Senin, 21 Juli 2008

Jaga Tulisan!

Beberapa hari setelah seorang panitia menyampaikan undangan diskusi buku seorang kawan yang rajin menulis, Septiawan Santana K, saya bertemu dengan seorang kawan yang ikhlas. Ternyata, kawan lama saya itu kini sudah dipanggil “Habib SBY”. Memang, saat bertemu sudah berkopiah putih, memakai baju ghamis (baju panjang putih khas orang Arab) dan semacam selendang putih.

Saat bertemu sang “habib” itu langsung nyerocos, “masih kerja di dunia jurnalistik, kan?”
Saya mengangguk.
“Tahu apa arti tulisan?”katanya.
“Jaga Tuh Lisan! Nah, jadi kalau nulis jangan sembarangan, sama seperti ngomong (lisan) jangan asal ngejeplak!”
Waduh! K.O, gue.

Nah, judul buku yang kini sekarang kita bahas berkait seperti cerita di atas. Menulis Itu Ibarat Ngomong.

Judul ini bukan sekadar comot atau untuk menarik orang untuk membeli atau membacanya. Tapi sebuah makna yang mendalam, jika kita mau memahaminya. Memang menulis itu adalah terjemahan dari omong-omong, yang disusun berupa huruf-huruf.

Jika omongan hanya berguna untuk yang mendengar (tidak tuli), tulisan bahkan berguna bagi semua orang, juga untuk orang yang buta (bila sudah di-braille-kan), dan bisa dibacakan (di Wyata Guna biasanya adanya relawan reading). Bahkan dengan tingkat buta hruf yang sudah semakin kecil, sebuah tulisan menjadi berguna. Coba lihat, (jika kita mau memperhatikan keadaan sekitar), tukang becak, yang menunggu penumpang, masih membaca sobekan koran.

Maaf, saya pun, jika sedang ke toilet, lebih senang membaca, sampil menunggu pup tuntas. Apa jadinya bila saya bicara sendiri saat “nongkrong”.

Memang, pada masa lalu terkenal sastra lisan. Namun, bisa hilang tanpa jejak bila yang melisankan itu tak ada lagi, atau lupa. Tapi, tulisan, di dinding piramid di Mesir, misalnya, atau dalam peti Yesus, menyisakan ilmu pengetahuan (penelitian dan perkembangan lainnya). (Lihat lampiran tulisan Kuburan Yesus, Menurut Cameron, Majalah Tempo, 11 Maret 2007, hal.114).

Kitab-kitab suci buku-buku hadits atau wahyu, menunjukkan bahwa omongan (sabda) orang-orang “suci” atau “pesuruh” Tuhan perlu dikumpulkan dan dituliskan. Apa jadinya bila sampai saat ini, Al-Qur’an, Injil, Weda, Tripitaka atau lainnya cuma lisan-lisan yang katanya…katanya?

Secara judul saya sepakat Menulis Itu Ibarat Ngomong. Karena tulisan adalah kumpulan omong-omong. Buku yang dikemas secara apik dan trendi (bukan singkatan salah satu calon Walikotan Bandung), tentu akan membuat orang lebih banyak menulis dibanding omong-omong tok. Jika omong-omong cuma menjadi ghost ships (kapal setan)- yang berlayar sekehendak nafsu yang mengatakannya, maka tulisan adalah cara mengerem atau mengendalikannya.

Karena dalam tulisan ada perenungan (kembali) dari sekadar omong-omong. Bisa perenungan yang berasal langsung dari pikiran seseorang atau karena masukan berasal dari referensi yang ia temui kemudian. Prinsip menulis itu ibarat ngomong, memudahkan seseorang untuk mau menulis, seperti mudahnya (selama tak terganggu saluran suaranya) orang itu ngomong.

Berkembangnya blogger kini, menunjukkan bahwa menulis hampir sama kebutuhannya dengan ngomong. Sehingga, nanti tak ada lagi orang yang bilang, “aku gak bisa nulis!”

