berdedikasi dalam penelitian, khususnya AIDS, dan pada 1983 menemukan virus HIV penyebab AIDS. Bukunya yang terkenal HIV and the Pathogenesis of AIDS sudah terbit edisi ketiga. Selain itu dia juga menjadi penulis 14 buku lainnya., Siang itu Profesor Levy yang sederhana berdiri di depan mimbar dan menjelaskan perkembangan terakhir virus HIV dan vaksin yang bisa dikembangkan. Dalam kuliah umum, Profesor Levy berharap vaksin HIV/AIDS bisa terbuat dari tomat, mudah dan banyak yang mau memakannya.

Profesor Zubairi Djoerban, ahli HIV/AIDS Indonesia yang mendampingi Levy siang itu mengaku gembira dengan kedatangan professor peneliti AIDS membagi pengalamannya. “Yang hadir di siini sebagian adalah peneliti,”katanya.

Menurut Zubairi, Profesor levy menceritakan pengalaman dengan teman-teman para peneliti menemukan virus HIV sebagai penyebab AIDS dalam waktu yang relative amat singkat. “Penyakitnya muncul 1981 dan beliau mendapatkan pada 1983 dengan berbagai kesulitan,”ujarnya.

Levy dan para peneliti pada waktu itu memeriksakan virus tersebut harus bekerja di suatu alat yang terisiolasi, alat tersebut rusak perlu 15 ribu dolar US dolar tapi tak ada yang mau memberi sumbangan pada waktu itu. Untuk membetulkannya sampai ke parlemen. Dari situ baru dia mendapat dananya lalu penelitian bisa dilanjutkan dan ketemu virus tersebut. “Yang kita pelajaria adalah betapa gigihnya beliau untuk memperjkuangkan meskipun dana penelitian terbatas meskipun di Amerika Serikat sendiri,”ujar Zubairi

Sedangkan mengenai vaksin-vaksin yang ada meskipun sudah lebih dari 20 tahun penelitian, vaksin ini agaknya makin lama makin cerah. Menurut Levy, bahwa suatu waktu vaksin ini akan ketemu, vaksin yang ketemu ini diharapkan bukan saja membersihkan virus di darah tetapi juga di jaringa-jaringan lain sehingga bisa betul-betul mencegah terinfeksinya virus tersebut. “Hanya saja ada kesulitan yang mungkiin ada timbul adalah vaksin ini harus diulang pemakaianannya bukan satu kali suntik lalu selesai,”kata Zubairi.

Karena itu buat Indonesia, menurut ketua Sentra Layanan Informasi Drugs, HIV/AIDS dan Reproduksi, masih banyak persoalan pertama karena harga vaksin masih akan menjadi masalah. Kecuali dibagikan secara gratis oleh badan kesehatan dunia. “Masalahnya begitu banyak penduduk kita yang tidak terinfeksi kan jauh lebih banyak yang terinfeksi cuma 300 ribu, yang tidak terinfeksi 250 juta lebih bagaimana melakukan vaksinasi pada sekian banyak orang,”ujar Zubairi.

Professor Levy dalam pidatonya juga megharapkan bukan saja kepada orang yang belum terinfeksi tidak terinfeksi, yang sudah terinfeksi virusnya bisa ditekan dengan virus tersebut. “Jadi agar ada juga pengaruh terhadap terapinya,”ujarnya.
Menurut Levy, vaksin biasanya diberikan dalam bentuk suntikan, tapi ternyata bisa dikembangkan ditumbuh-tumbuhan. “Contohnya pada tomat, saya berharap vaksi bisa seperti tomat, mudah dan banyak orang mau memakannya,”ujarnya. Di Indonesia, menurut Zubairi, ada salah satu peneliti yang juga sudah mencobakannya bukan untuk virus HIV tetapi protein lain di tembakau.

Dari ceramah Profesor Levy, menurut Zubairi ada dua pelajaran yang dapat diambil. Pertama , harus gigih memperjuangkan penelitian meskipun dana terbatas. “Stafnya waktu menemukannya hanya dua orang, bukan suatu laboratorium yang besar,”ujarnya. Kedua, harus optimis vaksin ini akan dapat digunakan oleh mansuia dalam waktu tidak terlalu lama. Semoga. (AT)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...