Menulis bagian dari menjaga omong-omong, Jaga Tuh Lisan!

Mulailah menulis pikiranmu, sekarang juga.

Ahmad Taufik
Untuk diskusi buku Menulis Itu Ibarat Ngomong, Milad Unisba, Bandung, 14 Agustus 2008


Lampiran 1

Kuburan Yesus, Menurut Cameron

Kuburan Yesus Kristus dan sembilan anggota keluarganya ditemukan para pembuat film di Talpiot, Yerusalem. Kontroversi merebak. Bisa jadi, sekadar sensasi.

AHAD lalu, jutaan pasang mata menyaksikan siaran internasional Discovery Channel, siaran khusus film dokumenter penemuan kuburan Yesus Kristus dan keluarganya. Pembuat film Kanada kelahiran Israel, Simcha Jacobovici, dan sutradara asal Hollywood, James Cameron, mengklaim: tulang-belulang dalam peti mati (osarius) yang mereka temukan 27 tahun lalu di Talpiot, Yerusalem, milik Yesus Kristus dan sembilan anggota keluarganya.

Kuburan itu ditemukan saat mereka mendapati sebuah gua ketika membongkar reruntuhan sebuah apartemen di selatan kota tua Yerusalem. Gua tua yang diperkirakan berusia 2.000 tahun lebih itu menyimpan sepuluh peti mati. Pada salah satu peti itu tercantum nama “Yesus putra Yusuf”. Sedangkan pada dua peti lain tercantum nama Maria. Mereka yakin temuan itu adalah peti mati dari Bunda Maria dan Maria Magdalena.

Dalam konferensi pers di New York, Amerika Serikat, Senin pekan lalu, dua insan film itu menyitir prasasti di kuburan yang menunjukkan 6 dari 10 peti itu sebagai peti mati dari Yesus, Bunda Maria, Maria Magdalena, Matius, Josa (Yusuf, saudara Yesus), dan Judah (kemungkinan anak Yesus). Mereka menyertakan arkeolog, ahli statistik, dan spesialis urai golongan darah (DNA) yang memastikan keaslian belulang tersebut. Sudah diperkirakan penayangan itu akan menghebohkan, bahkan bisa mengguncang keyakinan penganut agama Nasrani.

Selama ini dipercayai Yesus tidak dikuburkan dalam peti. Karena Yesus wafat pada Sabtu, dan dalam kepercayaan Yahudi di masa Yesus hidup, Sabtu hari libur, tak mungkin ada pembuat peti mati pada saat itu. Di samping itu, orang Yahudi umumnya tidak pernah memakai peti mati. Jenazah biasa dipikul ke kuburan, di atas tandu sederhana.

Dalam Injil Lukas dan Matius disebutkan pada masa itu ada dua jenis kuburan. Orang biasa dikubur di bawah tanah tanpa memakai tanda. Sedangkan keluarga mampu, seperti Yusuf dari Arimatea, membuat gua yang digali di dalam liang karang. Gua ini dijadikan tempat pemakaman keluarga. Pada saat kuburan keluarga telah penuh dengan tulang-belulang, barulah tulang-belulang itu dipindahkan ke dalam peti batu yang disebut ossuari.

Dalam kitab Injil Matius itu dijelaskan bahwa seorang kaya murid Yesus, Yusuf Arimatea, pergi menghadap penguasa yang menyalib Yesus, Pilatus, meminta mayat gurunya. Yusuf mengkafani mayat Yesus dengan kain putih dan menguburnya di dalam sebuah bukit yang baru digalinya, lantas menutup dengan batu besar.

Bunda Maria dan Maria Magdalena dalam Injil itu dijelaskan duduk di depan kubur itu, hingga akhirnya terjadi gempa bumi yang menggulingkan batu tersebut dan menunjukkan kebesaran Tuhan. Yesus bangkit ke langit, begitulah yang tertulis dalam Injil dan dipercaya umat kristiani.

Menurut teolog asal Jerman, Paul Althaus, dalam Jesus: God and Man, kuburan Yesus tak akan bisa bertahan di Yerusalem selama satu hari, bahkan satu jam. Banyak yang tak menghendakinya. Sebaliknya, menurut Doktor John Crossan, salah satu yang percaya adanya kuburan itu, hukum Romawi pada waktu itu melarang penguburan Yesus. Karena itu, ia dikuburkan di makam tak bernama. Kuburan itulah milik Yusuf Arimatea yang diduga ditemukan Cameron dan kawan-kawan.

Guru besar Universitas Bar-Ilan, yang juga pernah menjadi ketua tim penggalian kuburan itu, Amos Kloner, tak percaya. “Nonsens, dan klaim itu tak berdasarkan bukti. Hanya untuk jualan film tersebut,” katanya. Menurut Kloner, tak ada yang baru dalam film dokumenter itu. “Semuanya sudah dipublikasikan dan tak ada dasar mereka menyatakan makam tersebut identitas Yesus dan keluarganya,” ujarnya.

Apa pun, yang jelas, The Burial Cave of Jesus menimbulkan reaksi di berbagai belahan dunia, seperti halnya film The Da Vinci Code dan The Passion.

Ahmad Taufik (The Jawa Report, Christian News Wire, ChristianAnswer.net, Mangucup.org, Ynetnews)

Senin, 14 Juli 2008

100 Tahun M.Natsir : Membela dengan Akal

Mohammad Natsir saat di Bandung mengelola Majalah Pembela Islam dengan A. Hassan. Adu argumen dengan Bung Karno soal nasionalisme dan Islam.

Gajah mati meninggalkan gading, penulis mati meninggalkan artikel-artikelnya. Mohammad Natsir, yang tahun ini diingatkan 100 tahun kelahirannya, meninggalkan sepenggal sejarah sebagai seorang pengelola majalah, tempat menuangkan pemikiran hasil intelektualitas dan kegelisahannya.

Kepindahannya ke Bandung pada 1927 untuk menuntut ilmu di Algemene Middelbare School (AMS) 2, setingkat Sekolah Menengah Umum (SMU) sekarang mempertemukan M. Natsir dengan guru agama yang mendirikan Organisasi Persatuan Islam (Persis), Ahmad Hassan. Selepas itu, Natsir muda yang menolak beasiswa pemerintah kolonial Belanda meneruskan pendidikan tinggi ke Leiden, malah mengelola Majalah Pembela Islam bersama gurunya.

Majalah seukuran 12 cm x 19 cm yang terbit sebulan sekali, boleh dikata sebagai media yang sarat dengan berbagai perdebatan dan pemikiran. Mulai dari urusan fiqih, petentangan antar aliran agama dan golongan, sampai ke urusan politik dan kebangsaan. Tak heran begitu “beratnya” Madjallah Comite “Pembela Islam” (begitu yang tertulis dalam halaman depannya), semua penulis menggunakan nama samaran atau inisial. Beberapa penulis luar pengelola mencantumkan nama aslinya. Nama-nama penulis yang menggunakan nama inisial antara lain A.H, AL, AM, WS dan MS. Sedangkan penulis luar yang mencantumkan nama asli antara lain Moenawwar Chalil, ulama dari Kendal Jawa Tengah, dan Abikoeso Tjokrosoejoso, aktivis PSII (Partij Sarekat Islam Indonesia).

Nama terang M.Natsir hanya ditemukan sekali dari 71 edisi Pembela Islam, yaitu edisi 66, saat majalah tersebut terbit kembali setelah “tidur” beberapa bulan. Dalam artikel “Didikan Islam” Natsir mencantumkan jabatannya sebagi Ketoea “Pendidian Islam” Bandoeng, tulisannya tampak seperti bahan pidato. Isinya, meminta perhatian para pembaca kaum muslimin untuk memperhatian pelajaran dan pendidikan untuk meningkatkan mutu intelektualitas diri dan bangsa terjajah yang bercita-cita untuk merdeka.

Nama samaan dan inisial pada masa itu, bisa dimaklumi saat bangsa ini sedang bergerak, Indonesia belum menyatakan proklamasi kemerdekaannya. Ancaman hukuman delik pers (pers delict) pengelola dan penulisnya, serta dan penghentian penerbitan sangat mungkin terjadi. Penggunaan nama samaran, menurut Guru Besar Luar Biasa jurusan Sejarah Univeritas Padjadjaran Bandung, Profesor Dadan Wildan Annas, karena kondisi politik saat itu dan untuk menyembunyikan diri dari serangan lawan-lawan politiknya. “Saya kira wajar,”katanya.

Namun, walaupun memakai inisial nama, bisa dilihat dari anatomi tulisan. A.H atau gurunya A.Hassan, umumnya mengulas masalah fiqih, antar aliran Islam dan golongan kaum muslimin. A.H banyak mengkritik kaum alawiyin (Ba”alwi), yang selalu meminta kedudukan lebih tinggi dalam urusan agama Islam. Tampak A.Hassan, sangat pro Al-Irsyad dan kaum Wahabi yang tak sejalan dengan Ar-Rabitah Alawiyin , Ba’alwi dan aliran Islam mazhab Syafii yang banyak dianut di Indonesia.

Sedangkan A,M atau A.Moechlis, nama samaran Natsir, lebih banyak mengulas masalah politik, kebangsaan dan Islam yang lebih luas. Misalnya perdebatannya soal nasionalisme dan Islam dengan Soekarno, saat ayah Megawati itu dibuang ke Ende, sekarang di Nusa Tenggara Timur atau kritiknya terhadap, yang dia sebut kaum bid’ah dalam pergerakan kemerdekaan menuju Indonesia merdeka. Kaum bid’ah yang disebut Natsir yaitu mereka yang suka mengadakan kegiatan maulud, pesta besar khatam Qur’an anak-anaknya dan pesta perkawinan yang berlebih-lebihan. Dalam PSII yang dianggap Natsir banyak bergabung kaum bid’ah juga tak lepas dari kritikannya. Antara lain dalam edisi 62, Pembela Islam, Natsir menulis, “kalau pergerakan politiek Islam membenarkan kaoem ahli bid’ah masoek djadi anggotanya, apakah beda pergerakan politiek Islam ini dengan partij politik jang berasas kebangsaan jang menerima anggotanja dari orang-orang Islam tjap “hanya bibir?”

Menurut Profesor Dadan, tulisan-tulisan Natsir dalam Pembela Islam penuh argumentasi, bahasanya teratur, halus, dan tajam sindirannya. Natsir menempatkan Islam bukanlah semata-mata suatu agama, tetapi juga "pandangan hidup" yang meliputi politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan. “Perbedaan karakter antara tulisan, kalau A. Hasan utamanya kajian tentang keagamanan. Natsir menulis berbagai pemikiran bebas mengulas pergerakan dan politik Islam dalam dan luar negeri. Namun, Natsir selalu meminta ijin gurunya, A. Hassan,”ujarnya.

Memang keras kritik Natsir dan kawan-kawan terhadap kaum nasionalis atau aliran Islam yang tak sejalan dengan pemikiran dan kelompoknya dalam Pembela Islam. Namun, tak sampai menyuruh membunuh, mensesatkan atau meminta satu golongan keluar dari Islam seperti yang terjadi akhir-akhir ini terhadap Ahmadiyah. Termasuk dimotor oleh kumpulan aktivis warisan Natsir, Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII).

Tak jelas kenapa Natsir memilih nama samaran A.Moechlis? Yang terang, anak sulung pasangan Natsir dan Nurnahar, baru lahir 20 Maret 1936, bernama Siti Moechlisah.

Seperti urusan nama samaran, untuk mendapatkan jejak sepenggal sejarah saat Natsir mengelola Pembela Islam sejak 1932 juga tak mudah. Pengurusan Pusat Persis di Bandung (viaduct) yang didatangi Tempo, hanya memiliki foto copy majalah tersebut, mulai edisi 59, dan tak lengkap pula. Ketua Umum PP Persis, Shiddiq Amien berencana menyimpan dan mengumpulkan semua edisi Pembela Islam sejak lama. Bahkan sudah menyiapkan satu ruangan di lantai II untuk menyimpan seluruh koleksi majalah itu. Tapi usahanya tak kunjung selesai. ”Banyak keluarga yang masih tidak rela dan memilih menyimpan (majalah itu) di rumah. Padahal tidak di baca, kalau, disini (di kantor PP Persis) kan, bisa banyak orang yang mengaksesnya,”katanya.

Begitu juga tempat bersejarah saat Pembela Islam dikelola, juga tak bersisa. Dalam majalah itu sampai terbitan ke 65, tertulis alamat pengelola Pembela Islam Jalan Lengkong Besar No.90 Bandung. Saat Tempo menyusuri jalan tersebut dari nomor 88 langsung lompat ke nomor 92. Namun, diantara dua rumah itu ada sebuah rumah dalam gang buntu kecil, tak ada nomornya, Cuma tertulis Panti Pijat Mitra Sehat, di dalam rumah tampak tiga perempuan pemijat berkaos tank top, banyak sepeda motor parkir di tempat itu. Tak seorangpun mau memberikan keterangan pemilik sebelumnya. “Kami tak tahu pak,”ujar salah seorang di tempat itu. Menurut Dedy Rahman, anak perintis Pesantren Persis Jalan Pajagalan, Bandung, Abdurahman, Jalan Lengkong Besar Nomor 90, kini menjadi gedung Universitas Pasundan, setelah sebelumnya pernah menjadi hotel. “Lengkong besar, hanya sebagai tempat tempat pengajian dan berdakwah, semacam kantor surat menyurat majalah Pembela Islam,”kata Dadan.

Kantor Pembela Islam lain yang tercantum dalam majalah mulai edisi 66 tertulis Pangeran Soemedangweg 39 Bandung. Tempat itu kini dikenal sebagai Jalan Oto Iskandar Dinata No 233, menjadi bangunan kantor bank dan sudah dipugar total. “Tempat ini Natsir muda sering berdiskusi dengan A Hasan, Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus, tiga tokoh penting Persatuan Islam,”ujar Dadan.

Majalah itu dijual di luar Indonesia enam nomor seharga f 2.50 dan di dalam negeri f 2, sama dengan tarif kamar kelas I Hotel Pasoendan, Jln. Kwitang 17, Batavia Centrum, yang mengisi iklan pada edisi 66 Pembela Islam.

Dari banyak perbedaan dan diskusi dengan Sukarno, dalam tulisannya di Pembela Islam edisi 59, Natsir sepakat dengannya menentang wanhoopstheorie, yang dianut Soetomo. Menurut Natsir, wanhoop atau pergerakan politik berdasarkan keputusasaan, merugikan. ‘’Karena di dalam keadaan poetoes asa itoe orang melakoekan sesoeatoe dengan tiada mempergoenakan otaknja, fikirannja jang sehat. Orang jang berwanhoop ini tentoe akan membentoerkan kepalanja di dinding.’’

Sebuah sikap dan nasihat yang ditinggalkan Natsir untuk kita semua dan juga tauladan bagi pergerakan Islam tentunya.

Ahmad Taufik, Ahmad Fikri dan Alwan Ridha Ramdani (Bandung)
edisi edit dimuat Tempo 20 Juli 2008
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...